The Golden Fountain

“Bagaimana ini Long? Purnama penuh untuk bulan ini sudah hampir tiba. Tapi kita belum menemukan Air Mancur Emas yang kita cari. Kita tidak memiliki banyak waktu tersisa Long. Hanya ada tiga hari tersisa paling banyak.”

“tenanglah Kau Lin,” kata Long sembari menyisipkan sebilah pedang melengkung di pinggangnya. “aku yakin kita sudah dekat dengan apa yang kita cari. Aku yakin tidak akan lama lagi kita akan menemukan Air Mancur Emas milik Suku Kuno yang legendaris itu.”

“tapi….”

“ssssstttt,” potong Long. “Kau dengar itu?” tanya Long sembari berusaha menajamkan pendengaran telinganya.

Suara gemerisik dedaunan yang tertiup oleh angin samar-samar terdengar. Sesekali suara ranting-ranting patah terdengar begitu jelas. Siluet hitam nampak berkelebatan diantara barisan pepohonan yang besar nan memanjang,

“apa itu?” bisik Lin.

“entahlah,” tukas Long singkat dengan nada masih berbisik. “aku belum yakin, tapi kita akan tetap berjalanmengikuti jalan kecil ini. Berhati-hatilah. Perhatikan langkah mu.”

Kedua pemuda itu nampak berjalan dengan pelan dan mengendap-endap. Keduanya mengenakan sebuah mantel hitam ke abu-abuan dengan penutup kepala berwarna hitam pekat. Sepatu boot hitam terpancang dengan jelas di kedua kaki mereka. Sebuah tas kecil berwarna kecoklatan menyelempang diantara pundak-pundak mereka. Tak lupa, sebuah pedang panjang nan mengilat tajam dan melengkung, terselip dengan rapi dimasing-masing pinggang kedua pemuda itu.

“Lin!” seru Long perlahan. “malam  ini kita istirahat dan berkemah di sini. Kau dirikan tenda di tempat ini sekarang. Kemudian kau ambil air di sungai depan itu. Aku akan mencari kayu bakar dan beberapa babi hutan untuk kita makan malam nanti.”

Lin yang berpawakan sedikit lebih kecil bila dibandingkan dengan Long itu hanya mengangguk tanda setuju. Meskipun dari penampilan, nampak sedikit lebih kecil bila disbanding dengan Long, namun dari segi kekuatan dan ketangkasan sesungguhnya keduanya adalah sama baiknya. Dalam menggunakan seni pedang, keduanya sama-sama tangguh. Begitu pula dalam ranah perkelahian dengan tangan kosong. Hanya saja, Long si saudara tua Lin lebih handal dalam menggunakan senjata-senjata tambahan seperti memanah dan melempar pisau. Dalam urusan memanah, Long adalah pemanah terbaik yang dimiliki oleh Kaum Vardent.

Malam telah menjelang. Suasana di Hutan Sihir itu benar-benar gelap. Sedikit pun tidak ada cahaya purnama yang mampu menembus rimbunnya barisan dedaunan dari pohon-pohon besar yang ada di hutan tersebut. Malam telah datang. Tenda kecil pun telah berdiri dengan kokoh. Namun, Long belum juga kembali dari kegiatannya untuk berburu babai hutan dan juga mengumpulkan kayu bakar.

“dimana Long? Apa yang terjadi? Mengapa kau pergi lama sekali?” gumam Lin pada dirinya sendiri sembari berusaha membuat perapian dengan ranting-ranting dan dedaunan yang ada di sekitar tempat ia mendirikan tenda itu.

Suara-suara lolongan srigala, samar-samar nampak terdengar dari kejauhan. Dari tempat Lin mendirikan tenda peristirahatan, nampak sesekali terdengar retihan suara-suara ranting patah yang terinjak. Ia merasa bahwa pasangan-pasangan mata telah mengamatinya dari balik lebatnya barisan pepohonan nan menjulang itu.

Perlahan Lin menghunus pedang kebanggaannya. Sebuah bedang panjang, melengkung nan mengilat tajam. Dibagian pegangan tangannya, terukir pola sebuah kepala Naga. Dipegangnya erat-erat menggunakan dua tangan pedang itu. Ia bersikap waspada. Sesekali matanya menajam dan memicing. Berusaha untuk menangkap dengan jelas apa yang ada dibalik barisan pepohonan rimbun di sekitarnya.

