Warna

 

Purnama menggelayut manja pada kaki langit. Ia tersipu. Sesekali menyibakkan tirai awan kehitaman untuk menutupi keanggunan dirinya. Angin malam berhembus dengan begitu pelan. Menyentuh dengan lembut setiap jengkal kulit ini. Memeluk dengan manja. Membisikkan sejuta kenangan yang berbalut dengan rasa dingin yang perlahan mulai menerkam.

Dibawah pancaran rembulan purnama yang berwarna keemasan, sosok lelaki itu berdiri tegak. Seorang lelaki yang tidak lagi muda. Namun juga terlalu muda untuk dikatakan sebagai lelaki yang berumur. Tubuhnya tegak berdiri. Tatapan kedua matanya menusuk dengan begitu tajam.

“Kemana aku harus sembunyi?” gumam Laki-laki itu seorang diri. “Mereka pasti akan menemukan aku.”

Sesekali lelaki itu mendongak. Menatap rembulan yang berwarna keemasan. Menatap Sang Ratu Malam yang begitu anggun nan jelita. Dengan tatapan penuh harap, seolah merindukan seorang kekasih yang telah lama ia rindukan.

“Disana!” Seruan itu muncul dari balik semak yang berjajar begitu rapi disekitar taman yang tidak lagi terlihat hijau karena sentuhan cahaya rembulan. “Kejar!” Serunya kembali.

Siluet-siluet kehitaman itu bergerak-gerak. Bayang-bayang hitam berkelebat dibalik cahaya purnama yang begitu mempesona. Terlihat beberapa sosok bayangan hitam bergerak dengan begitu cepat. Mereka saling bekerjaran. Satu sosok berada pada posisi paling depan. Sedangkan tiga lainnya mengejar tepat dibelakangnya.

“Berhenti!” Seru salah satu pengejar.

Dor.

Terdengar suara tembakan ke arah udara. Sebuah tembakan peringatan. Namun sosok itu tidak berhenti. Ia semakin mempercepat langkahnya. Sesekali melompat diantara bebatuan kecil yang menghalang.

Dor. Dor. Dor.

Kembali terdengar rentetan tembakan peringatan. Namun sosok itu tak pernah menghiraukan. Ia tetap berlari. Bahkan tidak menunjukkan tanda-tanda untuk mengurangi kecepatan larinya.

“Kemana perginya orang itu?” ucap Sandi dengan napas yang masih tersengal.

Ketiga sosok pengejar itu berhenti. Tepat di dekat sebuah Pohon Ek yang warnanya kecoklatan. Dilihat dari kulit kayu yang menyelimutinya, pohon itu pastilah jauh lebih tua bila dibandingkan dengan ketiga sosok pengejar yang kiri berdiri di bawahnya. Ketiganya bernapas dengan tersengal. Seolah baru saja menyelesaikan perlombaan lari marathon.

“Sepertinya kita harus berpencar.”

“Benar Kapten.”

“Sandy, kau sisir bagian selatan taman ini!”

Sosok tegap dengan rambut panjang sebahu itu mengangguk. “Baik Kapten.”

“Dan Kau, Tania, kau sisir bagian utara taman ini. Ikuti jalan yang melingkupi taman. Kita ketemu di dekat jembatan bata di ujung jalan taman.”

Sosok perempuan dengan rambut ekor kuda itu mengangguk dengan sigap.

Ketiga sosok itu pun berpisah. Sandy dengan senjata api terkokang yang ia genggam di tangan kanannya, mulai berlari menyusuri bagian sisi selatan taman. Sementara Tania, berlari menyusuri bagian utara taman. Rambutnya yang diikat ekor kuda, benar-benar nampak seperti kelebatan ekor kuda ketika ia berlari diatas  aspal yang membentang di bagian utara taman. Sementara itu, Kapten Tobi berlari menyusuri sisi tengah taman.

Setengah jam telah berlalu. Kini ketiganya telah kembali berkumpul di dekat jembatan yang terletak di ujung taman. Ketiganya masih berusaha untuk menata masing-masing napas mereka.

“Bagaimana hasilnya?” tanya Kapten Tobi.

Baik Sandy maupun Tania hanya mengangkat bahu mereka. Menyiratkan bahwa pencarian mereka adalah sia-sia belaka. Jangankan untuk menangkap sosok yang diburu. Mengejar bayangannya pun mereka tidak mampu.

“Sial!” umpat Kapten Tobi. “Bedebah kecil itu kembali bisa lolos dari kita,” tambahnya dengan nada sedikit frustasi.

“Sepertinya kita harus menjebak pencuri kecil itu,” ucap Tania. “Setelah menangkapnya, lalu kita gorok saja lehernya.”

“Kau wanita yang cantik, tapi mengerikan,” ucap Kapten Tobi. “Sepertinya kita memang tidak memiliki pilihan. Kita kembali saja ke markas terlebih dahulu.”

Ketiga sosok itu pun berjalan meninggalkan jembatan di ujung taman. Ketiganya berjalan menuju ke arah timur. Menuju ke sebuah jalan besar tempat mereka memarkirkan mobil patroli mereka.

