Cerita Ini Tentang Seorang Penjual Ember

Cerita Ini Tentang Seorang Penjual Ember

Namanya adalah Sardi. Salah seorang pemuda di Desa ku. Badannya tinggi, agak kurus dan kehitaman. Sardi adalah seseorang yang begitu percaya dengan hal-hal magis nan aneh. Kepercayaan itu selalu ia terapkan dalam setiap perjalanan kehidupannya. Karena hal itulah, maka banyak orang-orang di kampungku yang menganggapnya sebagai orang yang “aneh”. Bahkan tidak sedikit yang menyebutnya sebagai seorang yang gila.

Sardi kini menjalani pekerjaannya sebagai seorang Penjual Ember. Tidak, dia tidak menjalani kehidupan ini dari awal. Sebenarnya, Sardi tergolong sebagai seseorang yang cukup cerdas. Bahkan dia pernah menempuh pendidikan di sebuah Universitas Ternama di Kota. Predikatnya sebagai seorang Sarjana, sempat mengantarkan dirinya untuk meniti karir di Ibu Kota. Bertahun-tahun ia menikmati hingar bingar Ibuk Kota yang penuh dengan hedonisme dan hura-hura. Bertahun-tahun pula ia menjadi saksi hidup bagaimana Ibu Kota benar-benar menjadi ajang perselihan dan persaingan yang sangat ketatnya. Seperti ungkapan teori Darwin dalam bukunya yang berjudul The Origin of Species, hanya yang bisa beradaptasilah yang bisa bertahan hidup dalam lingkungannya.

Bukannya Sardi tidak mampu untuk beradaptasi dengan atas Ibu Kota yang terik. Bukan pula ia tak mampu beradaptasi dengan segala bentuk keruwetan yang hinggap dalam hidupnya, buktinya dia mampu bertahun-tahun menjalani hidupnya di Ibu Kota. Bahkan ia sempat mencicipi buah nikmat karirnya di Ibu Kota. Meskipun kulitnya yang kehitaman dan rambutnya yang terlihat agak acak-acakan, namun ia pernah memiliki sebuah mobil Ferrari yang digandrungi oleh gadis-gadis itu. Selain itu, ia juga punya sebidang tanah dan rumah yang terletak di kawasan paling elit di Ibu Kota.

Dua tahun yang lalu, tiba-tiba saja ia menampakkan batang hidungnya di Desa Kami. Di sebuah kampung kecil di pinggir aliran sungai yang membentang dari Pegunungan Utara. Tiba-tiba saja ia pulang. Ku Kira sudah lupa dengan kampung halamannya yang sejuk dan menenangkan ini. Bukan Sardi namanya bila datang dengan tidak membawa berita gempar nan aneh. Ketika pulang, kulihat ia membawa begitu banyak ember. Ya, ember plastik. Jumlahnya bukan hanya ratusan, bahkan menurut taksiranku, jumlah ember itu tak kurang dari dua ribu biji. Jauh-jauh dari Ibu Kota dan ia membawa ember-ember yang entah tak kutahu apa maksudnya.

Semenjak itu, rumah kecilnya yang ada dibagian paling selatan Desa menjadi terlihat penuh sesak oleh kehadiran ember-ember itu. Dan setiap hari, kulihat dirinya lalu-lalang dari dan ke rumah itu sembari membawa ember-ember kesayangannya itu. Kini, dirinya telah menjadi seorang penjual ember. Ia menjual embernya itu dari satu desa ke desa lain, dari satu orang ke orang lain. Dan orang-orang kampungku, tentu saja tidak lepas dari target pasar Sardi yang ingin mengeruk pundi-pundi uang dari kami yang hanya para petani kecil yang tak punya apa-apa selain sepetak bidang sawah warisan para leluhur.

