Posted in Selarik Sajak

Sisakan Satu Untukku

Sisakan satu untukku

Roti gandum kecoklatan berisi kumbu

Sebagai pengusir laparku

Tatkala hari turun matahari beradu

 

Sisakan saja satu untukku

Agar perut kecilku ini tak lagi ngilu

Agar malam ku tak lagi sayu

Ketika mata dan bibir ku mulai meracu

 

Tolong sisakan satu untukku

Bukankah Kau sudah menyimpan kue bolu?

Kau ambil dari lemari Tuan Guru

Tatkala Ia sedang mengaji di Surau lalu.

 

Yogya, Mei 2017

Advertisements
Posted in Selarik Sajak

Pejalan Tua

Pejalan Tua itu tertatih
Napasnya berpadu dalam letih
Menyusuri lorong demi lorong
Kehidupan yang panjang nan gulita
Tangannya keriput
Meraba-raba dinding lorong
Seolah melihat
Padahal pandangan matanya mulai buram

Pejalan Tua masih tertatih
Diantara gulita yang membayang
Tertumpuk segala beban pada pundak
Yang bahkan tak lagi tegak
Kaki-kakinya gemetar
Seolah merintih
Meminta rehat barang sejenak
Di atas lembutnya kulit sang Ibu Bumi

Pejalan Tua itu masih meraba
Kakinya yang tua menendang kerikil-kerikil tajam
Berserakan di sudut lorong nan panjang
Sang Bumi tak lagi ramah
Sang Langit terlalu angkuh
Enggan untuk merendah
Tak ada rumput atau tanah lapang
Tergantikan kerikil nan tajam
Tiada cahaya tiada mata
Tergantikan gelap berselimut gulita
Mengerjapkan mata.

 

Bantaran Code, 2017

Posted in Selarik Sajak

Aku Hanya Sedang Merindu

Dawai senar senja jatuh
Membenamkan jatuhnya daun
Pada batas sang Mentari jingga
Dalam hening ku sapa
Dalam bisu ku peluk
Segenap rindu akan parasmu

Lama sudah aku tak mampu berbahasa
Bahkan hanya sekedar untuk berperibahasa
Untuk melukiskan sebuah kata cinta
Dalam hening penuh makna

Pun lama sudah kita tak bersua
Karena batas dinding udara
Menyekat segala sesuatu dengan nyata
Menggemakan bisu dalam hening
Mengekalkan hening dalam sunyi
Lalu menjadikannya sepi

Izinkan aku sekedar menyapamu
Meski hanya dalam balutan ungkapan kalbu
Bukan aku ingin mengganggu duniamu
Hanya saja
Aku sedang begitu merindu.

Posted in Selarik Sajak

Nada Tak Bersuara

Senada rangkaian nada sendu tak bersuara

Jatuh bersama rinai hujan

Menari menyapa di kala pagi buta

Lalu berirama

Membentuk harmoni penuh simfoni

Menguntai seutas isyarat

Langit pun sedang jatuh hati

Sunyi tanpa kata

Bisu tanpa suara

Namun nada itu nyata

Tak pernah berdusta.

Posted in Selarik Sajak

Bagaimana Jika Aku Rindu

Bagaimana jika Aku rindu
Sanggupkah angin itu menghempaskan rinduku
Lalu memelantingnya jatuh dan terpenjara
Dalam sekat kalbu yang membatu

Bagaimana jika aku memang rindu
Sanggupkah rintik rinai hujan
Yang Kau sapa dari balik kaca jendela mu itu
Menghanyutkan rinduku
Menggiringnya menuju samudra
Lalu tenggelam dalam palung bisu

Dan bagaimana jika aku memang rindu
Mampukah matahri itu membakarnya
Lalu menjadikannya abu
Hingga tak berujud rindu itu.

 

2016

Posted in Selarik Sajak

Karena Rindu

Karen rindu tak pernah mengaitkan dirinya pada sang waktu
Maka ia menjadi bebas menyapa kapan pun
Tak peduli tatkala Engkau seorang diri di pagi buta yang kelabu
Ataupun tatkala senja turun dengan anggun ke peraduannya

Karena rindu itu abadi
Tak pernah mati oleh riak percik waktu
Laksana hening
Abadi karena kekosongan

Karena bersama rindu datang sunyi
Seperti cahaya yang selalu datang bersama bayang-bayang
Dan karena sunyi itu abadi
Maka rindu itu kekal
Dalam ruang-waktu
Lalu mengekalkan.

 

Yogya, 2016

Posted in Selarik Sajak

Janji Itu Adalah Aku

Sunyi itu lagi
Hening itu lagi
Datang menyambut suatu pagi
Di pertengahan bulan Juni
Yang datang berhias pelangi

Terik sengat sang Matahari
Mulai meninggi
Seirama burung pagi yang berhenti bernyanyi
Dan hari pun jatuh dalam sunyi
Lalu hening kembali

Pikiran ku kosong
Mengembara pada lorong-lorong
Lalu sunyi tak bermakna

Deru hening nyanyian mu
Menggema diantara batas-batas lorong sunyi

Lalu aku diam menyusuri
Lorong bisa yang telah mati

Diantara langit-langit sunyi
Kutemukan seberkas sepi
Tenggelam dalam inti

Janji itu adalah aku
Abadi
Dalam sunyi
Mengkalkan
Sepi

 

Yogyakarta, 2016