Si Kancil Membalas Budi

“tolong. Tolong. Tolong,” teriak si Kancil meminta tolong.

Sepasang Burung Pipit yang tengah sibuk mematuk itu pun berhenti untuk sejenak. “kau dengar itu?” tanya si Burung Pipit betina.

“ya,” jawab si Burung Pipit jantan. “seperti ada yang sedang meminta tolong.”

“tolong. Tolong,” teriak si Kancil itu kembali.

“suara itu berasal dari sisi barat sungai itu,” kata burung Pipit betina.

“ayo lekas kita kesana,” kata burung Pipit jantan.

Sepasang burung Pipit itu kemudian terbang ke arah barat. Keduanya terbang menyebrangi sungai. Melewati rumput dan semak-semak serta ilalang.

“oh kamu Tuan Kancil,” kata si Burung Pipit jantan.

“tolong aku Pak Burung Pipit,” pinta si Kancil. “aku terjerat oleh sulur yang merambat ini. Aku tidak bisa melepaskan diri ku.”

Sepasang Burung Pipit itu terdiam untuk sejenak.

“aku ingin sekali menolong mu Tuan Kancil, tapi paruh-paruh kami tidak cukup kuat untuk mematuk tanaman tersebut dan membebaskan mu,” kata si Burung Pipit Betina.

“apa yang bisa kami lakukan Tuan Kancil?” tambah si Burung Pipit jantan.

Dengan tubuh masih terbaring di atas rerumputan, Kancil itu pun menjawab,” tolong pergilah ke utara hutan ini. Di dekat sebuah sumur tua, ada seekor Tikus Hitam teman ku. Ajaklah dia kemari. Giginya sangat kuat. Pasti bisa melepaskan aku dari ikatan ini.”

“baiklah Tuan Kancil,” jawab si Burung Pipit jantan.

Kedua burung Pipit itu pun kemudian terbang ke arah utara. Meninggalkan si Kancil yang masih terikat dan terbaring di atas rerumputan. Kedua burung pipit itu terus terbang ke utara. Melewati beberapa semak dan pepohonan. Tak lama kemudian, sampailah kedua burung Pipit tersebut pada sebuah sumur tua di pinggir hutan.

“Tuan Tikus Hitam,” panggil si Burung Pipit jantan. “Tuan Tikus Hitam.”

Sepasang Burung Pipit itu memanggil si Tikus Hitam beberapa kali. Namun, Tikus Hitam itu tidak juga keluar. Sepasang Burung Pipit yang sedikit kebingungan itu pun menoleh kesana-kemari.

“Tuan Tikus Hitam,” panggil si Burung Pipit Jantan itu kembali.

Tiba-tiba, dari balik semak-semak yang berwarna hijau, seekor Tikus dengan bulu berwarna hitam muncul. “ada apa wahai Burung Pipit?” tanya Tikus Hitam.

“ikutlah dengan ku Tuan Tikus Hitam,” kata Burung Pipit jantan.

“kemana?” jawab Tikus Hitam singkat.

“ke arah selatan hutan ini,” jawab Burung Pipit jantan. “Tuan Kancil membutuhkan pertolongan mu. Dia sedang terjerat oleh sulur dan tidak bisa melepaskan diri.”

“baiklah,” jawab Tikus Hitam. “ayo segera kita tolong si Kancil.”

Kemudian, sepasang Burung Pipit dan si Tikus hitam itu menuju ke tempat si Kancil yang masih terikat. Setelah beberapa saat melakukan perjalanan, akhirnya mereka sampai ke tempat si Kancil.

“kenapa kamu bisa terjebak seperti ini Cil?” tanya si Tikus Hitam.

“aku tadi tidak melihat,” jawab si Kancil singkat. “tolong bebaskan aku dari sini Tikus.”

Tanpa perlu disuruh untuk yang kedua kalinya, Tikus Hitam itu pun segera menggigit jerat-jerat yang mengikat tubuh si Kancil. Sedikit demi sedikit, jerat tersebut putus karena digigit oleh si Tikus. Hingga akhirnya si Kancil pun bisa bebas. Tidak lagi terikat dan terjerat.

“terima kasih Tikus,” kata si Kancil dengan sangat gembira.

Tikus hitam itu hanya mengangguk. “sama-sama Cil. Kita harus saling menolong dan membantu,” jawab si Tikus.

“terima kasih juga Burung Pipit,” kata Kancil dengan riang. “kalian telah menolong ku. Aku sangat berterima kasih kepada mu. Suatu saat aku pasti akan membalas kebaikan kalian.”

“tidak usah dipikirkan Tuan Kancil,” jawab si Burung Pipit. “benar kata Tuan Tikus. Kita harus saling menolong.”

“sekali lagi terima kasih wahai Burung Pipit,” kata si Kancil kembali.

Sepasang Burung Pipit itu hanya menggangguk.

“kamu sudah bebas. Sekarang kami akan pergi Tuan Kancil,” kata si Burung Pipit kembali.

“baiklah,” kata si Kancil dengan senang hati. “berhati-hatilah kalian.”

Kemudian, sepasang Burung Pipit itu pun kembali terbang meninggalkan si Kancil dan si Tikus hitam. Kedua Burung Pipit tersebut terbang ke arah selatan.

Hari telah berganti. Kurang lebih telah dua bulan semenjak si Burung Pipit menolong si Kancil. Kini si Kancil tengah berjalan-jalan di sekitar ladang jagung untuk mencari makanan. Ia berjalan kesana-kemari. Menyusuri ladang yang penuh dengan tanaman jagung. Ia mengendap-endap agar tidak ketahuan oleh Pak Tani dan para penduduk desa.

