Itinera Fecit et Parva Adventures

Rumah-rumah kecil itu berjajar rapai sepanjang jalan kecil menuju kawasan pertokoan. Trotoar di kanan dan kiri bahu jalan terasa lengang. Hanya beberapa saja manusia yang lalu-lalang. Trotoar berwarna gelap itu nampak sedikit basah. Maklum semalam kota kecil ini baru saja diguyur hujan rintik-rintik.

Udara dingin masih terasa sedikit menusuk pagi itu. Burung-burung merpati yang setiap pagi senantiasa turun dan mencari sisa remah-remah roti pun tak menampakkan paruh-paruh kecilnya. Mungkin baginya lebih baik untuk tetap berada di sarangnya sembari tetap berusaha menjaga kehangatan pada tubuhna.

Sang mentari nampak masih malu-malu. Ia belum sepenuhnya berani untuk menunjukkan sorot tajam kejinggaan yang biasa ia lakukan pada pagi-pagi sebelumnya.

“John!” seru seseorang sembari tergopoh berlari mendekati seorang pria bermantel kelabu dengan kerah yang menutup hingga ke lehernya.

Pria itu menoleh. Sejenak mengamati ke arah datangnya suara itu. “Brandy?” tanyanya dengan nada sedikit tidak percaya. “Kapan…?”

“wowo, tunggu dulu kawan,” kata orang itu dengan napas yang masih sedikit terengah. “biarkan aku manata napas ku dulu kawan,” lanjutnya.

Sejenak keduanya hanya terpaku saling pandang. Tatapan keduanya saling menyorot, seolah menelanjangi satu sama lain. Tatapan-tataoan itu saling menusuk, menerobos hingga ke bagian paling dalam diri mereka. Keduanya pun tersenyum.

“Kau darimana saja Brandy?” tanya John sembari melingkarkan lengan kanannya di pundak Brandy.

“ha…ha…. Kawanku John Pottman. Akhirnya, kita bertemu lagi di kota kecil ini,” kata Brandy sembari tertawa kecil. “Ceritanya panjang John. Kapan-kapan bila kita bertemu lagi, akan aku ceritakan semuanya.”

“kenapa tidak kau ceritakan saja sekarang?”

“tidak John. Tidak sekarang. Semua aka nada waktunya nanti,” sanggah Brandy dengan mimic muka yang serius. “lagi pula, aku harus pergi John hari ini, aku tidak akan lama di kota kecil ini. Aku akan kembali berkelana, berpetualang, menjadi diri ku sediri John. Aku di sini hanya untuk mencari sedikit tambahan pengetahuan saja. Dan kini aku telah dapatkan…”

John Pott,a menatap dengan mimic muka yang serius ke arah Brandy. Brandy Murrogh, begitulah nama yang ia kenal dulu. Seorang lelaki yang ia kenal ketika ia tiba d kota kecil ini, kota Pessir. John dan Brandy keduanya adalah sama-sama pendatang. John berasal dari North End, sedangkan Brandy berasal dari sebuah desa kecil yang ia katakan sebagai Laverna. Entah dimana itu? Aku sendiri pun tidak tahu. Hanya saja, Brandy pernah memaparkan secara sekilas bahwa desa itu ada di daerah Timur Jauh.

“John, apa kau yakin dengan pilihan yang kau ambil? Untuk bekerja sebagai agen pemerintah di Kota kecil ini? Kau jauh-jauh dari North End datang ke sebuah negeri makmur dan memilih menghabiskan sisa umur mu di kota Pessir yang kecil ini?” papar Brandy.

John hanya mengangguk. Sebuah jawaban yang pasti tidak asing.

“Oh, come on John,” desak Brandy lagi. “Dunia ini luas John. Ada banyak keajaiban di luar sana. Apa kau tidak ingin bersama ku, berpetualang. Menggambar semua peta dunia? Itu pasti akan sangat menyenangkan John…”

“apa kau dapat menjamin bahwa kelak hidup ku akan enak?” potong John. “apakah kau dapat menjanjikan bahwa masa tua ku kelak akan memiliki penghasilan tetap? Dan bahkan kekayaan?”

Brandy hanya terdiam. Tatapan matanya nanar. Menatap dalam-dalam wajah kawan lamanya itu.

“Maaf Brand,” suara John terdengar lemah. “aku inging menjalani hidupku dengan normal. Seperti orang-orang lainnya. Bekerja di bagian pemerintahan, kemudian memiliki penghasilan, menikahi seorang gadis, memiliki anak, dan menghabiskan masa pensiunku dengan anak dan cucu ku.”

Brandy hanya mengangguk pelan. Ia mengerti apa yang dirasakan oleh kawan lamanya itu. Ia mengerti betul perasaan itu. Karena ia pernah mengalami dilemma yang sama dengan dirinya dulu.

