Posted in Selarik Sajak

Pejalan Tua

Pejalan Tua itu tertatih
Napasnya berpadu dalam letih
Menyusuri lorong demi lorong
Kehidupan yang panjang nan gulita
Tangannya keriput
Meraba-raba dinding lorong
Seolah melihat
Padahal pandangan matanya mulai buram

Pejalan Tua masih tertatih
Diantara gulita yang membayang
Tertumpuk segala beban pada pundak
Yang bahkan tak lagi tegak
Kaki-kakinya gemetar
Seolah merintih
Meminta rehat barang sejenak
Di atas lembutnya kulit sang Ibu Bumi

Pejalan Tua itu masih meraba
Kakinya yang tua menendang kerikil-kerikil tajam
Berserakan di sudut lorong nan panjang
Sang Bumi tak lagi ramah
Sang Langit terlalu angkuh
Enggan untuk merendah
Tak ada rumput atau tanah lapang
Tergantikan kerikil nan tajam
Tiada cahaya tiada mata
Tergantikan gelap berselimut gulita
Mengerjapkan mata.

 

Bantaran Code, 2017

Advertisements
Posted in Selarik Sajak

Aku Hanya Sedang Merindu

Dawai senar senja jatuh
Membenamkan jatuhnya daun
Pada batas sang Mentari jingga
Dalam hening ku sapa
Dalam bisu ku peluk
Segenap rindu akan parasmu

Lama sudah aku tak mampu berbahasa
Bahkan hanya sekedar untuk berperibahasa
Untuk melukiskan sebuah kata cinta
Dalam hening penuh makna

Pun lama sudah kita tak bersua
Karena batas dinding udara
Menyekat segala sesuatu dengan nyata
Menggemakan bisu dalam hening
Mengekalkan hening dalam sunyi
Lalu menjadikannya sepi

Izinkan aku sekedar menyapamu
Meski hanya dalam balutan ungkapan kalbu
Bukan aku ingin mengganggu duniamu
Hanya saja
Aku sedang begitu merindu.

Posted in Selarik Sajak

Nada Tak Bersuara

Senada rangkaian nada sendu tak bersuara

Jatuh bersama rinai hujan

Menari menyapa di kala pagi buta

Lalu berirama

Membentuk harmoni penuh simfoni

Menguntai seutas isyarat

Langit pun sedang jatuh hati

Sunyi tanpa kata

Bisu tanpa suara

Namun nada itu nyata

Tak pernah berdusta.

Posted in Selarik Sajak

Biarkan Saja Bunga Itu

Biarkan saja bunga itu
Mekar di bawah siraman cahaya matahari musim semi
Yang jatuh lebih awal di tahun ini
Biarkan saja bunga itu mekar sendiri
Dalam sentuhan lembut sang hening pagi
Di penghujung bulan Mei
Saat mentari sedang jengah tatkala bersembunyi
Kenapa tak Kau biarkan saja bunga itu
Biarkan ia tumbuh lalu mekar dengan keindahannya
Menjadi penghias, menjadi perias
Bagi Dunia yang sudah sunyi
Bahkan ketika angin tak lagi mampu bersiul seorang diri

Posted in Selarik Sajak

Benci

Jangan tinggalkan semangatmu
Jikalau itu adalah bencimu
Nyalakan amarahmu
Biar berkobar dendammu
Membakar dan menghanguskan
Tiap jiwa dalam lingkaran bencimu

Jangan kobarkan asamu
Bila engkau tak mampu mengungkung bencimu

Jangan kau ikat bencimu
Dalam batas sudut sembunyi
Biarkan Dia bebas, biar dia lepas
Biar menerkam jiwa-jiwa yang tak berwelas

Bumbungkan asap bencimu
Karena itulah asa mu
Kebencian adalah jiwamu
Dan dendam adalah raganya.

 

2016

 

Posted in Selarik Sajak

Bagaimana Jika Aku Rindu

Bagaimana jika Aku rindu
Sanggupkah angin itu menghempaskan rinduku
Lalu memelantingnya jatuh dan terpenjara
Dalam sekat kalbu yang membatu

Bagaimana jika aku memang rindu
Sanggupkah rintik rinai hujan
Yang Kau sapa dari balik kaca jendela mu itu
Menghanyutkan rinduku
Menggiringnya menuju samudra
Lalu tenggelam dalam palung bisu

Dan bagaimana jika aku memang rindu
Mampukah matahri itu membakarnya
Lalu menjadikannya abu
Hingga tak berujud rindu itu.

 

2016

Posted in Selarik Sajak

Sajak Kecil Untukmu

Diantara semburat jingga tatkala senja
Terselip sebuah nama dalam sebaris Doa
Mengembara penuh sukda dalam asa

Di dalam lautan yang membiru
Ada sebesit wajahmu yang ayu
Tersenyum simpul menggoda merayu

Pun diantara malam-malam kelabu yang saling berpelukan
Selarik hening bersandar diantaranya
Mengekalkan, membisikkan namamu.