Celoteh Tentang Waktu

Sejak kapan manusia-manusia mulai mengukur tentang hari-harinya? Mengukur tentang lamanya bayang-bayang pepohonan yang menghilang? Ataupun mengukur apa yang sekarang ini kita sebut sebagai ‘waktu’?

Entahlah. Sepertinya tidak ada kepastian mengenai hal tersebut. Tidak ada yang tahu kapan untuk pertama kalinya manusia mulai mengukur yang namanya ‘waktu’. Dan entah pula siapa yang mulai mengukurnya untuk pertama kali.  Mungkin saja orang-orang dari peradaban Babilonia Kuno atau entah bisa saja orang-orang dari peradaban-peradaban yang jauh lebih kuno yang belum kita ketahui untuk saat ini.

Sejak manusia mengenal konsep tentang ‘waktu’, sepertinya segala sesuatunya menjadi terbatas dan juga terikat. manusia-manusia mulai menghitung-hitung tentang waktu. Dalam benak dan otak-otak manusia telah penuh sesak dengan hitungan-hitungan tentang ‘waktu’. Jam sekian harus bangun, kemudian waktu berikutnya harus sarapan dan lain sebagainya dan lain sebagainya. Semua selalu berkaitan dengan waktu.

Waktu memang tidak pernah bisa dibebaskan dari konsep eksistensi manusia. Tapi benarkah menghitung-hitung waktu itu menjadi sesuatu yang begitu penting dan esensial bagi kehidupan kita sebagai seorang manusia?  Menghitung-hitung tentang waktu memang penting. Namun hal yang lebih penting adalah menghargai setiap momen tersebut dengan sepenuh hati. Sepertinya hal tersebut akan menjadi salah satu bentuk syukur yang paling tepat dan sesuai daripada hanya sekadar untuk menghitung-hitung tentang waktu.

Menghargai momen dengan sepenuh hati, setidaknya akan menuntun pada usaha untuk menjalani kehidupan ini dengan sebaik-baiknya. Tanpa beban, tanpa rasa gelisah ataupun khawatir mengenai waktu-waktu yang terbuang sia-sia. Hargai momen saat ini karena kau tidak akan menemukan hal yang serupa pada detik berikutnya. Setidaknya hal inilah yang seharusnya dijadikan pijakan utama dalam menyikapi mengenai konsep tentang waktu.

Tidak sedikit yang terlena sehingga mereka cenderung untu mengabaikan momen-momen mereka. Seolah melepaskan begitu sja momen-momen itu tanpa pernah menyadari bahwa hal tersebut belum tentu akan terjadi kembali pada detik-detik berikutnya. Dan kemudian sesal menjadi satu-satunya selimut penghangat kehidupan yang membalut sepanjang waktu. Maka ingatlah bahwa sesal kemudian tidaklah berguna.

Terkadang sesekali terbesit pikiran nakal dan usil dalam benak ini. Bagaimana jadinya apabila konsep waktu tidak pernah dikenal oleh manusia? Tidak ada bayang-bayang mengenai detik, menit, jam atau bahkan jam sekalipun. Maka apakah yang mungkin akan dialami oleh manusia? Tanpa perlu memikirkan jam berpa harus masuk kantor, jam berapa harus masuk sekolah dan lain sebagainya. Kira-kira apakah manusia akan bisa menjalani kehidupannya dengan lebih damai bila dibandingkan ketika mereka mengenal tentang konsep-konsep tentang waktu? Entahlah. Mari kita pikir dan renungkan secara bersama-sama.

Advertisements

Mari Berbagi Pemikiran :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s