Sementara itu, dari balik kerumunan semak didekat jembatan, sosok yang dikejar itu mulai menampakkan diri. Setelah yakin bahwa ketiga sosok pengejar itu telah meninggalkan taman, ia menampakkan diri sepenuhnya. Membiarkan dirinya terpapar oleh cahaya keemasan sang rembulan.

“Hampir saja mereka dapat menangkap ku,” lenguhnya dengan nada kelegaan.

Sosok itu kembali melangkah. Berjalan selangkah demi selangkah dibawah guyuran sang rembulan. Meninggalkan jengkal demi jengkal bagian taman yang kini membayang di belakangnya. Perlahan, ia lenyap. Tenggelam diantara lautan bayangan gedung-gedung yang menjulang. Tertutup oleh bayangan pekatnya malam.

Tujuh hari telah berlalu semenjak kejadian pengejaran di taman itu. Kini rembulan tidak lagi purnama. Sosok lelaki yang sama itu kemabli muncul. Ia duduk dengan begitu tenang di salah satu sudut taman. Duduk di atas bangku taman berwarna putih. Tepat ditangan kanannya, tergenggam sebuah roti warna kecolatan.

“Haruskah aku kembali mencuri?” keluhnya. “Tapi bagaimana aku akan hidup bila aku tidak mencuri? Apakah ini benar-benar mencuri? Bukankah aku hanya mengambil sebagian saja dari apa yang mereka miliki. Dan disitulah terdapat hak ku. Apakah ini tergolong sebagai mencuri?”

Dalam batinnya, ia bergejolak. Batinnya saling bertentangan. Kontradiksi memenuhi batin dan jiwanya yang mulai kelam dan runyam.

“Ah. Aku tidak peduli. Aku akan tetap mengambil yang menjadi bagian dari hak ku. Mereka adalah orang-orang sombong. Tidak pernah memperdulikan keadaan orang lain. Jangan salahkan aku jika aku mengambil apa yang tidak mereka berikan. “

Sosok itu kembali berdiri. Badannya yang tegap dan kakinya yang terlihat jenjang, membuatnya unggul dalam hal pelarian dan melarikan diri. Tidak mengherankan apabila selama ini ia selalu lolos dari kejaran beberapa polisi yang tengah berpatroli. Dibalik malam yang membayang, soso itu menghilang.

Hari itu pertengahan bulan Juni. Bulan-bulan yang sedikit cenderung panas. Karena matahari mulai berada di bagian utara Bumi. Dan itu berarti di bagian belahan utara khatulistiwa Bumi mulai menginjak musim panas. Matahari memang tidak terlalu terik. Namun sengatannya cukup untuk membuat kulit menjadi berwarna kecoklatan yang menawan.

Ditengah sengatan matahari yang mulai meninggi, terlihat kerumunan sekelompok orang disekitar sebuah toko binatang piaraan. Mereka berkerumun dengan begitu rapat. Bak sekumpulan semut yang tengah mengintari seonggok gula yang tercecer di lantai.  Perlahan kerumunan itu semakin rapat. Beberapa orang yang awalnya lalu-lalang di jalanan kecil itu pun mulai tertarik untuk bergabung dalam kerumunan itu.

“Tolong semuanya menyingkir,” ucap salah seorang Perwira polisi yang berpakaian kecoklatan itu. “Tolong semua untuk menyingkir. Tempat ini akan dipasang garis polisi,” tambah polisi itu.

Perlahan, kerumunan itu pun mulai menyibak dan menepi. Membiarkan beberapa perwira untuk membentangkan dan memasang sebuah garis polisi yang berwarna kekuniang dengan bertuliska Police Line. Sementara itu, beberapa perwira dengan pakaian bebas mulai mendekat ke tempat kejadian perkara. Tepat di depan mereka, teronggok sebuah mayat seorang lelaki.

“Kapten, bukankah ini adalah lelaki yang beberapa waktu lalu kita kejar?”

“Benar Tania,” ucap Kapten Tobi. “Dia adalah lelaki itu. Sungguh malang dia. Harus tewas dengan cara seperti ini. “

“Siapa yang berbuat seperti ini?” tukas Sandy yang sedari tadi lebih banyak berdiam diri.

“Entahlah. Mungkin beberapa orang mabuk yang tengah berlalu lalang disekitar sini,” jawab Kapten Tobi sekenanya.

Tepat di depan meraka, teronggok sesosok mayat lelaki. Sungguh mengenaskan lelaki itu. Tubuhnya penuh dengan luka. Sisa-sisa darah segar, menyelimuti tubunya yang mulai terlihat layu dan membiru itu. Luka di bagian pelipisnya, terlihat masih mengannga. Menyisakan rasa sakit yang teramat mendalam.

“Dia sudah mendapatkan hukuman yang pantas. Tindakannya yang selama ini mencuri, merampok dan merampas sungguh sudah meresahkan. Mungkin ini adalah hukuman yang pantas yang dikirim oleh Tuhan untuk mahluknya yang berperilaku serendah binatang.

