Sumur Kawak

Sepotong bulan sabit nampak mengintip dari balik kelamnya awan-awan hitam yang betebaran di lembaran langit.  Sepoi angin malam berhembus. Menerobos dedaunan kering yang berguguran di ata jalan setapak yang tak terlalu terang. Suara gemerisik dedaunan yang bergeser karena ulah sentuhan angin menjadi harmoni pengiring perjalanan ini.

Aku menyusuri jalan setapak. Menginjak rerumputan kering yang menyelimuti jalan kecil itu. Batu-batu kecil dan kerikil sesekali terinjak. Memberikan sensasi yang sedikit menyakitkan di telapak kaki.

Aku terus melangkah. Ditemani sepoi angin malam yang berhembus. Berhiaskan cahaya bintang-binyang malam yang bahkan tak cukup terang untuk menyinari jalan kecil ditengah padang rumput itu.

“Ah andai saja malam ini adalah malam purnama, pasti akan sangat indah pemandangan di sini,” gumam ku perlahan sembari menyibakkan ranting kecil yang menghalangi jalan ku.

Sepi. Sungguh benar-benar sepi. Sesekali terdengar suara-suara anjing liar yang tinggal di bukit belakang ku. Bahkan sekali dua kali terdengar lolongan srigala hutan yang menyayat hati. Sedikit mencekam.

Aku terus berjalan. Menyusuri jalan setapak. Aku terus berjalan ke arah selatan. Sesekali menyibak rumput ilalang sepinggang yang menutup jalan.

“akhirnya, sampai juga aku di hutan itu,” gumam ku pelan.

Dari tempat ku berdiri, telah nampak sebarisan pepohonan yang berjajar dengan teratur. Dari kejauhan nampak hanya warna kehitaman yang mendominasi. Pohon-pohon besar dan kecil bercampur padu membentuk hutan kecil di sisi selatan Desa Kawak. Hutan yang biasa disebut sebagai hutan Kawak oleh para penduduk sekitar ini merupakan hutan tropis yang tidak terlalu besar. Bahkan, aku lebih suka untuk menyebutnya sebagai “alas” yang dalam bahasa jawa kurang lebih identik dengan daerah hutan kecil.

Hutan Kawak ini cukup asri. Daerah ini jarang terjamah oleh tangan-tangan para penduduk sekitar. Menurut desas-desus yang beredar di kalangan masyarakat, kawasan hutan Kawak ini termasuk daerah yang ‘wingit’ alias angker.  Mendengar kilas cerita yang beredar, sedikit membuat merinding bulu kuduk. Ditambah sepoi angin malam. Menambah sensasi yang semakin memacu bulu kuduk untuk bereaksi.

Beberapa saat kemudian, aku sampai tepat di depan hutan Kawak. Ku lihat sebuah jembatan kayu cukup kecil membentang di atas sebuah sungai kecil di depan hutan Kawak. Burung hantu nampak saling bersuara riuh rendah seolah mengucapkan selamat datang atas kehadiran ku di hutan Kawak.

“apa benar si Bejo itu kesini?” bisikku seorang diri.

Dengan penuh keyakinan, aku menyebrangi jembatan kayu kecil yang sudah mulai reot itu. Sesampainya di sebrang, aku kembali harus menyusuri jalan kecil setapak nan berbatu untuk semakin masuk ke dalam hutan Kawak. Gemeretak suara ranting-ranting yang patah terinjak menjadi music pengiring nan merdu. Semoga tidak ada srigala atau singa yang akan menerkam dan menikmati tulang-tulang ku ini.

“Dimana sumur tua itu? Menurut penuturan para penduduk sekitar, sumur itu seharusnya tidak jauh dari sini.”

Aku menoleh ke kiri dan ke kanan . Memperhatikan sekitar ku. Mencari tanda-tanda keberadaan sumur tua yang ada di hutan itu. Sumur Kawak. Begitu para penduduk sekitar itu menyebutnya. Sejenak kemudian, pandangan ku terpaku pada arah tenggara. Samar-samar aku melihat kobaran api kecil yang nampak menari-nari berpadu dengan terpaan sepoi angin. Pasti itu adalah letak Sumur Kawak.

Segera aku bergegas melangkah menuju ke arah itu. Gemeretak rerantingan yang terinjak tak ku hiraukan. Aku terus mempercepat langkah-langkah kecil ku untuk menuju ke Sumur Kawak itu.

“Jo. Bejo. Apa kau disitu?” teriak ku setelah sampai dibelakang pohon tak jauh dari sumur.

Sosok siluet kehitaman nampak menoleh ke arah ku. Matanya tajan menatap ku.