Suatu sore, tatkala aku baru saja pulang dari sawah ku di ujung Desa, aku berpapasan dengan Sardi yang dengan letihnya memilkul ember-ember yang ia jajakan. Raut mukanya yang bergurat, tampak letih penuh keringat.
“Bagaimana penjualan hari ini, Sar?” tanya ku basa-basai sembari menggendong sebonggol singkong yang baru saja ku cabut dari pematang sawahku.
“Ah, seperti biasa Wan,” jawab Sardi singkat. “Selalu sepi.”
Aku tersenyum kecut kepadanya. “Nanti malam datanglah ke rumahku. Istriku memasak agak banyak hari ini, aku juga membawa singkong ini. Datanglah. Kita makan bersama hari ini,”kataku mengajak Sardi.
Dia terkekeh. “Siap. Aku pasti datang Wan,” jawabnya penuh keyakinan sembari membenarkan letak pikulan ember di bahunya.
Malam itu kebetulan purnama sehingga Desa kami terlihat begitu terang karena cahaya rembulan yang menghiasa malam. Dan malam itu, di teras kecil rumahku, Aku dan Sardi duduk sembari menikmati rebusan singkong yang masih mengepulkan asap.
“Istrimu masih terlihat cantik Wan,” katanya basa-basi sembari menelan sepotong singkong warna putih yang ada di tangannya.
“Iyalah,”jawabku singkat.
Percakapan kami tak tentu arah. Hanya kesana dan kesini. Membahas sesuatu yang tidak jelas arah dan juntrungannya. Setelah menghabiskan beberapa potong singkong dan meneguk kopi hitam yang asapnya masih mengepul, akhirnya aku beranikan diri untuk melontarkan pertanyaan yang aku anggap sedikit serius kepada Sardi.
“Sar,” kata ku pelan berusaha meminta perhatiannya. “Kenapa kamu tiba-tiba pulang dan menjadi penjual ember? Bukankah kehidupan mu di Ibu Kota sana lebih menjanjikan. Kau tidak perlu berpanas-panas dan capek-capek untuk mendapatkan uang. Lagi pula, ember mu tidak akan banyak laku di sini. Orang-orang desa tidak banyak yang butuh ember Sar. Lebih-lebih mereka juga tidak punya banyak uang. Kau lihat sendiri kan?”
Sardi beralih menatapku. Lekat. Tatapannya dalam. Aku bahkan berpikir bahwa mungkin saja pertanyaanku itu mengusiknya. Alih-alih marah, ia justru melemparkan sepotong senyum kepada ku. “Mimpi, Wan,” jawabnya singkat dan menggantung.
Jawaban yang sepotong itu membuatku menjadi bingung. Aku hanya menerka-nerka saja kemana arah pembicaraan yang akan diambil Sardi. “Apa maksudmu?”
“Sebelum pulang, aku bermimpi Wan,” katanya mulai bercerita kepadaku. “Dalam mimpi itu, aku akan bisa menjadi orang yang lebih sukses jika aku menjadi seorang penjual Ember. Aku bisa memiliki rumah yang megah bak istana. Jauh lebih besar bila dibandingkan rumahku yang ada di Ibu Kota. Aku juga bisa memiliki banyak mobil mewah, bahkan bisa menyunting seorang Puti dari Kerajaan Tetangga. Dalam mimpiku, aku harus menjual ember berwarna hitam agar keberuntunganku mengalir deras.”
Aku melongo mendengarkan penjelasan Sardi yang cenderung tidak masuk akal itu. “Kamu percaya mentah-mentah mimpi mu itu?” ungkap ku dengan rasa tidak percaya.
Ia hanya mengangguk dan memasukkan sepotong singkong kembali ke dalam mulutnya.
“Edan,”kataku. “Kau berhenti dan meninggalkan Ibu Kota hanya untuk menuruti mimpimu yang tidak masuk akal itu. Memang benar kalau dirimu itu aneh Sar.”
Sardi hanya tersenyum. “Lihat saja nanti Wan,”katanya sambil terkekeh.