“Lin! Lariiiii!” Seru Long sembari berlari menuju ke arah Lin. “cepat. Lari. Ikuti aku,” bentak Long yang melihat Lin hanya diam terpaku dengan tatapan nanar penuh kebingungan.

Tak perlu untuk mendapat perintah yang ketiga kalinya, ia segera menghambur. Memacu kakinya dengan kecepatan penuh. Mengikuti Long yang telah berada beberapa meter di depannya. Keduanya berlari. Derap-derap langkah memburu milik kedua pemuda itu terdengar memecah hutan yang sunyi. Mengusik ketenangan para binatang-binatang yang tengah asyik berada dalam peraduannya.

“kenapa? Ada apa?” tanya Lin dengan napas yang mulai tersengal.

“diamlah!” seru Long. “teruslah berlari. Jangan berhenti bila kau tak ingin mati di sini. Kita akan terus berlari hingga ke bukit itu,” tambah Long sembari telunjuknya mengarah lurus ke sebuah siluet gelap perbukitan.

Tepat bersamaan dengan lengkinga lolongan srigala dari balik gelapnya perbukitan. Sosok kedua pemuda itu tepat berdiri di atas bukit. Napas mereka tersengal. Keringat sebesar biji-biji jagung nampak mulai bermunculan di wajah keduanya.

“apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Lin dengan badan membungkuk dan napas yang masih tersengal.

Long masih terdiam. Berusaha untuk menata dan mengatur napasnya yang masih terengah. “aku baru saja membunuh babi hutan milik penyihir Hitam. Ia kelihatan sangat murka, sehingga mengirimkan Pasukan Bayangan untuk mengejar ku,” papar Long setelah napasnya mulai sedikit teratur.

“apa!” seru Lin dengan nada setengah tidak percaya. “bagaimana bisa kau membunuh Babi Hutan kesayangan Penyihir Hitam?”

“aku tidak sengaja Bodoh,” bentak Long. “aku hanya melihat seekor Babi Hutan hitam nan gemuk. Tanpa pikir panjang aku langsung membidikkan anak panah emas ku ke Babi Hutan itu. Ia memekik-mekik kesakitan, dan beberapa saat kemudian, sosok perempuan tua dengan wajah keriput dan sapu lidi bertobgkat muncul di dekat babi hutan yang telah mati. Ia memerintahkan Pasukan Bayangan untuk mengejar pemilik anak panah emas itu.”

“lalu bagaimana?” tanya Lin denga nada kebingungan. “apa kita akan mati ditempat ini?”

“tentu saja tidak,” jawab Long dengan yakin. “kita akan melanjutkan lagi perjalanan kita esok pagi. Ketika matahari telah terbit. Saat itu, Pasukan Bayangan menjadi tidak berdaya. Ia dan penyihir tua itu tidak akan pernah menemukan kita.”

“apa kau yakin?” tanya Lin dengan masih menyimpan nada keraguan.

“aku tidak pernah main-main dengan ucapan ku,” bentak Long. “kita hanya akan melanjutkan perjalanan ketika ada matahari. Selama malam, kita akan bersembunyi dibalik bukit ini. Ini adalah wilayah kekuasaan Kaum Uttara. Baik Penyihir Hitam maupun Pasukan Bayangan, tidak akan berani menginjakkan kakinya di wilayah ini. Kita akan aman.”

“kita hanya akan melanjutkan perjalanan ketika ada matahari?” tanya Lin dengan nada setengah tidak percaya. “itu pilihan yang gila Long. “dengan hanya melakukan perjalanan di siang hari, kita tidak akan pernah bisa mengambil Air Mancur Emas. Dan kau tahu artinya. Maka Kaum Vardent akan musnah beserta wilayah kekuasaannya.”

“tenanglah Lin,” seru Long dengan nada yang meninggi. “aku tahu itu. Tapi kita juga tidak mungkin melakukan perjalanan terus menerus. Untuk sampai ke Dorrados, tempat Air Mancur Emas berada memerlukan waktu hampir tiga kali lipat bila kita menyusuri sepanjang bukit ini.”