“Baiklah John,” kata Brandy datar. “aku memang tidak bisa menjamin bahwa suatu saat kita akan memiliki kehidupan yang cukup ketika kau ikut berpetualang bersama ku. Aku juga tidak bisa menjanjikan akan jamina masa tua yang cerah untuk kita. Namun, petualangan itu akan menjanjikans satu hal yang pasti John. Itu akan menjadi sebuah kumpulan cerita hebat. Yang akan diceritakan turun temurun kepada setiap generasi baru. Cerita yang mungkin akan member inspirasi dan dorongan…”

“atau hanya akan menjadi cerita dongeng pengantar tidur bagi anaka-anak,” tukas John dengan nada sedikit ketus.

“well. Well. Maaf John telah mengganggu mu,” kata Brandy dengan datar. “baiklah jika pilihan mu seperti itu. Aku tidak akan lagi memaksa mu. Aku akan memilih jalan ku sendiri, begitu pun kau John. Kita sudah menentukan pilihan kita masing-masing John.”

Keduanya saling menatap. Dalam. Perlahan Brandy menghela napas. Dalam. Dan lama. “John,”paparnya. “aku tidak keberatan bila kau menolak ajakan ku untuk berpetualang bersama. Aku tidak keberatan jika kau memilih jalan yang berbeda dengan ku. Kau punya tujuan. Pun begitu dengan aku. Aku juga memiliki tujuan ku sendiri John. Namun, meskipun kita memiliki jalan yang berlawanan, aku harap, kita akan tetap menjadi kawan John.”

John tersenyum. Memandang lekat ke arah Brandy. Sesaat kemudian tatapan bekunya perlahan mencair. Ia kembali mengalungkan lengan kanannya ke leher Brandy. “tentu saja Brand. Kau adalah teman pertama dan teman sejati ku di Kota ini. Kita akan terus berteman. Sampai kapan pun itu. Lagi pula, kau berhutang pada ku satu hal Brand…”

“apa itu?” tukas Brandy cepat-cepat dengan nada sedikit tak percaya.

John hanya menyungging sebuah senyuman. “kau telah berjanji padaku untuk menceritakan semua hal tentang mu dan tentang petualangan mu kepada ku. Ingat itu Brand.”

Kedua sahabat lama itu pun saling tertawa.

“Kau tahu harus mencari ku kemana Brand,” tutur John lembut. “jika kau mengalami sesuatu dan ingin kembali, maka kau sudah tahu kemana harus pulang. Rumah ku akan selalu terbuka untuk mu Brand. Pulanglah. Kau tahu harus pulang kemana bila kau menemui masalah.”

“tentu John, aku tahu. Hanya ada satu tempat di dunia ini untuk menemukan mu. Gua beruang mu yang kecil itu bukan?” canda Brandy sembari tertawa. John pun hanyut ikut tertawa. “tapi John,”lanjut Brandy. “aku akan menemui mu, itu pasti. Suatu saat nanti, namun aku tidak tahu secara pasti kapan itu. Aku akan ceritakan semua perjalanan dan kehidupan ku kepada mu.”

*******************************************************************

Purnama demi purnama telah berlalu. Tahun demi tahun telah berganti. Entah telah berapa perayaan tahun baru yang telah ia habiskan di Kota Kecil bernama Pessir itu. Entah berapa juta meter kubik oksigen yang telah ia habiskan selama ini. Entah berapa milyar tetes air yang menghujani Kota Pessir yang persis menghadap ke arah pantai itu. Entahlah. Yang jelas, John tidak akan pernah mampu untuk menghitung jumlah pastinya. Sudah cukup lama sejak aku berpisah dengan Brandy. Namun ia tak juga kunjung kembali. Tak ada kabar tentang dirinya. Apa yang telah terjadi? Dimanakah petualang tengik kecil itu berada sekarang?

John nampak melamun seorang diri. Tubuhnya yan kini telah beranjak menua itu tidak kuat untuk diajaknya lama-lama berdiri. John sang pensiunan tua itu benar-benar  telah menikmati masa tuanya. “setua apa kau sekarang Brand?” guman John perlahan.

Ting…ting…ting. Terdengar lonceng pintu depan rumah John nampak berdenting. Siapa yang bertamu sesore ini? Dengan tertatih, John melangkah menuju ke arah pintu utama rumah itu. Langkah-langkahnya kecil, seperti seorang bayi yang baru saja belajar berjalan.

“maaf ada kiriman,” kata seorang tukang pos setelah John berhasil membuka pintu rumahnya.

“dari siapa?”

“entahlah,” jawab tukang pos itu dengan singkat. “tolong tanda tangan di sini,” tambah tukang pos itu.