*************************************

Malam itu ia berjalan menyusuri trotoat kehitaman disekitar jalan yang membentang di dekat taman.  Kedua matanya menatap dengan waspada. Berusaha untuk mencari target mangsa yang hendak ia jadikan korban. Laksana seekor singa yang kelaparan, lelaki itu memperhatikan dengan penuh seksama setiap objek yang dapat memberikannya uang. Mulai dari barisan pertokoan kecil hingga sebuah Bank besar yang ada diseberang jalan.

Sementara itu, dibawah bayangan sebuah gedung menjulang, beberapa orang tengah bercakap-cakap dengan begitu serius.

“Jadi yang perlu kita lakukan adalah membunuh orang ini?” tanya salah seorang diantara mereka yang mengenakan jaket hitam dengan penutup kepala.

Lelaki berkaus putih itu hanya mengangguk.

“Bukankkah kau adalah seorang perwira polisi? Kau bisa saja membunuhnya sendiri dengan pistol mu yang ada di pinggang itu,” tukas salah seorang lain yang tengah merokok dengan nikmatnya. “Kalau tidak salah kau adalah Kapten Tobi.”

Lelaki berkaus putih itu mengangguk. “Benar. Tapi aku tidak mau mengotori tangan dan juga jabatan ku dengan kejahatan itu,” ucapnya dingin.

“Lalu jika kami melakukannya, apa jaminan yang kau berikan untuk kami berempat?”

“Aku akan menjamin kebebasan kalian. Aku akan membersihkan catatan kejahatan. Dan aku jamin, apa yang ada di dalam tas ini, akan cukup untuk membawa kalian meninggalkan kota ini dengan aman. Menjamin kehidupan kalian untuk sementara ditempat kalian yang baru.”

“Baiklah. Kami pegang apa yang telah kau ucapkan. Jika kau menyalahi apa yang telah kau ucapkan. Kami tidak akan tahu apa yang akan terjadi dengan hidup dan keluarga mu.”

“Kalian bisa pegang apa yang aku bicarakan,” tukasnya dengan nada penuh keyakinan.

Sementara itu, tepat di seberang gedung Bank besar, laki-laki yang tempo hari menjadi buruan ketiga polisi itu tengah mengendap-endap di depan sebuah took pakaian. Berusaha untuk mencari celah dan memasuki took yang tidak terlalu besar itu.  Tepat dibawah lampu penerang jalan, terlihat beberapa orang berdiri tegap dengan asap rokok yang mengepul.

“Itu pastilah Dia. Buronan polisi yang perlu untuk kita bunuh.”

Keempat lelaki itu berjalan menuju kea rah sosok yang tengah mengendap-endap. Beberapa diantara mereka, ada yang membawa sebuah tongkat baseball. Bahkan ada yang membawa potongan sebuah pipa besi. Tanpa ragu mereka berjalan mendekat ke arah pengendap-endap itu.

“Apa yang kau lakukan di tempat ini?” gertak salah seorang dari mereka yang membawa tongkat baseball.

“Aku hanya mencari makan,” jawab sosok itu dengan penuh canggung.

“Apa maksud mu dengan mencari makan?” timpal lelaki yang membawa tongkat baseball itu.

“Aku…”

Tanpa sempat untuk menyelesaikan apa yang hendak ia ucapkan, tiba-tiba sebuah pukulan melayang ke arah kepalanya. Darah segar murai merembes keluar dari pelipis kepalanya. Tak lama kemudian, berbagai pukulan pun menghujani tubuh lelaki itu. Satu demi satu pukulan melayang tepat mengenai tubuhnya. Bahkan pukulan-pukulan itu mengenai beberapa organ pentingnya. Perlahan, lelaki itu tak sadarkan diri. Hanya kegelapan yang menyelimuti diri dan alam pikirannya. Sementara itu, darah segar yang berwarna kemerahan masih mengalir dengan begitu deras dari beberapa luka yang ada pada tubuhnya. Tubuhnya terkapar. Kedua matanya pun terpejam. Meninggalkan bayangan sang malam.

***********************

“Kapten, haruskah kita lakukan otopsi untuk memastikan apa penyebab kematian lelaki itu?” tanya Tania.

“Lakukan itu. Segera kirim mayat korban ke Laboratorium untuk dilakukan pemeriksaan, “ timpal sang Kapten.

Beberapa perwira terlihat mulai mengangkat kantong mayat yang berisi korban itu. Mereka menggotong mayat dan memindahkannya ke dalam mobil ambulans untuk kemudian membawanya menuju ke rumah sakit perwira. Perlahan, raungan sirine mobil ambulans itu mulai menghilang seiring dengan menjauhnya ambulans.

“Sekarang tidak akan adalagi bedebah kecil yang menganggu mu sayang ku, “gumam Kapten Tobi pada dirinya sendiri.

 

Advertisements

Mari Berbagi Pemikiran :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s