Pulang?

 

“Ini adalah tahun keenam mu di kota ini,” ungkap Anita memecah keheningan yang menyelimuti teras rumah kecil bercat kebiruan itu. “kamu tidak akan pulang lagi tahun ini?”

Sejenak aku memandang lembut ke wajah perempuan keibuan itu. Kemudian aku hanya menyunggingkan senyuman kecil.  Tanpa menjawab pertanyaan itu sepatah kata pun. Karena menurut ku, pertanyaan itu memang tidak perlu untuk di jawab.

“Apa kamu tidak kangen dengan Desa kecil mu yang ada di kaki pegunungan Kapur itu?” tambah Anita sembari menggeser kursi kecoklatan yang ia duduki. Decit suara gesekan kaki kursi itu kembali memecah kesunyian.

Sekali lagi aku hanya menyunggingkan sebuah senyuman kecil. Entah apa makna dari senyuman itu, aku sendiri pun tidak tahu. Kurasa ada sejuta makna dibalik sebuah sunggingan senyuman kecil itu. Beruntunglah, Anita tidak lagi menyodorkan pertanyaan-pertanyaan yang aku sendiri tidak tahu akan jawabannya.

Sejenak batin ku melayang. Menyusuri batas-batas cakrawala. Menyelami samudra lamunan yang dalamnya pun aku tak tahu.

“Aku tidak tahu,” ucap ku pelan.

Anita hanya menggeleng. Tatapan matanya lembut penuh keibuan.

“Bukannya aku tidak ingin pulang. Bukannya aku tidak merindukan Desa kecilku di kaki pegunungan kapur. Aku hanya…”

Suara ku tertahan. Lidahku seolah kelu. Serasa tak sanggup aku menyelesaikan apa yang telah aku ucapkan itu.

“ya?” tukas Anita dengan nada yang menggantung penuh rasa ingin tahu.

Kembali aku mengalihkan pandangan mataku. Menghindari tatapan mata Anita yang begitu tajam. Seolah hendak menusuk dan mengorek segala keterangan yang ada dalam kepala ku. Pandangan ku terpaku ke arah halaman kecil itu. Terpancang pada sebuah tanaman Bakung yang tidak lagi berbunga.

“Aku hanya tidak tahu. Aku tidak tahu kemana aku harus pulang.”

Setelah aku mengucapkan kata-kata itu, seolah beban dalam hati dan pundak ku lenyap. Beban yang selama ini aku sangga dalam benak ku telah mencair dan mengalir.

“Apa maksud mu?” sahut Anita dengan nada penuh rasa ingin tahu.

Sejenak aku kembali terhanyut dalam lamunan ku. Aku biarkan segala kenangan itu mengalir. Membanjiri benak ku. Ku biarkan kenangan-kenangan itu menghujani gersang dan keringnya alam pikiran ku. Ku biarkan segalanya. Meskipun sebenarnya aku tidak menginginkan hal itu terjadi. Tapi semua sudah terlambat. Lamunan itu membawakan aku barisan-barisan kenangan yang selama ini aku pendam. Aku simpang dalam-dalam dan tak ingin lagi aku bagikan kepada dunia yang penuh kepalsuan ini.

888888888888888888888888888888888888888888

Senja nampak menguning di kaki langit. Semburat cahaya keemasan tergores begitu indah dan halus di atas kanvas berupa lembaran langit sore yang cerah. Sayup-sayup dari kejauhan, terdengar suara adzan maghrib begitu mendayu-dayu. Memanggil setiap jiwa-jiwa yang rindu akan Sang Pencipta.

“Kau mau kemana Ris? Sudah maghrib, jangan main terus.”

“Iya Nek, Aris hanya mau ke tempat Suci sebentar. Mengantarkan PR matematika ini karena tadi dia tidak berangkat sekolah.” Aku menjelaskan pada Nenek ku.

“Oh gitu,” tukas Nenek ku sembari meletakkan anyaman bambunya. “Lekas pulang. Setelah itu pergi ke Surau. Belajar ngaji sama Pak Kyai.”

Tak perlu waktu yang terlalu lama untuk mengantarkan PR matematika itu ke rumah Suci. Aku hanya membutuhkan kurang lebih sekitar lima menit untuk menyelesaikan hal itu.

“Sekarang pergilah ke Surau. Belajar mengaji sama Pak Kyai. Biar menjadi orang yang pandai dan berbudi luhur. Jangan seperti Nenek yang tidak bisa mengaji sama sekali,” ucap Nenek ku sembari merapikan lipatan sarung yang aku kenakan.

Surau kami tidaklah besar. Surau itu terletak tepat disisi sebelah barat Desa kami. Terletak tidak jauh dari Kantor Kepala Desa. Di Surau kecil inilah kami ditempa oleh Pak Kyai dengan berbagai ilmu agama. Mulai dari cara membaca kitab suci hingga pelajaran tentang akhlaq. Semua ditempa di tempat ini.

Setiap hari, selepas sholat Maghrib, Surau kecil ini tidak lagi terasa kecil. Berbagai kebahagiaan terlukis di tempat ini. Sesekali terdengar lengkingan tawa dari anak-anak ketika mendengarkan Pak Kyai bercerita tentang hal-hal lucu namun sarat akan makna dan pelajaran. Namun ada kalanya, wajah-wajah kecil itu berubah menjadi begitu serius dan tegang manakala belajar membaca kitab suci dengan baik dan benar.

“Ris. Aris,” teriak Budi sembari berlari kepincangan. Tubuhnya yang sedikit gempal, terlihat begitu lucu manakala ia berlari. “Rumah mu Ris…,” kata Budi dengan tersengal.

“Kenapa dengan rumah ku?” tukas ku penuh rasa ingi tahu.

