Hanya Sebatas Kerinduan

Malam mulai menjauh, menjauh dan semakin menjauh. Menyisakan hitam, gelap dan pekat yang masih membayang. Menelusup. Menyela hingga ke sela-sela relung hati. Bintang-bintang malam pun enggan untuk berdendang, deru hembusan angin malam tak lagi terdengar membentuk sebuah harmoni. Oh Purnama Sang Penguasa Langit Malam, mengapa Engkau pun enggan untuk menampakkan keanggunan mu?

Aku masih terdiam, terpaku, disebuah kursi rotan tua yang usianya aku taksir sekitar lima tahun lebih tua daripada aku yang mendudukinya. Asap masing mengepul, melayang-layang dari cangkir hitam yang penuh berisi dengan larutan kopi hitam. Pikirku melayang, menerawang, menerobos sekat-sekat dinding kamar berukuran 3×3 meter persegi yang aku sewa dengan harga sebesar 2 juta.

Sesekali kedua mataku terpejam. Mencoba untuk melintaskan kembali rangkaian memori yang telah aku jalani. Lalu memutarnya kembali ke dalam angan ku. Bak sebuah gulungan rol film yang tengah menyuguhkan adegan demi adegan dari suatu rangkaian malar tak berkesudahan. Potongan demi potongan memori itu membentuk sebuah rangkaian kejadian yang telah lalu. Aku melihat banyak wajah, senyuman, tangis, canda, tawa dan berbagai situasi lainnya. Aku melihat kembali orang-orang yang pernah menjadi bagian dari rangkaian buku cerita ku. Entah kini telah menjadi apa kalian. Ah, jadi apapun tak masalah, asal dijalani dengan sepenuh hati dan kelapangan hati.

Perlahan, dan masih perlahan. Kartu-kartu memoir itu masih berputar dalam angan ku. Dan tibalah rangkaian itu menggambarkan sosok yang tiada ku duga. Sosok yang hingga saat ini, susah untuk aku melupakannya. Kenapa? Entahlah. Mungkin memang ada beberapa pertanyaan di dunia ini yang tiada perlu untuk dijawab. Potongan kartu rangkaian memoir itu memperlihatkan bahwa dari mu aku berlajar banyak hal. Mulai belajar mengenal keturunan Hawa yang tiada mudah untuk dimengerti. Dan entah , dari mu pula aku mulai mengenal salah tingkah, gugup dan entah getaran aneh yang tiada bisa untuk aku jelaskan. Mungkin dengan persamaan gelombang harmonis sederhana pun tiada bisa aku menjelaskan. Yaph. Itulah untuk pertama kalinya. Fot the first time.

Ah andai saja aku memiliki sebuah mesin waktu, aku ingin kembali mengulang rangkaian-rangkaian memoir itu. Tapi, inilah hidup. Kehidupan dalam dunia nyata yang kompleks.

Memori itu terus merangkak. Aku melihat sekumpulan remaja dengan sedikit kenakalan dan kecongkakkan berbalut pakaian putih dan abu-abu berdiri tegak. Lantang, menatap dan menantang sang mentari, penguasa langit siang yang agung. Ku lihat sosok lelaki kecil itu berani berdiri, menatap tingginya sang langit dan mentari, lalu mengukuirkan sebuah harapan pada sela-sela koordinat bintang-bintang yang bertaburan tertutup awan dan terangnya sang Raja Siang.

Dan kini aku masih teronggok disebuah kamar berukuran 3×3 meter persegi. Tubuhku seperti tertahan, aku belum beranjak. Seolah menahan ku. Mencoba untuk menggelayuti langkah ku, menahan ku untuk mendekati mimpi yang ku ukir disela-sela matahari. Entahlah. Mungkin bekal yang harus ku bawa untuk mengarungi kembali perjalanan ku masih belum memadai. Cukup dinikmati saja.

Rangkaian memori itu kembali berarak. Kali ini beriringan. Berjajar, dan bergerak dengan sedikit lebih cepat dari sebelumnya. Dua sosok. Kini aku melihat dua sosok yang berbeda. Seorang perempuan dengan rambut sebahu, kulit berwarna kuning langsat dan seorang pria berkulit legam kehitaman berbadan tegap. Keduanya menatap ke arah ku dengan melemparkan sebuah senyuman hangat. Yaph, mereka adalah kedua orang tua ku. Dua orang manusia yang sangat berjasa dalam perjalanan kehidupan ku. Yang akan selalu menjadi bagian dari sebuah buku cerita yang aku jalani.