Setelah berjalan kesana-kemari, sampailah ia di pinggir ladang jagung. Ia melihat seekor burung yang tengah bersedih. Wajahnya terlihat murung. Perlahan, si Kancil mendekat ke arah si Burung tersebut.

“bukankah kamu adalah Burung Pipit yang dulu telah menolong ku,” kata si Kancil setelah berdiri di dekat si Burung.

Sepasang Burung itu pun menengok. “Tuan Kancil, kenapa sampai disini?” tanya si Burung Pipit betina.

“aku sedang mencari makan,” jawab si Kancil. “kenapa kalian terlihat murung?”

“begini Tuan Kancil,” kata si Burung Pipit Betina. “besok pagi, jagung-jagung di ladang ini akan di panen. Dan tiga anak kami belum bisa terbang, karena bulu-bulunya belum tumbuh sempurna. Mereka pasti akan menangkapnya. Dan kami tidak mungkin meninggalkan anak-anak kami yang masih kecil itu.”

Si Kancil terdiam. Wajahnya menunduk. Memandangi kedua kakinya yang berwarna kecoklatan. “berapa lama sampai anak-anak kalian dapat terbang dari sarang?” tanya si Kancil.

“seminggu lagi mereka akan dapat terbang,” jawab si Burung Pipit.

“baiklah. Aku akan menolong kalian. Mulai besok, hingga seminggu ke depan, aku akan berlari-lari di ladang jagung ini. Aku akan mengecoh para Petani agar mereka mengejar ku dan tidak jadi untuk memanen jagung-jagung ini,” kata si Kancil.

“tapi mereka bisa menangkap mu Tuan Kancil,” kata Burung Pipit dengan penuh khawatir.

“jangan khawatir wahai Burung Pipit. Aku ini si Kancil yang cerdik dan cepat. Mereka pasti tidak akan bisa menangkap ku,” kata si kancil sambil membusungkan dadanya.

Keesokan harinya, para petani dari desa telah rama-ramai berjalan menuju ke Ladang Jagung. Dengan membawa sabit, cangkul dan keranjang, mereka hendak memanen jagung-jagung yang telah menua itu.

Saat hendak memanen jagung, tiba-tiba si Kancil muncul. Kemudian berlari-lari disekitar para petani. “itu si Kancil,” teriak salah seorang Pak Tani. “ayo kita tangkap.”

Kemudian, para petani itu pun ramai-ramai berlari mengejar si Kancil. Si Kancil berlari kesana-kemari. Keluar masuk tanaman jagung. Ketika para petani itu tidak melihat si Kancil, maka Kancil itu kembali menunjukkan dirinya. Sehingga para Petani itu akan kembali mengejar si Kancil. Ketika para Petani itu berhenti mengejar si Kancil, maka si kancil berlari dengan pelan-pelan hingga kembali terlihat oleh para petani itu. Begitu seterusnya.

Tak terasa sudah hari ketujuh si Kancil terus mengganggu para Petani. Dan setelah hari ketujuh pun anak-anak burung pipit itu telah memiliki bulu-bulu yang sempurna. Sehingga, ketiga anak burung pipit tersebut sudah bisa terbang seperti induknya.

“ah sepertinya sudah tujuh hari aku berlarian mengganggu para petani itu, pasti si Burung Pipit itu telah bisa pergi dari sarang mereka,” kata si Kancil pelan.

Akhirnya, setelah tujuh hari, si Kancil itu tidak lagi menampakkan dirinya di ladang jagung tersebut. Tidak lagi mengganggu para petani yang hendak memanen jagung-jagung mereka.

“kemana si Kancil itu?” tanya salah satu Petani.

“sudahlah. Mungkin ia telah pergi. Ayo kita panen saja jagung kita ini,” kata Petani yang lain.

Para Pak Tani itu pun segera memanen jagung-jagung mereka.

Dari kejauhan, si Kancil hanya melihat para Pak Tani memanen jagung-jagung mereka. “semoga Burung-burung Pipit itu telah pergi,” kata si Kancil.

Si Kancil pun berjalan sendirian ke selatan. Kembali memasuki hutan yang penuh dengan pepohonan. Menyusuri jalan-jalan setapak yang ditumbuhi oleh rerumputan kecil.

Setelah beberapa hari berjalan, akhirnya si Kancil tiba di sebuah mata air yang jernih. Ia hendak minum air di tempat itu.

“Tuan Kancil.”

Kancil pun menoleh. “oh kalian Burung Pipit,” kata si Kancil.

“iya Tuan Kancil,” jawab Burung Pipit. “berkat pertolongan mu, kami bisa pergi dari ladang jagung itu. Begitu juga dengan anak-anak kami. Sudah bisa terbang dan meninggalkan sarang. Terima kasih Tuan Kancil.”

“syukurlah,” jawab si Kancil. “aku turut senang.”

“anak-anak, ini adalah Tuan Kancil yang telah menolong kita,” kata si Burung Pipit. “ayo bilang terima kasih kepada Paman Kancil.”

Dengan sedikit malu-malu, ketiga anak Burung Pipit itu pun berkata,” terima kasih Paman Kancil. Kami tidak akan melupakan kebaikan mu.”

Si Kancil hanya tersenyum. “sama-sama anak-anak. Kita harus senantiasa saling menolong. Ingatlah, dimana pun kalian berada, kalian harus saling menolong kepada siapa pun yang membutuhkan pertolongan. Menolonglah dengan ikhlas, dan jangan mengharapkan balasan atau imbalan.”

“baik Paman Kancil,” jawab ketiga anak burung Pipit itu dengan serentak.

Advertisements

Mari Berbagi Pemikiran :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s