Retorika Alam Semesta

 

Manusia itu sesungguhnya amatlah kerdil. Sebuah objek kerdil yang menjadi bagian dari sebuah sistem akbar berupa alam semesta. Bila diibaratkan, seperti butiran buih diantara luasnya samudra. Sungguh kerdil dan tiada artinya.  Namun, dibalik kerdilnya manusia, terdapat suatu karunia yang maha luara biasa, yakni berupa akal, pikiran dan logika. Lantas pertanyaan yang muncul adalah “untuk apa karunia itu?” Entahlah. Namun, satu hal yang pasti, adalah untuk memenuhi, menunjang dan mengakomodir dahaga akan pengetahuan dan asal-usul manusia itu sendiri.

Dengan karunia berupa akal, pikiran dan logika, kita sebagai manusia, mulai mempertanyakan berbagai macam hal. Tentang diri sejati dari manusia itu sendiri, hingga ke lingkungan akbar tempat bernaungnya manusia itu. Yakni berupa alam semesta. Selain asal-usul, alam semesta menjadi objek yang sangat menarik bagi kalangan manusia. Bahkan sekelompok kecil manusia, rela mengorbankan waktunya yang berharga itu untuk berkutat dengan yang namanya alam semesta/universe. Siapa lagi jika bukan para filosof dan fisikawan?

Alam semesta, sebuah objek yang tak terbatas namun memiliki batas. Membentang tepat di atas kepala setiap manusia. Menyimpan berbagai ragam misteri, pertanyaan, teori dan kekaguman.  Banyak orang khususnya para filosof maupun pemikir, berusaha untuk menggambarkan alam semesta dengan menggunakan bahasa mereka sendiri.  Mereka berusaha untuk mendalami dan lebih memahami sisi gelap  nan misterius dari alam semesta itu sendiri. Berbagai macam pertanyaan telah terlontar. Berbagai jawaban pun telah banyak diperdebatkan dan diutarakan.

Namun apa hasilnya? Hasilnya adalah sebuah fakta menarik. Fakta menarik tersebut adalah berupa kepastian bahwa manusia tidak semakin mengerti dan memahami akan alam semesta. Manusia-manusia semakin dibuat bingung, pusing sekaligus tertantang oleh fakta bahwa kita tidak lebih memahami alam semesta.

Apa sesungguhnya itu alam semesta? Sebuah “ruang” yang sangat luas dengan berbagai objek seperti bintang, planet, komet, ataupun galaksi yang berserakan di atasnya? Entahlah. Selama ini itulah yang kita pahami sebagai alam semesta. Sebuah objek maha luas. Sebuah objek yang batasnya tidak diketahui oleh akal pikiran manusia.

Bukankah alam semesta itu menjadi jauh lebih menarik ketika kita tidak benar-benar paham dengan apa itu alam semesta? Mengapa menjadi menarik? Jawabnya adalah sederhana, kita bisa menggambarkan alam semesta itu dengan bahasa kita sendiri.  Entah dengan menggunakan bahasa matematika yang melibatkan teori-teori dan perhitungan yang tidak sederhana, maupun dengan menggunakan bahasa filsafati yang mendalam, mendetail dan penuh dengan keindahan.

Alam semesta, aku tidak mengenalmu, tidak memahami mu, namun aku begitu jatuh cinta dengan mu. Sungguh cinta yang besar. Bagaimana aku bisa mengungkapkan rasa cinta itu manakala aku sedikit pun tidak mengenal mu? Bagaimana aku akan bersanding dengan mu apabila aku tidak memahami seluk beluk dunia mu, masa lalu mu, masa depan mu, bahkan apa saja yang melekat pada dirimu? Bagaimana aku akan berdamai dengan mu jika aku tidak mengeti sedikit pun tentang perilaku dan tingkah lakumu? Bagaimana? Bagaimana aku akan memperkenalkan mu pada orang-orang disekitar ku jika memandang wajah mu saja akau tidak bisa?

Hidup mu yang gelap mungkin penuh dengan materi gelap. Tapi apa benar bahwa materi gelap itu benar-benar ada dan melekat padamu? Bagaimana jika tidak ada? Bagaiamana jika materi gelap hanyalah objek khayalan manusia belaka karena ketidaktahuannya akan diri mu yang sesungguhnya? Entahlah. Izinkan saja aku untuk terus memikirkannya. Mungkin suatu saat nanti aku akan tahu jawabnya.

Apa yang membuat mu begitu menarik? Apakah adanya interaksi gravitasi yang tersebar dalam diri  mu sehingga gravitasi itu menarik ku untuk mengenali mu? Tapi sesungguhnya apa itu gravitasi? Sebuah gaya? Seperti yang kami yakini selama ini? Sebuah kelengkungan ruang-waktu yang akhir-akhir ini mengganggu pikiran kami? Ataukah gravitasi itu sebenarnya bukan keduanya itu? Bukan sebuah gaya, bukan juga sebuah kelengkungan-ruang waktu. Lalu apa? Bagaimana aku akan mencari jawaban itu? Entahlah. Lagi-lagi aku hanya berharap agar aku bisa terus memikirkannya. Mungkin saja kelak kau akan berbicara dengan ku. Ber-retorika dengan ku menggunakan bahasa mu yang anggun, cantik dan elegan. Memberikan ku sebuah cerita indah, yang akan sedikit mengobati dahaga kami akan sosok mu yang begitu misteri.

 

Advertisements
Categories:

Mari Berbagi Pemikiran :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s