Bola Kristal

Tulisan ini disadur dari salah satu dongeng buah karya dari sang maestro dongeng, Grimm Bersaudara. Diceritakan dan ditulis ulang dengan sedikit gubahan dan tambahan serta penyesuaian terhadap karya tersebut.

 

Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang Penyihir. Penyihir tersebut memiliki tiga orang anak laki-laki. Ketiga anak laki-laki itu saling menyayangi antara satu dan lainnya. Mereka begitu akrab dan saling menjaga serta senantiasa membantu satu dan lainnya.

Namun, ibu mereka yang merupakan seorang penyihir, memiliki ketakutan jika suatu saat nanti, salah satu dari ketiga orang anaknya itu akan mencuri kekuatan sihir yang ia miliki. Oleh karena itu, Penyihir itu merencanakan sesuatu kepada tiga orang anaknya. Dengan kekuatan sihir yang ia miliki, maka Penyihir itu mengubah anak pertamanya menjadi seekor Elang. Elang itu setiap hari terbang di kaki-kaki langit dan hidup di sebuah pegunungan di sisi selatan rumah Penyihir tersebut.

Anak kedua dari Penyihir tersebut, diubah menjadi seekor ikan Paus. Ikan Paus tersebut hidup di lautan nan luas. Setiap hari ia berenang kesana-kemari. Kemudian sesekali ia menyemburkan gumpalan air raksasa ke udara.

Putra ketiga yang merasa takut dengan kekuatan Ibunya, diam-diam berusaha untuk melarikan diri. Menghindari kekuatan sihir ibunya yang mungkin akan mengubahnya menjadi seekor binatang buas. Maka berjalanlah Putra ketiga tersebut menyusuri hutan, ladang, dan perkampungan.

Hingga pada suatu hari, Putra ketiga tersebut sampai pada sebuah kerajaan besar. Putra ketiga tersebut menetap beberapa saat di Kerajaan tersebut. Ia beristirahat dan berusaha untuk melepas lelah setelah melakukan perjalanan panjang. Ketika berada di kerajaan tersebut, sang Putra ketiga itu mendengar berita besar. Seorang Putri raja kerajaan, telah diculik oleh seorang penyihir jahat dan mengurung Sang Putri di Istana Matahari. Menurut cerita yang beredar dari mulut ke mulut, putri yang diculik tersebut tengah menunggu datangnya bantuan yang akan menolongnya. Disampaikan pula bahwa, banyak yang telah berusaha menolong Sang Putri, namun belum ada satu pun yang berhasil.

Dengan hati dan keyakinan yang mantap, Putra ketiga tersebut hendak menolong sang Putri raja. Mempertaruhkan segalanya. Sang Putra ketiga itu pun kemudian kembali melakukan perjalanan panjang. Berusaha untuk mencari keberadaan Istana Matahari. Berhari-hari ia berjalan. Melewati hutan yang penuh binatang buas. Menyebrangi sungai yang jernih airnya, hingga mendaki dan menuruni bukit serta pegunungan. Namun ia masih belum mampu untuk menemukan keberadaan Istana Matahari.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, Putra ketiga itu sampailah pada sebuah hutan yang sangat lebat. Pohon-pohonnya menjulang cukup tinggi. Daun-daunnya rimbun. Dan batang-batang pohonnya cukup besar. Perlahan demi perlahan, Putra ketiga itu melangkahkan kaki. Memasuki hutan yang asing itu. Sesekali, kakinya menginjak ranting-ranting kering. Suara ranting yang patah terinjak itu memecah keheningan yang ada di Hutan.

Setelah beberapa langkah ia berjalan, sampailah putra ketiga itu pada sebuah batu besar berwarna hitam. Dari tempat ia berdiri tersebut, ia melihat dua orang raksasa. Raksasa itu melambaikan tangan ke arah Putra ketiga. Memintanya untuk mendekat ke arah Sang Raksasa. Dengan perasaan sedikit takut dan was-was, putra ketiga itu pun berjalan. Mendekat ke arah dua orang raksasa yang tadi memanggilnya.

Tak lama kemudian, Putra ketiga itu telah berdiri tak jauh dari kaki dua orang raksasa tersebut. Dengan sedikit gemetar, Putra ketiga itu berkata,”wahai Raksasa yang baik dan murah hati, mengapa Engkau memanggil ku kemari?”

