Dentuman Besar

Alam semesta selalu menyajikan hal-hal menarik untuk ditanyakan dan dipikirkan. Pertanyaan mengenai asal-usul alam semesta itu sendiri pun juga mengenai masa depan yang akan dialami olehnya, merupakan beberapa contoh pertanyaan menarik yang patut untuk direnungkan. Pernahkah kita berpikir sejenak mengenai alam semesta yang bahkan batasnya pun tidaklah diketahui oleh manusia?

Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, terdapat sebuah teori yang diterima hingga saat ini sebagai salah satu teori tentang asal-usul alam semesta. Teori tersebut dipandang sebagai salah satu teori yang mumpuni. Teori tersebut biasa disebut sebagai Big Bangatau yang biasa dikenal sebagai Ledakan Akbar atau Dentuman Besar. Berdasarkan kajian Kosmologi, maka teori dentuman besar menjadi salah satu teori yang begitu sukses untuk menjelaskan mengenai asal-usul dan perkembangan alam semesta.

Menurut teori dentuman besar, pada awalnya alam semesta merupakan kumpulan materi-energi yang sangat panas dan memiliki kerapatan yang sangat tinggi, kemudian secara tiba-tiba meledak dan mengembang ke segala arah. Ledakan inilah yang untuk selanjutnya dikenal sebagai dentuman besar.

Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan, didapatkan data dan kesimpulan bahwa alam semesta ternyata memuai atau mengembang. Pemuaian tersebut dimulai dari keadaan alam semesta yang sangat panas dan dengan kerapatan yang sangat tinggi yang kemudian secara perlahan keadaan alam semesta itu mencapai kondisinya seperti yang sekarang. Dan untuk saat ini, alam semesta tidaklah sepanas pada awalnya. Berdasarkan pengukuran dan pengamatan yang dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa peristiwa dentuman besar tersebut terjadi kurang lebih 13,7 milyar tahun yang lalu.

Orang pertama yang dianggap sebagai pencetus mengenai teori dentuman besar ini adalah seorang biarawan Katolik Roma yang bernama Georges Lemaitre. Namun, teori dentuman besar tidaklah dikembangkan oleh hanya satu pihak saja. Perjalanan teori dentuman besar ini sangatlah panjang dan atas dasar sumbangsih dari berbagai pihak yang terlibat, baik dalam sumbangan gagasan filosofis, data hasil pengamatan maupun dalam bentuk gagasan matematis.

Pada tahun 1912, Vesto Slipher adalah orang pertama yang mengukur efek Doopler pada nebula spiral. Efek Doppler secara sederhana dapat diungkapkan sebagai adanya pergeseran baik dalam arah mendekat maupun dalam arah menjauh dari suatu objek terhadap objek lain yang dijadikan sebagai acuan pengamatan. Sedangkan nebula spiran adalah bentuk penamaan lain dari galaksi yang berbentuk spiral.

Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh Vesto Slipher tersebut didapatkan hasil penting bahwa hampir semua nebula-nebula tersebut bergerak menjauhi Bumi. Meskipun ia memperoleh hasil kesimpulan yang cukup penting, namun Vesto Slipher tidak memikirkan secara lebih jauh mengenai implikasi dari hasil pengamatan yang telah ia lakukan tersebut.

Tiga tahun kemudian, sosok Albert Einstein kembali muncul dengan sebuah teori yang begitu fenomenal yakni Teori Relativitas Umum. Dikemudian hari, teori ini menjadi landasan dasar bagi pengembangan dan pengkajian teori kosmologi dan juga alam semesta. Teori relativitas umum membahas mengenai interaksi gravitasi dalam ranah relativistik yakni dalam bentuk sumber medan gravitasi yang sangat besar dan dalam kelajuan yang sangat tinggi.

Sepuluh tahun kemudian, salah seorang kosmologis dan juga matematikawan Rusia bernama Alexander Friedmann berhasil menurunkan bentuk penyelesaian bagi persamaan medan Einstein yang tercantum dalam teori relativitas umum Einstein. Persamaan yang dikemudian hari disebut sebagai persamaan Friedmann tersebut menunjukkan bahwa alam semesta mungkin mengembang dan berlawanan dengan pandangan Einstein tatkala itu yang memandang bahwa alam semesta bersifat statis.

Pada tahun 1927, Edwin Hubble (yang dikemudian hari namanya di abadikan menjadi nama teleskop luar angkasa milik NASA) mengamati bahwa nebula-nebula spiral tersebut tidak lain adalah galaksi lain yang ada di luar galaksi bima sakti. Pengamatan Hubble menunjukkan bahwa setiap galaksi bergerak menjauhi kita (dan menjauhi yang lainnya) dalam kelajuan yang amat tinggi. Semakin jauh galaksi tersebut dari kita, maka akan semakin besar pula kelajuan mereka.

Pada tahun 1927, Georges Lemaitre berhasil menurunkan persamaan Friedmann secara independen dan mengajukan gagasan penting bahwa resesi nebula yang disiratkan dalam persamaan tersebut diakibatkan oleh alam semesta yang mengembang. Dan pada tahun 1929, setelah melalui serangkaian pengamatan, Hubble menemukan hubungan antara jarak dan kecepatan resesi yang untuk selanjutnya disebut sebagai Hukum Hubble.

Dua tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1931, Lemaitre lebih jauh lagi mengajukan gagasan bahwa pengembangan alam semesta seiring dengan berjalannya waktu memerlukan syarat bahwa bila ditarik waktu jauh ke belakang, maka alam semesta haruslah mengerut dan pada awalnya tentulah alam semesta berpusat pada satu titik degaan massa-energi dan suhu yang sangat panas, dan inilah yang disebut Lemaitre sebagai “atom purba”.

Beberapa teori tentang alam semesta pun telah dikembangkan dan diajukan oleh beberapa kalangan tertentu. Namun, teori dentuman besar menjadi satu teori favorit dikalangan ilmuwan karena adanya data-data dan hasil pengamatan yang mengukugkan dentuman besar sebagai sebuah teori yang mumpuni dan relevan mengenai asal usul alam semesta.

Advertisements

Mari Berbagi Pemikiran :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s