“jangan Jo. Jangan kau lakukan itu. Mencari kekayaan dengan perantara pesugihan adalah hal yang terlarang,” teriak ku.

“apa peduli mu?” jawab sosok itu dengan ketus.

“Jo. Bejo,” panggil ku kembali. “kau tidak boleh melakukannya. Itu dosa besar Jo.”

Sosok yang bernama Bejo itu pun berdiri. Ia meninggalkan posisi duduk bersilanya. Kami saling berhadapan. Saling memandang. Memelototi seolah saling menelanjangi.

“aku tidak peduli,” jawabnya. “aku membutuhkan uang dan harta untuk memenuhi hidup ku. Aku membutuhkan harta untuk menjaga keutuhan keluarga ku. Untuk menjaga agar istri ku tidak berpaling dan meninggalkan ku. Agar anak-anak ku bisa menempuh pendidikan setinggi mungkin…”

“anak-anak mu?” tukas ku memotong. Pertanyaan ku itu terlontar dengan nada yang sedikit meninggi sehingga sedikit membuat raut wajah Bejo menjadi berubah. “bagaiman kau akan menyekolahkan anak-anak mu setinggi mungkin? Itu tidak mungkin. Pesugihan Sumur Kawak itu akan meminta korban berupa anak-anak mu. Setiap purnama di bulan ke 11, satu persatu anak mu akan mati. Lalu satu persatu keluarga mu juga akan mati. Dan terakhir pun kau akan dijadikan tumbal olehnya. Lalu harta itu untuk apa? Tak berguna Jo.”

“omong kosong. Aku lebih mengetahui perihal tentang Sumur Kawak ini bila dibandingkan dengan dirimu. Aku sudah bertemu dengan Mbah Suro, sang Juru Kunci Sumur Kawak ini. Beliau mengatakan tidak aka nada korban asalkan aku selalu memberikan sesaji berupa sepuluh ekor gagak hitam dan sepuluh ayam cemani pada purnama di bulan ke-11 setiap tahun,” jawabnya dengan nada ketus.

“dan kau mempercayai perkataan orang tua itu? Itu omong kosong Jo. Di dunia ini, tidak ada satu pun pesugihan yang tidak memerlukan korban tumbal. Omong kosong itu.”

“Kau diam saja Sar,” ucap Bejo dengan nada meninggi. “kau pikir kata-kata dan nasihat mu itu akan membuat ku mengurungkan niat ku? Aku sudah bermimpi dengan Mbah penunggu Sumur Kawak ini, dalam mimpi ku, ia mengatakan tidak aka nada korban bila aku tetap setia padanya.”

***********

Purnama demi purnama telah berlalu. Malam ini, tepat merupakan puncak purnama pada bulan yang ke-11. Seperti biasa. Seperti pada purnama-purnama sebelumnya, Bejo sibuk menyiapkan sepuluh ekor gagak hitam mulus dan sepuluh ekor ayam cemani. Semua itu ia sembelih dan ia gantung di sebuah ruangan di dalam rumahnya. Darah-darah dari burung-burung gagak hitam dan juga ayam cemani itu ia tamping ke dalam cawan kecil. Satu cawan untuk masing-masing persembahan.

“malam ini, penunggu Sumur Kawak itu akan meminta jatah makanannya,” gumam Bejo. “aku harus menyiapkan semuanya dengan benar.”

Malam itu saat purnama tepat berada di atas kepala, suasana di rumah besar milik Bejo itu nampak berubah.  Hembusan angin yang semula tak terasa, perlahan mulai menderu. Binatang-binatang ternak milik Bejo pun nampak tidak tenang. Kuda-kuda dan sapi-sapi di halaman peternakannya tampak meringkik dan mengemoh. Kambing-kambing pun sesekali saling mengembik.

Purnama ini adalah tahun ke-10 semenjak si Bejo melakukan ritual di Sumur Kawak. Rumah Bejo kini tak lagi berdinding anyaman bamboo. Atapnya bukan lagi terbuat dari anyaman daun kelapa. Gubuk itu kini telah berubah. Menjelma menjadi sebuah istana megah. Dindingnya terbuat dari batu-batu marmer berkualitas tinggi. Tiang-tiangnya meninggi seperti istana. Halamannya pun luas, cukup untuk melakukan pertandingan sepak bola. Lantai-lantainya telah terlapisi oleh lantai keramik impor dengan kualitas nomor satu.

“Jo. Bejo.” Suara itu terdengar parau bergema memenuhi ruangan tempat si Bejo meletakkan sesaji-sesaji itu. “mana makanan dan minuman ku Jo? Aku sudah lapar.”

“se…semua sudah saya sediakan Mbah. Sepuluh ekor daging gagak hitam. Sepuluh ekor daging ayam cemani mentah. Juga masing-masing sepuluh cawan darah dari gagak hitam dan ayam cemani,” jawab si Bejo.