Salah satu dari dua Raksasa tersebut kemudian menjawab,” kami sedang bertengkar dan berselisih mengenai topi ini. Kami bertengkar siapa yang lebih pantas untuk memakai topi ini, karena kami berdua sama kuatnya, tidak ada yang lebih kuat diantara kami berdua. Dan kami tidak mungkin berkelahi, karena sudah pasti tidak ada pemenangnya diantara kami.”

“lalu?” tanya putra ketiga itu kembali.

Sang Raksasa lainnya pun menimpali,” kalian para manusia kecil jauh lebih pandai daripada kami. Oleh karena itu, kami meminta mu untuk memutuskan siapa yang lebih pantas untuk mengenakan topi ini.”

“kalian berdua berselisih hanya karena masalah topi jelek, hitam dan kumal itu?” tanya Sang Putra ketiga lagi.

Sang Raksasa kembali menjawab,” ini bukan topi biasa. Ini adalah sebuah topi ajaib wahai Manusia kecil. Barang siapa yang mengenakan topi ini, maka semua keinginannya bisa terkabul dan terpenuhi. Barang siapa yang memakai topi ini, dan berharap untuk pergi ke suatu tempat yang jauh, maka topi ini akan selalu mengabulkan permintaan pemakainya.”

Sang Putra ketiga itu terdiam untuk sesaat. Wajahnya menunduk. Memandangi kedua sepatunya yang hitam. Wajahnya terlihat tengah berpikir keras untuk menyelesaikan masalah tersebut.

“berikan topi itu kepada ku,” kata Putra ketiga itu sembari mendongakkan wajah ke arah Sang Raksasa. “aku akan membawa topi itu ke sebuah batu hitam besar yang ada dibawah pohon besar itu. Lalu, kalian harus berlomba lari. Siapa yang pertama datang sampai ketempatku berdiri, maka dialah yang pantas untuk mengenakan topi ajaib tersebut.”

Kedua raksasa itu pun mengangguk tanda setuju dengan usul dari Putra ketiga tersebut.

Dengan membawa topi ajaib itu, Putra ketiga itu pun berjalan menuju ke sebuah batu hitam besar. Ia mengenakan topi itu di kepalanya. Sambil terus berjalan, Putra ketiga itu terus memikirkan nasib Sang Putri raja yang tengah ditawan di Istana Matahari.

Tiba-tiba, sang Putra ketiga itu berguman lirih. “Ah, seandainya saja aku berada di Istana Matahari.”

Dengan sekejap, Putra ketiga tersebut telah berada di sebuah lereng bukit yang menghijau. Tepat di hadapannya, berdiri sebuah pintu gerbang kokoh nan megah. Rupanya itu adalah sebuah pintu gerbang Istana. Istana Matahari tepatnya.

Putra ketiga itu terus berjalan. Memasuki kompleks Istana Matahari yang membentang cukup luas. Setelah memasuki Istana Matahari, Sang Putra ketiga itu pun menggeledah setiap kamar yang ada dalam istana tersebut. Berusaha untuk mencari dan menemukan Putri Sang Raja. Tepat dilantai paling atas, ia menemukan sebuah kamar. Tepat di dalam kamar tersebut, terbaring seorang perempuan dengan wajah yang keriput, rambut kumal, dan mata yang terlihat merah.

“apakah kamu adalah Sang Putri Raja yang kecantikannya terkenal itu?” tanya sang putra ketiga pada sosok perempuan yang tengah berbaring di atas tempat tidur.

“benar. Itu adalah aku. Tapi ini bukanlah wujudku yang sebenarnya. Penyhir jahat itu mengubah ku ke dalam wujud seperti ini. Aku akan dapat kembali ke wujudku yang sebenarnya, jika saja Penyihir itu kehilangan kekuatannya,” jawab Putri Sang Raja.

“bagaimana cara untuk menghilangkan kekuatan Penyihir itu?” tanya sang Putra ketiga kembali.

Tuan Putri itu pun kembali berkata,” ketahuilah wahai pemuda, tidak mudah untuk menghilangkan kekuatan Penyihir itu. Sudah banyak yang berusaha, namun belum ada yang berhasil. Engkau masih muda, tidak ada keharusan untuk mu menolongku.”

“tapi aku ingin tetap menolong mu,” jawab Putra ketiga itu dengan tegas dan yakin.