Hari-hari di Desaku berjalan seperti biasanya. Rutinitas yang tak berubah. Pergi ke sawah, pulang dari sawah dan lain sebagainya. Jika ada yang berubah, adalah Sardi. Beberapa hari ini, aku tidak melihat batang hidungnya. Aku juga tidak melihatnya keluar masuk Desa sembari memikul ember-embernya yang berwarna hitam itu. Kemana si Sardi, pikirku.
Seminggu sudah berlalu semenjak terakhir kali aku bertemu dengan Sardi di rumahku. Dan semenjak itu, aku tidak lagi bertemu denganya. Aku bahkan tidak melihat batang hidungnya. Setiap aku lewat depan rumahnya, pintunya selalu tertutup. Rasanya ia sudah tidak pulang ke rumah itu. Mungkin ia sudah sadar bahwa pilihannya adalah salah. Mungkin ia sudah kembali ke Ibu Kota untuk meneruskan hidup dan pekerjaannya di sana. Mungkin saja ia sudah menyunting Sang Putri dari Kerajaan Tetangga.
Ternyata pikiran-pikiranku itu salah besar. Tidak satupun dari dugaanku ada yang benar. Pada suatu siang, aku melihat seorang laki-laki tengah bersandar di sebuah Pohon Waru yang ada di sudut Desa. Disampingnya, tergeletak ember-ember dan pikulannya. Tidak salah lagi bahwa pria itu adalah Sardi. Kawan kecilku yang suka percaya pada hal-hal yang tidak semestinya.
“Sar,” kataku setelah aku dekat denganya.
Ia membuka matanya dengan malas-malas.
“Kenapa Kau disini,” tambah ku sembari duduk dan ikut bersandar pada pohon waru itu.
“Aku salah Wan,” kata Sardi mulai bercerita. Tampak mukanya menyuratkan rasa kecewa yang begitu mendalam. Kekecewaan itu terlihat jelas di sudut matanya yang berwarna kecoklatan.
“Kenapa Sar?”
“Aku tidak seharusnya di sini Wan. Aku tidak seharusnya menjadi seorang penjual ember.
“Bukankah yang kamu lakukan adalah sesuai dengan yang ada dalam mimpimu Sar?” sanggahku.
“Aku baru ingat Wa, itu bukan mimpi yang kudapatkan ketika aku tidur. Ketika itu aku sedang mabuk. Aku baru saja selesai pesta. Setelah puas berpesta dan berfoya-foya dengan para wanita, aku jatuh tertidur dan memimpikan sebagai penjual ember,”
“Bukankah itu sama saja Sar,” potongku. “Itu juga adalah sebuah mimpi yang bersumber dari tidurmu?”
“Tidak Wan. Itu dua hal yang berbeda. Semalam, aku kembali bermimpi. Aku bertemu dengan Kakek Tuan Guru. Dia mengatakan kepadaku bahwa aku tidak akan berhasil berjualan ember. Dia bilang aku gila. Aku sinting dan aku mabuk.”
“Jika memang itu adalah salah, bukankah kau masih bisa berhenti dan kembali ke Ibu Kota? Kau punya pekerjaan yang bagus disana. Kau bisa kembali menyusun hidupmu di sana. Bukankah akan lebih baik di sana Sar? Daripada menjadi penjual ember di kampung yang sepi dan miskin ini?”
“Aku sudah gagal Wan. Tidak mungkin aku kembali ke Ibu Kota. Aku juga tidak mungkin kembali pada pekerjaan lamaku. Semuanya sudah hilang Wan,”katanya begitu sedih dan merintih.
“Tidak ada yang tidak mungkin Sar selama kau mau berusaha dengan keras.”
“Tapi sudah tidak mungkin Wan. Tidak akan ada lagi yang mau menerima ku di sana. Tidak ada lagi yang akan mau untuk menggunakan jasa pelayananku lagi di sana. Aku sudah tersingkir Wan.”
“Kenapa mereka tidak akan menerimamu kembali?” tanyaku lebih lanjut.
Ia diam. Sekilas aku melihat keraguan di sorot matanya yang kecoklatan itu. “Aku sudah sakit, sehingga tidak mungkin lagi mereka akan mau menggunakan jasa layananku Wan.”
“Kamu sakit? Kau terlihat baik-baik saja Sar. Lagi pula jasa layanan apa yang kau buka sebagai pekerjaan mu itu?”
“Jasa pemuas nafsu para wanita yang kesepian Wan,” jawab Sardi singkat, jelas dan padat.
Aku melongo mendengar jawaban yang tidak terduga itu. Jawaban yang tidak pernah aku pikirkan. Dan tak mungkin Sardi, si kawan kecilku yang aneh ini jatuh ke lembah hitam seperti itu. Pernyataan itu benar-benar menohok ku. Dunia memag tak selebar daun kelor. Apa yang terlihat, belum tentu mewakili sebuah kebenaran. Pun begitu dengan apa yang sebelumnya aku lihat pada diri Sardi, kawanku sejak kecil. Aku masih tidak percaya bahwa dirinya bekerja sebagai pemuas nafsu para wanita. Pun aku masih belum percaya bahwa ia terkena penyakit yang menjadi momok bagi manusia. Sungguh malang memang. Dunia memang kejam.
Yang tidak bisa bertahan akan mengalami kepunahan. Begitulah inti singkat dari Teori Evolusi Darwin yang kutangkap. Dan Sardi bertahan dengan cara menjadi seorang pemuas nafsu yang bekerja dalam balutan kemewahan dan hura-hura. Pun pada akhirnya dia tidak bisa benar-benar bertahan karena bibit-bibit penyakit pun mulai merangkaki setiap jengkal tubuhnya yang pernah membuatnya jumawa itu.

Advertisements

Mari Berbagi Pemikiran :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s