John tergopoh menuju ke bagian dalam rumahnya. Sembari tangannya yang sedikit gemetar, membawa kotak berwarna kecoklatan yang tadi ia terima dari tukang pos. Dengan langkah-langkah tertatih, ia berjalan menuju ke kursi santainya yang terletak di dekat perapian. Ia mengambil kacamata baca yang terletak di meja dekat kursi santainya itu.

“Brandy Murrogh?” desis John perlahan. Melihat nama pengirim itu, ia menjadi seperti kesetanan. Tangannya dengan cekatan membuka lapisan demi lapisan yang membungkus kotak itu. Sebuah Buku tebal berwarna coklat merupakan isi kotak tersebut. Sebuah buku kecoklatan dengan sampul bergambar kapal kecil dengan lentera menyala dengan warna kuning keemasan.

Perlahan John membuka lembar demi lembar buku itu. Buku itu diberi judul Itinera Fecit et Parva Adventures. Sebuah tulisan tangan halus yang sangat ia kenal. Ini adalah tulisan Brandy. Kawan lama ku. Tangan John bergetar membuka halaman demi halaman buku kecoklatan itu. Jantungnya berdegup kencang seperti habis mebyelesaikan latihan aerobic. Ini adalah kiriman pertama dari sahabatnya Brandy semenjak perpisahan terakhir mereka.

Tibalah John pada halam kelima buku itu. Sejenak tatapannya berhenti. Ia terpaku memandangi halaman itu. Ia membaca perlahan tulisan-tulisan pada halaman itu. Tak terasa, matanya mulai berkaca-kaca. Perlahan tulisan tangan itu seolah kabur. Tak jelas. Mata John kini telah basah oleh air mata yang tidak sempat ia seka. Menetes. Menjalar ke bawah, meninggalkan lapisan kornea mata, perlahan membasahi pipi yang telah menjadi sedikit keriput itu.

Teruntuk John Pottma, kawan lama ku di Pessir yang indah.

Hallo John, apa kabar mu sekarang? Ssssst. Biar aku tebak. Aku yakin kau sedang bersantai di kursi rehat kesayangan mu di dekat perapian. Bukan begitu John? Kau pasti baik-baik saja. Menikmati masa-masa senja mu dengan baik-baik saja. Sebelum aku berbicara lebih banyak lagi John, ada satu hal penting yang ingin aku sampaikan. Aku ingin meminta maaf. Bahwa aku tidak dapat memenuhi janji ku dulu pada mu. Aku tidak bisa datang kembali menemui mu di Pessir untuk menceritakan kisah-kisah ku. Aku benar-benar minta maaf  kawan lama ku. Ketika kau membaca buku ini di dekat perapian mu yang hangat di Gua beruang mu di Pessir, aku sudah tidak ada lagi di dunia ini John. Pada petualangan ku, aku menderita infeksi yang menggerogoti tubuh ku. Aku tidak akan dapat bertahan hidup, begitu kata dokter kepada ku. Mendengar itu, aku tidak ingin berhutang pada mu lebih banyak lagi. Kemudian aku tuliskan semua petualangan ku dalam buku kecil ini. Aku tuliskan semua John. Kau bisa membacanya. Mungkin ini akan memberimu sedikit kesibukan di hari tua mu. Tapi ini sudah aku putuskan John. Kau harus membacanya.

Oh ya John. Penyakit infeksi itu terus menyebar dan menggerogoti tubuh ku. Dan aku benar-benar sudah tidak mampu lagi untuk bertahan. Sudah banyak dokter dan tabib yang aku kunjungi, semuanya menyerah. Maka sudah dipastikan, bahwa aku hanya tinggal menunggu ajal ku saja. Dan aku yakin, ketika kau membuka buku ini, aku sudah bercanda bersama malaikat-malaikat. Mengenai pemakaman ku, aku sudah menuliskan surat wasiat dan meminta ku untuk menguburkan di tempat terakhir yang ku injak dalam petualangan ku. Kau mau tahu dimana  John itu? Gerbang Dunia John. Aku tidak berbohong. Disanalah aku berbaring tenang. Ku berikan peta di akhir buku ini jika kau berniat untuk mengunjungi ku di sana suatu saat nanti.

Aku telah menuliskan semuanya John. Tolong simpan ini sebagai hadiah terakhir dari sahabat lama mu, seoarng petualang kecil. Semoga kau terus mengingat aku John, sahabat lama mu ini.

Samapi jumpa John. Samapi ketemu di dunia yang lain. Aku yakin kita akan bertemu lagi. Kita akan bercanda bersama lagi, namun tidak hanya kita berdua John. Dikawani malaikat-malaikat. Jangan sedih John. Tertawalah!!!!

 

Sahabat lama mu,

Brandy Murpogh

 

Advertisements

Mari Berbagi Pemikiran :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s