Sang Putri diam untuk sesaat. “baiklah, aku akan memberitahu caranya kepada mu,” jawab Sang Putri raja tersebut. “ketahuilah wahai pemuda, tepat dibawah bukit ini, ada sebuah mata air yang dijaga oleh seekor Banteng liar yang sangat kuat. Engkau harus bertarung dengannya. Kau harus membunuh Banteng tersebut. Karena setelah Banteng tersebut terbunuh, maka seekor Burung Api yang mencengkram Telur Api akan keluar. Telur Api tersebut berwarna merah membara. Burung Api tersebut tidak akan membiarkan siapa pun untuk mengambil telurnya itu. Engkau harus membunuh Burung Api tersebut, agar ia menjatuhkan Telur Api tersebut. Namun engkau harus tahu bahwa ketika telur api tersebut jatuh, mka ia akan membakar apapun yang ada di atas tanah. Berhati-hatilah. Di dalam telur api tersebut, terdapat sebuah bola Kristal ajaib. Setelah engkau mendapatkan bola Kristal ajaib tersebut, kau harus mengacungkan bola Kristal tersebut ke hadapan Sang Penyihir. Maka kekuatan Penyihir itu akan lenyap dan aku akan bisa berubah kembali ke wujud ku yang semula.”

Putra ketiga itu pun pergi menuruni bukit. Berusaha untuk mencari mata air yang tengah dijaga oleh seekor Banteng. Tepat dibawah kaki bukit, Putra ketiga itu menemukan sebuah Banteng liar yang tengah berdiri di samping sebuag mata air. Putra ketiga itu pun berkelahi dengan Banteng liar tersebut. Setelah melalui perkelahian sengit dan perjuangan yang panjang, akhirnya Putra ketiga itu mampu menusukkan pedang tepat ke Banteng liar tersebut. Tak berselang lama, Banteng itu pun kemudia mati.

Tepat setelah Banteng liar penjaga mata air tersebut mati, muncullah seekor Burung Api. Burung itu mencengkram sebuah telur berwarna merah membara pada cakarnya. Ia berusaha untuk terbang menjauh. Menghindari putra ketiga yang tengah berusaha untuk mengejarnya.

Tiba-tiba, dari balik barisan awan yang memutih, seekor Elang terbang menukik dengan tajam. Elang tersebut adalah kakak pertama dari putra ketiga. Elang tersebut tepat menabrak Burung Api. Dengan hantaman yang cukup keras tersebut, Burung Api tersebut jatuh ke lautan. Namun, telur api yang ia cengkram tersebut tidak jatuh ke dalam lautan. Melainkan jatuh ke subuah gubuk milik nelayan yang dibangun tepat di pantai. Dengan sekejap, gubuk milik nelayan tersebut menjadi terbakar. Api menyala. Berkobar-kobar.

Tak berapa lama kemudia, muncullah sebuah ombak raksasa dari laut. Ombak tersebut menyapu gubuk nelayan yang terbakar. Kemudian memadamkan apinya. Rupanya, ombak besar dari lautan itu, ditimbulkan oleh Ikan Paus yang merupakan kakak kedua dari Sang Putra ketiga. Setelah nyala api pada gubuk nelayan itu padam, maka Sang Putra ketiga itu pun mengambil Telur Api yang jatuh di gubuk nelayan. Telur api yang berwana merah itu telah retak karena hawa panas yang dengan seketika terkena oleh hawa dingin.

Putra ketiga itu pun tidak membuang waktu. Dengan sigap, ia segera mengambil Bola Kristal ajaib yang ada di dalam telur api tersebut. Kemudian, ia kembali berlari menuju ke Istana Matahari.  Mencari dan menghadap sang Penyihir. Kemudian, ia mengacungkan Bola Kristal ajaib tersebut ke arah sang penyihir.

Sang Penyihir kemudian berkata,” kekuatan sihir ku telah lenyap. Sekarang, Sang Putri Raja itu telah kembali ke wujudnya yang semula. Begitu juga dengan kedua kakak mu. Mereka berdua telah kembali menjadi manusia seperti mu. Dengan kekuatan sihir ku yang telah hancur, maka sekarang kau lah yang akan menjadi Raja di Istana Matahari ini.”

Sang Putra ketiga pun bergegas untuk menemui Sang Putri. Di dalam kamar tempat Putri itu terbaring, Sang Putra ketiga menemukan seorang perempuan yang cantik jelita, dengan rambut hitam legam panjang. Sang Putri itu menampilkan segala bentuk kecantikan dan jua keindahan.

Tidak lama kemudian, sang putra ketiga itu pun menikahi sang Putri. Keduanya hidup dan tinggal di Istana Matahari. Berdua mereka membangun kehidupan dan menjalankan roda kehidupan dan pemerintahan di Istana Matahari. . Keduanya pun hidup dengan bahagia. Untuk selamanya.

Advertisements

Mari Berbagi Pemikiran :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s