Senja

Senja adalah hadiah. Senja adalah dongeng penuh dengan segala segala benih keajaiban. Setidaknya begitulah yang selalu terpikirkan dalam benak ku. Tatkala senja turun dalam balutan kemerahan, bagiku ia tengah membuka sebuah lembaran pintu ajaib. Sebuah pintu yang akan membawa ku berkelana. Menembus segala batas cakrawala. Menepis. Mengoyak kerak-kerak ruang dan waktu yang mengikat segala yang terikat.

Hari itu senja kembali menyapa dengan anggunnya. Komposisi yang begitu elegan antara tenggelamnya sinar Matahari, warna jingga yang membentang, serta gemericik suara debur ombak yang seolah bernyanyi dengan begitu riang. Senja itu datang lagi, mengiring segala rindu untuk kembali pulang. Membayang dalam setangkai sarang lalu tenggelam dalam sejuta bayang penuh keindahan.

Senja itu, aku menatap tenggelamnya sang matahari. Membiarkan angan ku tenggelam, lalu membayang bersama ombak yang mendebur menghambur ke arah bibir pantai yang merekah sedikit gelap. Senja jatuh. Tak jua ku temukan pucuk tiang kapal yang akan membawa mu pulang. Pulang ke dalam balutan senja ku yang merona.

“Hari semakin gelap. Kamu tidak pulang,” terdengar seruan itu ditujukan kepadaku.
Aku bergeming. Tatapan ku jatuh kepada bibir sang matahari yang perlahan mulai memagut mencium sang samudra di batas cakrawala.
“Kin, kamu tidak pulang?” seruan itu kembali terdengar samar diantara gemuruhnya angin laut yang menyeruak diantara sayap-sayap burung camar.
Aku masih bergeming. Bayangan itu memudar. Seolah tenggelam bersama dengan senja yang perlahan mulai lenyap. Bak ditelan Raja-Raja Raksasa yang kelaparan. Menyisakan semburat kegelapan yang kini menggantung. Meninggalkan jejak hitam diantara semburat bintang Utara yang tak padam.

“Kin, kamu tidak pulang? Hari semakin tenggelam,” seruan itu terdengar semakin lantang ditelingaku.
Dan aku masih tetap bergeming. Tenggelam dalam lamunan seorang diri. Berusaha untuk menggapai siluet yang membayang dalam bahasa keraguan.
“Untuk apa aku pulang,” gumam ku pelan. “Bukankah esok hari senja akan datang lagi?”

Senja datang, lalu tenggelam. Sesaat kemudian ia berlalu. Terkungkung oleh semburat malam yang kelabu nan membingungkan. Lalu senja pun datang lagi, lalu tenggelam dan kemudian berlalu. Selalu seperti itu. Seperti hujan. Datang menyapa, lalu pergi dan kemudian kembali menyapa di hari berikutnya.

Dan kini senja itu datang lagi. Kembali menyapa lewat selintas sinar surya kemerahan. Di belakangnya, perahu-perahu kecil dengan layar sedikit terkembang mulai merapa kembali ke bibir pantai. Diiring oleh sekumpulan burung camar yang terbang rendah. Sesekali menepuk debur ombak laguna yang tak lagi berwarna kebiruan.

“Kin, sudah hampir larut.” Terdengar seruan itu kembali. Dan aku masih bergeming. Diam. Membisu laksana batuan karang yang bergeming meski tersapu oleh ombak Dewi Samudra.
“Kin, lekas pulang. Senja sudah hampir tenggelam. Sebentar lagi gelap,” terdengar lagi seruan itu.

Aku menoleh sejenak. Mengalihkan pandangan ku dari riuh rendah suara sang ombak. Senja akan selalu turun kembali, pikir ku dalam-dalam sembari menghela napas. Dalam. Dan panjang.

Aku memejamkan kedua mataku. Membiarkan balutan sinar senja menghampiri. Ku biarkan pikiran ku menyatu dalam debur alunan Sang Dewi Samudra. Menyatu dalam garis batas ruang dan waktu. Lalu menelanjangi pikiran-pikiran itu, hanya sekedar untuk menemukan kembali diriku. Yang berdiri di antara batas senja. Berdiam diri. Membisu. Tanpa sepatah suara.

Advertisements

Mari Berbagi Pemikiran :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s