Posted in Selarik Sajak

Sesak Kota Raja

Kuhirup udar Kota Raja
Sesak penuh fatamorgana
Kulihat mereka saling tikam
Hanya untuk selapis roti
Tak mengenyangkan

Kutatap langit tua Kota Raja
Bersih
Tiada mendung tanpa mega
Pula tiada sinar bintang senja
Di atas selapis tipis udara sesak
Penuh realita

Sorot-sorot mata adalah latar
Saksi bagi Tuan Penitah Janji
Tikam menikam dalam sunyi
di atas hati membalut sepi
Tanpa Mentari

Advertisements
Posted in Selarik Sajak

Sisakan Satu Untukku

Sisakan satu untukku

Roti gandum kecoklatan berisi kumbu

Sebagai pengusir laparku

Tatkala hari turun matahari beradu

 

Sisakan saja satu untukku

Agar perut kecilku ini tak lagi ngilu

Agar malam ku tak lagi sayu

Ketika mata dan bibir ku mulai meracu

 

Tolong sisakan satu untukku

Bukankah Kau sudah menyimpan kue bolu?

Kau ambil dari lemari Tuan Guru

Tatkala Ia sedang mengaji di Surau lalu.

 

Yogya, Mei 2017

Posted in Selarik Sajak

Pejalan Tua

Pejalan Tua itu tertatih
Napasnya berpadu dalam letih
Menyusuri lorong demi lorong
Kehidupan yang panjang nan gulita
Tangannya keriput
Meraba-raba dinding lorong
Seolah melihat
Padahal pandangan matanya mulai buram

Pejalan Tua masih tertatih
Diantara gulita yang membayang
Tertumpuk segala beban pada pundak
Yang bahkan tak lagi tegak
Kaki-kakinya gemetar
Seolah merintih
Meminta rehat barang sejenak
Di atas lembutnya kulit sang Ibu Bumi

Pejalan Tua itu masih meraba
Kakinya yang tua menendang kerikil-kerikil tajam
Berserakan di sudut lorong nan panjang
Sang Bumi tak lagi ramah
Sang Langit terlalu angkuh
Enggan untuk merendah
Tak ada rumput atau tanah lapang
Tergantikan kerikil nan tajam
Tiada cahaya tiada mata
Tergantikan gelap berselimut gulita
Mengerjapkan mata.

 

Bantaran Code, 2017

Posted in Selarik Sajak

Aku Hanya Sedang Merindu

Dawai senar senja jatuh
Membenamkan jatuhnya daun
Pada batas sang Mentari jingga
Dalam hening ku sapa
Dalam bisu ku peluk
Segenap rindu akan parasmu

Lama sudah aku tak mampu berbahasa
Bahkan hanya sekedar untuk berperibahasa
Untuk melukiskan sebuah kata cinta
Dalam hening penuh makna

Pun lama sudah kita tak bersua
Karena batas dinding udara
Menyekat segala sesuatu dengan nyata
Menggemakan bisu dalam hening
Mengekalkan hening dalam sunyi
Lalu menjadikannya sepi

Izinkan aku sekedar menyapamu
Meski hanya dalam balutan ungkapan kalbu
Bukan aku ingin mengganggu duniamu
Hanya saja
Aku sedang begitu merindu.

Posted in Selarik Sajak

Nada Tak Bersuara

Senada rangkaian nada sendu tak bersuara

Jatuh bersama rinai hujan

Menari menyapa di kala pagi buta

Lalu berirama

Membentuk harmoni penuh simfoni

Menguntai seutas isyarat

Langit pun sedang jatuh hati

Sunyi tanpa kata

Bisu tanpa suara

Namun nada itu nyata

Tak pernah berdusta.

Posted in Selarik Sajak

Selagi Rindu

Selagi rindu menggelitik dalam suara keheningan
Mengapa tak dibiarkan saja ia tenggelam
Lalu mendekam pada sudut-sudut mata yang terpejam
Larut dalam batas keheningan

Selagi rindu menembus batas-batas lapisan dinding udara
Biarkan saja dia berkelana
Menjelajah sebaris cakrawala yang membentang di antara batas mata
Dan tenggelam dalam suara larut
Debur kesunyian

Selagi rindu itu mengikis asa
Tinggalkan saja segalanya
Termasuk rasa putus asa yang menggelayut diantara
Sudut ruang kepala yang tanpa logika itu.