“Kenapa dengan rumah Aris? Katakana yang jelas,” imbuh Pak Kyai dengan nada lembut nan menyejukkan.

Dengan napasnya yang masih tersengal, Budi berusaha menata ucapannya. “Rumah mu kebakaran!” kata Budi tegas dan lugas.

Apa yang diucapkan oleh Budi begitu mengagetkan aku. Kedua kaki ku terasa lunglai. Aku serasa tak mampu untuk kembali berdiri. Tulang-tulang ku seolah dilolosi.

“Tidak mungkin. Nenek,” teriak ku sembari menghambur meninggalkan Surau yang kembali teras sempit dan kecil itu.

Bertumpu pada sepasang kaki kecil ku, aku berlari. Berlari menghambuer ke arah rumah Bambu yang selama ini menjadi surga ku yang tak ternilai harganya. Tanpa menggunakan terompah, kedua kaki kecilku itu menerjang dan menghujam lautan kerikil yang berjajar rapi bak tentara yang tengah bersiaga dalam suatu apel upacara.

Siluet kemerahan disertai dengan asap yang membumbung tergurat begitu jelas. Asap hitam yang mulai mengepul itu membumbung. Sesekali disertai lenggokan. Laksana penari yang melenggak-lenggok diantara tetabuhan musik pengiring.

Aku tak percaya. Si jago merah berkobar dengan begitu angkuh. Membakar dan menyambar setiap kepingan bagian rumah bambu ku. Atap yang terbuat dari daun rumbia kering, melayang terbakar tak tersisa. Anyaman bambu yang menjadi dinding itu pun ludes tiada sisa. Tak ada satu pun yang tersisa. Satu persatu, semuanya , musnah.

Tatapan ku yang sayu, terpaku. Terpancang. Menatap kobaran api yang masih menyala. Menatap orang-orang yang berusaha untuk memadamkan kobaran api yang tidak lagi menghanguskan itu. Lagi-lagi aku tidak percaya. Semua terasa seperti mimpi.

“Nenek!” Ronta ku dengan sekuat tenaga.

Air mata pun mulai bercucuran. Aku kehilangan. Kehilangan segalanya. Tiada lagi yang tersisa. Semuanya telah hilang. Rumah bambu ku, Nenek ku, dan juga kenangan akan masa kecil ku. Semua lenyap, hangus bersama hitamnya asap yang pekat membumbung ke angkasa. Tidak ada lagi yang tersisa.

888888888888888888888888888888888888888888888888888

“Ris,” ucap Anita lembut. Ucapan itu membuyarkan lamunan ku.

Aku kembali memandang ke arahnya. Aku hanya mengernyitkan alis ku yang menghitam. Tanda bahwa itu adalah ungkapan tak paham tentang arah pembicaraan ini.

“Kau mendengarkan apa yang aku bicarakan?” ucapnya kembali dengan nada yang begitu lembut.

Aku hanya menggeleng pelan.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan mu. Baik itu di masa mu yang telah lalu, maupun di masa mu yang akan datang. Tapi satu hal yang aku tahu. Kau akan selalu baik-baik saja.”

“Maksud mu?”

“Setiap orang memiliki kehidupannya sendiri. Baik itu di masanya yang telah lalu. Ataupun di masanya yang akan datang. Dia telah dan akan menjalani suatu kehidupan. Tidak ada kehidupan yang baik ataupun buruk. Yang ada hanyalah bagian-bagian dari kehidupan. Meskipun terkadang kita merasa bahwa ada bagian kehidupan kita yang begitu buruk, namun itu bukanlah hal yang benar-benar buruk. Itu hanyalah seperti bagian potongan puzzle. Bagian potongan yang akan menjadi bagian dari sebuah lukisan berupa kehidupan kita seutuhnya…”

“Apa yang hendak kau katakana?” Tukas ku.

“Aku hanya ingin mengatakan bahwa kehidupan ini adalah sebuah pembelajaran.”

“Pembelajaran? Maksudmu?”

Sejenak Anita menghela napas. Dalam. Dan panjang.

“Ya. Hidup adalah sebuah pembelajaran. Sesungguhnya dalam hidup ini kita sedang belajar. Belajar akan kesabaran. Belajar menjadi bijak dan baik. Belajar menjadi manusia yang utuh dan sesungguhnya. Sepanjang hidup, sesungguhnya adalah sebuah pembelajaran. Tidak kurang dan tidak lebih. Dan semua pembelajaran itu, akan bermuara pada satu titik, yakni kepribadian kita sendiri.  Tidak peduli dengan apa yang telah kita hadapi di masa yang telah lalu, ataupun yang akan kita hadapi di masa yang akan datang. Semua itu adalah proses pembelajaran. Tidak kurang dan tidak lebih.”

Aku kembali terdiam. Napas ku yang teratur, mulai menenggelamkan aku kembali dalam pekatnya samudra pemikiran. Satu persatu aku mencerna setiap ucapan yang mengalir dari Anita. Begitu dalam dan bijak.

“Lalu apa yang harus aku lakukan?”

“Jalani saja kehidupan ini. Itu yang penting,” tukasnya. “Ketika kau menjalani kehidupan ini, maka ia akan membawa mu ke tempat atau bagian-bagian yang tidak pernah kau bayangkan sebelumnya. Seperti ketika mengendarai sebuah sepeda, jika kau hanya berhenti dan diam saja, maka kau tidak akan pernah kemana-mana. Namun saat kau mengendarai sepeda dan bergerak, ia akan membawa mu ke tempat-tempat yang baru. Dan akan memberikan mu pelajaran-pelajaran baru yang kau perlukan untuk menyelesaikan kehidupan mu.”

 

 

 

Advertisements

Mari Berbagi Pemikiran :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s