“Bagus sekali Jo.” Suara itu kembali terdengar parau dan berat. “namun kali ini itu tidak cukup Jo. Aku menginginkan daging dan darah lainnya.”

“tidak cukup Mbah?” tanya Bejo dengan nada yang sedikit canggung. “bukankah itu yang Mbah makan setiap tahun? Mengapa sekarang menjadi tidak cukup Mbah?”

Suara terkekeh terdengar bergema memenuhi ruangan itu. “Jo. Bejo. Sepuluh tahun sudah aku melayani mu. Memberikan harta yang berlimpah kepada mu. Ku rasa itu sudah lebih dari cukup jo. Dan sekarang kamu lah yang harus menuruti kemauan ku.”

“Maaf mbah. Maaf,” jawab Bejo dengan terbata. “Apa yang harus saya sediakan lagi”

Kembali suara tawa menggema menyelimuti ruang persembahan. “kau tidak perlu menyiapkan apa-apa Jo. Karena kau yang aku ingin kan. Kau akan menjadi tumbal untuk ku, dan tahun-tahun berikutnya adalah seluruh keluarga mu.”

Bejo nampak terperanjat. Keringat dingin mulai bermunculan dari pori-pori diwajahnya. “Ta…tapi. Bukankah dulu dalam perjanjian tidak ada tumbal Mbah?”

“tidak ada tumbal? Apa kau tidak bertanya pada si Suro, juru kunci ku?” suara itu bergema.

Bejo hanya menggeleng.

“sepuluh gagak hitam dan sepuluh ayam cemani itu, memiliki arti bahwa aku hanya bisa melayani mu selama sepuluh tahun. Setelah sepuluh tahun, aku akan menjadikan mu tumbal. Dan tahun-tahun berikutnya, aku akan menjadikan keluarga mu sebagai tumbal satu persatu. Itu perjanjian yang berlaku diantara kita Jo. Tidak akan bisa dibatalkan.”

“tidak mungkin,” teriak Bejo dengan ketakutan. Ia berlari keluar ruangan persembahan.  Dengan penuh ketakutan ia berlari. Namun bayangan hitam itu mengejar Bejo keluar ruangan. Bejo terus berlari. Berusaha untuk menuruni anak tangga untuk menuju ke ruangan di lantai bawah. Dengan bertelanjang kaki ia menuruni tangga. Namun naas bagi si Bejo, karena terburu-buru dan diselimuti dengan rasa ketakutan, ia tidak menyadari bahwa pijakan kakinya tidaklah sempurna. Ia tergelincir dari anak tangga. Ia terjatuh. Kepalanya berkali-kali membentur anak tangga. Darah segar mengucur dari kepala dan telinga si Bejo.

Di lantai pertama rumahnya, si Bejo terkapar kaku tepat di bawah tangga. Kepalanya bersimbah darah. Tubuhnya tenang. Tak terlihat gelombang naik turun di dadanya. Rupanya itulah akhir riwayat si Bejo. Menjadi korban dari penunggu Sumur Kawak yang sepuluh tahun lalu ia temui.

Setelah meninggalnya si Bejo, aura suram terus menyelimuti rumah mendiang si Bejo. Satu-persatu anggota keluarganya dililit oleh masalah. Anak pertama mereka tersandung kasus narkoba. Setelah beberapa saat menjadi buronan, ia ditemukan tewas terkapar di hutan pinggir sungai kecil di depan Hutan Kawak. Anak keduanya pun tewas dengan mengenaskan, ia ditemukan tewas dengan menggantung diri di sebuah pohon di dekat tempat kematian kakaknya. Belakangan diketahui bahwa ia putus asa karena hamil di luar nikah dan pria itu menghilang entah kemana. Si Ratih, istri Bejo pun divonis oleh dokter menderita kanker ovarium stadium tiga. Harta peninggalan mendiang suaminya pun habis untuk berobat kesana kemari. Namun tak menampakkan hasil yang pasti. Hingga akhirnya  Ratih pun ditemukan tewas di kamarnya.

Rumah megah bak istana itu kini tiada lagi yang menghuni. Entah kebetulan atau memang sudah menjadi takdir, tanpa ada apapun tiba-tiba saja rumah itu terbakar. Semua hilang. Tak berbekas. Menyisakan kepingan-kepingan berupa abu hitam sisa kebakaran. Tidak ada yang tersisa dari keluarga mendiang si Bejo, pun tidak ada yang tersisa dengan harta si Bejo yang bertumpuk-tumpuk itu. Semua sirna. Semua musnah.

Advertisements

Mari Berbagi Pemikiran :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s