Dalam rangkaian memori itu aku melihat, sosok lelaki berkulit kehitaman itu tengah sibuk dengan tanah dan sebuah cetakan kayu berwarna coklat dengan bentuk persegi panjang. Kedua tangannya yang menghitam, sangat terampil dalam mengolah dan mengaduk tanah untuk membuat kumpulan batu bata merah. Ya, batu bata merah yang mungkin saja menjadi salah satu bagian dari dinding rumah mu yang hangat itu. Sementara itu, sosok perempuan itu dengan sabar memberikan bantuan sebisanya. Tepat dibagian sudut rangkaian memori itu, aku melihat seorang anak kecil dalam gendongan seorang lelaki yang sudah mulai usia senja. Yaph itulah diri ku. Ketika aku berada dalam gendongan kakek ku, maka satu kesimpulan yang bisa kalian ambil adalah aku baru saja menangis, entah itu karena alasan apa. Sepertinya sudah menjadi sebuah tradisi bagi ku, bahwa aku akan berhenti mengangis tat kala aku sudah tergelantung manja dalam balutan selendang kakek ku.

Hmmm, sebuah memori yang sangat lama sekali. Entah sudah berapa belas tahun yang lalu kejadian itu terjadi. Kini, lelaki berkulit kehitaman legam itu tak lagi menjadi seorang pengendali tanah yang membuat bata merah. Walaupun tidak jauh lebih baik, namun ia telah menemunak sebuah profesi yang ia jalani dengan sepenuh hati. Meskipun harus terpapar teriknya sang penguasa siang, yang membuatnya semakin terlihat menghitam dan legam.

Rangkaian memori itu memutar bagian itu cukup lama. Sehingga menginggatkan aku betapa berharganya aku bagi mereka dan sangat berharganya mereka bagi ku. Tiada terganti. Ku ingat banyak hal tentang mereka. Kejadian bersama mereka dan alasan-alasan yang membuatku masih bertahan hingga saat ini. Ah, ini seperti sebuah mesin waktu. Kembali membawa ku ke dalam memori-memori tak terlupakan yang menjadi bagian dalam kehidupan ku. Sungguh Tuhan telah menganugrahkan suatu hal yang sangat luar biasa.

Entahlah. Malam ini terasa cukup berat untukku. Banyak keraguan yang bersembunyi diantara semburat senyuman. Ada tangis diantara tawa. Dan ada ketakutan dibalik tubuh yang terlihat kuat ini. Ah andai saja, dalam tidur ku ini ada sebuah pelukan yang dapat meluluhkan semua keraguan yang ada padaku, mungkin itu akan lebih baik.

Ini jauh lebih baik. Rangkaian gambar berjalan yang berbaris dengan rapi dalam angan, seolah mesin waktu yang menyuguhkan adegan demi adegan yang telah lampau. Wajah-wajah itu, doa-doa itu, dongeng-dongeng yang lampau serta harapan dan impian yang tergantung tepat disisi sang Mentari, menjadi salah satu penopang terpenting dalam perjalanan kehidupan ini. Hmmm, mungkin ini hanyalah sebatas rindu, ah tidak. Ini memang sebatas kerinduan. Kerinduan yang bertuan. Namun, angan dan harapan yang terukir disela-sela sang Mentari, telah mengusik dan membisik, seolah menarik untuk segera digapai.

Sebatas kerinduan yang harus ditukar dengan harapan-harapan dan impian. Hanya iringan doa tiada henti yang senantiasa menjadi pengiring dalam setiap langkah dan hembusan napas. Jalan ini memang sunyi. Jalan para pejuang memang selalu sunyi dan sepi. Karena jalan yang dilalui oleh sang pejuang, pada dasarnya adalah jalan yang penuh dengan tempaan untuk menuntun pada seorang pejuang yang sejati. Tiada hal lain yang diperlukan, selain keinginan dan keharusan untuk bertahan.

Suatu saat nanti, sebatas kerinduan itu, akan terbalas. Akan terobati. Dan rangkaian memori itu akan berkembang semakin panjang dan luas seiring dengan perjalanan yang terlalui, seiring dengan cerita yang terukir dalam buku cerita perjalanan hidup ini. Dan bila tiba saatnya, maka kumpulan rangkaian memori itu, akan menjadi sebuah harta berupa cerita yang tiada bernilai.

Advertisements

Mari Berbagi Pemikiran :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s