Tentang Seni Berpikir

 

 

filsuf

Aku Berpikir, Maka Aku Ada.

Réne Descartes

            Penggalan kalimat itu mungkin tidak terlalu asing dalam telinga kita, terutama bagi pihak-pihak yang berkecimpung dalam dunia filsafat. Secara tidak langsung, ungkapan kalimat di atas menyiratkan tentang sebuah eksistensi atau keberadaan dari pihak yang bersangkutan. Ya, eksistensinya di dunia yang beraneka rupa ini.

Menyinggung masalah filsafat berarti menyinggung tentang sebuah pemikiran, sebuah cara berpikir dan ataupun sebuah cara pandang terhadap sesuatu. Kurang lebih seperti itu. Filsafat atau filosofi, menjadi salah satu akar yang begitu penting dan menunjang dalam berkembangnya berbagai cabang ilmu pengetahuan. Matematika, fisika, ilmu kehidupan social, hingga bahkan tentang kosmologi dan kedokteran pun pada awalnya tak bisa lepas dari akar pemikiran para filsuf pada awalnya.

Begitu banyak para filsuf yang telah menyumbangkan gagasan dan ide-ide mereka pada ranah perkembangan berbagai ilmu pengetahuan yang menunjang kehidupan umat manusia secara luas. Siapa yang tidak mengenal Aristoteles? Plato? Thales? Imanuel Kant? Newton dan atau bahkan Albert Einstein?  Mereka yang telah disebutkan di atas merupakan segelintir pemikir-pemikir (filsuf) yang begitu fenomenal di abad mereka masing-masing.

Filsafat adalah tentang seni berpikir. Berpikir di luar kungkungan kotak yang membatasi daya imajinasi manusia. Berpikir dengan titik acuan sudut yang berbeda, dan berpikir dengan menggunakan cara yang berbeda, serta berpikir berbeda dari kebanyakan manusia-manusia lainnya. M enyinggung masalah seni berpikir, ada sebuah pertanyaan menarik yakni, “mengapa mereka para filsuf besar di era mereka dapat mencapai tataran pemikiran yang begitu mendalam akan suatu persoalan sehingga dapat melahirkan karya-karya yang luar biasa? Apakah itu sebuah anugrah (gift)?”

Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya bahwa filsafat adalah tentang seni berpikir, maka tentu saja kedalaman tahapan pemikiran seorang individu itu bukanlah merupakan sebuah anugerah semata. Terdapat usaha dan kerja keras untuk mencapai tataran kedalaman pemikiran yang seperti itu. Layaknya seni-seni lainnya, semisal seni rupa, bahwa hasil karya buah tangan dari para perupa tersebut bukan hanya atas dasar anugerah semata, namun ada kerja keras, usaha dan juga konsistensi dalam usaha mereka untuk menghasilkan sebuah maha-karya yang memiliki citarasa dan kedalaman yang luar biasa. Hal itu tentu saja juga berlaku pada ranah filsafat yang merupakan seni berpikir. Untuk mencapai tahap dan tataran pemikiran yang mendalam sehingga memunculkan sebuah hasil pemikiran yang luar biasa, diperlukan kerja keras dan juga proses yang tidak sebentar.

Sebagai salah satu contoh sederhana, tengoklah Albert Einstein ketika berusaha merumuskan teori gravitasi yang berlaku pada tataran yang lebih luas yang dikemudian hari menjadi salah satu landasan dalam usaha pengembangan ilmu kosmologi modern, yakni Teori Relativitas Umum Einstein. Butuh waktu kurang lebih hampir sepuluh tahun bagi Einstein untuk  memikirkan dan merumuskan sebuah teori penting yang dikemudian hari menjadi salah satu soko guru dalam ilmu fisika yang bukan hanya menunjang dalam pengembangan ilmu kosmologi modern namun juga memberi sumbangsih yang begitu penting bagi ranah astro-fisika.

Sekali lagi bahwa filsafat adalah tentang sebuah seni berpikir. Ia membutuhkan olah rasa yang begitu mendalam. Untuk mencapai tataran pemikiran yang mendalam sehingga memberikan hasil pemikiran yang begitu elegan, dibutuhkan waktu yang tidak sebentar. Perlu keuletan dan juga kerja keras serta pemikiran yang berulang-ulang tentang sebuah permasalahan. Memikirkan permasalahan dari berbagai sudut dan kemungkinan yang bisa terjadi, serta memikirkan akibat-akibat serta sangkut pautnya dengan hal-hal lain. Itulah filsafat. Dan itulah yang dinamakan dengan seni berpikir.

Tentu saja tidak mudah untuk menjadi seorang filsuf. Tidak mudah memang untuk memikirkan sesuatu (permasalahan) secara terus menerus dan kontinyu. Namun begitulah salah satu jalan sunyi yang harus ditempuh oleh para calon-calon filsuf, bergumul dengan pemikirannya sendiri diantara tumpukan rutinitas dan juga hingar-bingar kehidupan hedonis serta himpitan dan tuntutan dalam hidup dan kehidupan mereka. Tetaplah berjuang, tetaplah tangguh dan tetapkanlah hati mu untuk melangkah di jalan sunyi yang tidak biasa ini wahai para pemikir.

Dunia bisa terlahir karena pemikiran, dunia bisa berubah karena pemikiran, dan dunia juga bisa berakhir ditangan sebuah pemikiran.

Adios.

Advertisements

Mari Berbagi Pemikiran :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s