“tapi kita sudah kehabisan waktu Long,” sanggah Lin. “jika kita tidak tepat waktu, maka kekuatan Peri Bulan akan mencapai puncaknya saat purnama tiba. Dan itu berarti ia akan dapat bebas dengan mudah dari Penjara Barbaroosa. Dan tentu saja ia akan membalas dendam dengan menghancurkan setiap jengkal wilayah kaum Vardent dan seluruh darah keturunan Verdent. Kaum Peri Bulan akan berkuasa. Mereka akan menimbulkan kekacuan dimana-mana.”

Hening sesaat menyelimuti kedua pemuda itu. Gemerisik dedaunan yang tertiup angin, sesekali nyaring terdengar. Memecah kebisuan yang menyelimuti keduanya.

“terserah apa pilihan mu Long,” ucap Lin dengan nada pelan. “aku akan tetap melanjutkan perjalanan. Aku ingin sampai ke Barbadoos tepat waktu. Mengambil Air Mancur Emas untuk menangkal kekuatan Peri Bulan beserta kaumnya.”

Lin menegakkan tubuhnya. “aku tidak akan memaksamu untuk mengambil pilihan yang sama dengan ku Long,” kata Lin sembari mulai berjalan menuruni bukit untuk kembali ke Hutan Sihir.

“baiklah,” seru Long. “aku punya gagasan yang lebih baik Lin. Kau pergilah ke Barbadoos dengan menyusuri wilayah Hutan Sihir. Aku akan memancing agar Pasukan Bayangan itu tidak mengejar mu. Aku akan memancingnya untuk mendekati wilayah Kaum Uttara. Dan kau, berhati-hatilah dengan Penyihir Hitam. Aku tahu kau memiliki kekuatan Aura. Tapi Penyihir Hitam bukanlah lawan yang bisa dengan mudah kau kalahkan. Sebisa mungkin kau hindari dia.”

Lin mengangguk. Wajahnya nampak sedikit lebih berseri. “baiklah, kita berpisah di sini,” ucap Lin. “tepat sebelum puncak purnama, berjanjilah bahwa kita akan bertemu di bawah menara Kurcaci Emas.”

Long hanya mengangguk. Sesaat kemudian ia berlari dan menghambur dalam kegelapan. Sosoknya menghilang dibalik pekatnya gelap yang menyelimuti Hutan Sihir.

Sementara itu, Lin berjalan dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi. Berjalan menyusuri jengkal-demi jengkal wilayah Hutan Sihir yang merupakan daerah kekuasaan penyihir bengis yang biasa disebut sebagai Penyihir Hitam. Langkah-langkahna terdengar sedikit berat. Sesekali, kakinya menginjak ranting-ranting yang berserakan hingga menimbulkan bunyi retihan-retihan yang memecah kesunyian.

Dekur-dekur burung hantu, memecah kesunyian. Sesekali kepakan sayap-sayap kelelawar yang tengah mancari makan terdengar. Dari belakang kejauhan, lolongan srigala nan kesepian nampak menyayat.

“Barbadoos,” gumam Lin lirih pada dirinya sendiri. “sepertinya aku tidak asing dengan nama itu…”

Kraaackkk… kraaaackkk.

Belum sempat ia menyelesaikan gumaman lirihnya, ia mendengar suara cabang-cabang pohon yang patah. Seketika ia melompat waspada. Tangannya telah menghunus pedang kebanggaan miliknya yang sedari tadi hanya bersembunyi dibalik sarung. Matanya memicing. Tajam. Menatap ke arah suara-suara yang mengagetkannya itu.

“dasar kalian para Babon bodoh.” Terdengar suara seorang perempuan tengah berteriak. Dengan suara yang sedikit parau, ia kembali melanjutkan,” mencari dua orang manusia saja kalian tidak mampu? Sia-sia aku memberikan kekuatan dari sihir ku kepada kalian.”

“Penyihir Hitam?” gumam Lin lirih. “apa yang ia lakukan di sini? Bukankah ini adalah wilayah yang jauh dari istananya?”

“dasar kalian para Pasukan Babon bodoh,” bentak perempuan dengan suara parau itu kembali. “sekarang pergilah kalian. Aku tidak mau tahu, kau harus menemukan pemilik anak panah emas itu. Jika tidak maka kalian akan menjadi kudapan bagi Sion.”

Dengan suara paraunya, perempuan itu tertawa. Melengking. Nan panjang. Kemudian menghilang. Entah kemana. Menyisakan para babon yang hanya salinng pandang dalam mimik kebingungan.

 

Advertisements

Mari Berbagi Pemikiran :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s