Kapten Bast

Aku adalah Bast. Ya, setidaknya begitulah mereka memanggil ku. Terkadang tak sedkit yang menambahkan sebutan Kapten Bast pada penyebutan namaku. Entah. Aku tidak tahu secara pasti darimana sebutan itu berasal. Namun setidaknya aku telah mulai mendengar sebutan itu sejak setahun terakhir ini. Kapten Bast, sepertinya julukan yang tidak terlalu buruk menurutku. Peralahan sepertinya aku mulai tahu alasan dibalik penyematan sebutan ‘Kapten’ pada nama ku itu. Sepertinya itu berawal dari semua keinginan-keinginan dan juga mimp-mimpi yang telah aku umbar kepada para penduduk dan semua orang disekitar pesisir ini. Tentang sebuah mimpi bodoh yang seperti oase di tengah padang pasir yang perlahan mulai menguap. Tentang mimpi-mimpi konyol yang setiap hari menjadi bahan ledekan dan guyonan pasar setiap nelayan dan para saudagar di pesisir itu. Ya. Sebuah mimpi yang mungkin terasa sangatlah konyol. Tapi entah kenapa, meskipun itu terlihat konyol, aku tetaplah bangga dengan apa yang telah aku impikan. Berpetualang mengarungi setiap inchi samudra yang ada di atas muka Bumi ini. Itulah mimpi yang terlihat konyol. Mengarungi setiap inchi samudra? Bagaimana mungkin? Samudra tidaklah bertepi. Sepanjang hamparan Bumi ini menyerupai lembaran kertas yang tidak berujung. Bagaimana Kau akan menjejakki setiap inchi permukaan samudra? Setidaknya begitulah kritikan yang mereka lontarkan pada ku. Aku sendiri tidak tahu. Apakah semua saudagar dan nelayan di pesisir ini tidak pernah mendengar nama dan cerita tentang si Columbus yang legendaris itu? Yang telah berlayar dari kegelapan benua Eropa menuju ke Dunia Baru yang bernama Amerika? Ah entahlah. Aku tidak peduli apakah mereka mengetahui cerita itu ataukah tidak. Satu hal yang pasti, aku mendengar cerita itu dari Ibuku. Sebuah cerita yang senantiasa ia ceritakan kepadaku menjelang tidur. “Lihat itu! Sang Kapten Bast hendak berlayar,” seru salah satu nelayang dengan nada meledek. “Benar,” sahut yang lainnya sembari melemparkan jarring-jaringnya ke atas perahu. “Mau berlayar kemana Kapten?” “Tidakkan Engkau butuh awak kapal Kapten?” Ledek seorang lainnya sembari tertawa. Tak pelak, tawa riuh rendah meledak. Memecah debur suara ombak senja di pesisir itu. Aku hanya tertegun. Sembari menatap kaki langit yang telah berwarna jingga hendak menelan bulat-bulat Sang Penguasa Siang. Hati ku berdenyut. Pikiranku meracu. Mungkin mereka benar. Tak seharusnya aku memikirkan semua celotehan mereka. Aku harus yakin dengan apa yang telah aku yakini. Dengan apa yang telah menjadi bagian dalam hidup ku. Waktu senantiasa berputar. Meninggalkan segalanya. Baik yang terlena maupun yang terjaga, semua tertinggal oleh waktu yang tak terkejar. Begitu pula dengan ku. Setiap hari aku mengejar Sang Waktu dengan membuat sebuah kapal kecil yang hendak aku gunakan untuk berlayar. Ya. Berlayar menembus Dunia Baru. Dunia yang aku sendiri tak tahu. Apa yang aka nada di Dunia Baru? Kehidupan seperti apa yang akan aku jalani di Dunia Baru? Sejatinya aku pun tidak mengetahuinya. “Hei Kapten,” seru salah seorang nelayan dengan nada yang cukup ketus. “Mengapa Kau bersusah-susah dengan hidup mu? Untuk apa kau menuruti mimpi mu yang konyol itu? Kau hanya membuang waktu dan sisa hidup mu semata? Hiduplah seperti anak-anak nelayan yang anak-anak nelayan yang lain. Mereka bekerja mencari ikan dengan bernelayan setiap hari. Asalkan perut mu kenyang itu sudah cukup bagi mu. Tidak perlu kau membuang waktu dari sisa hidup mu dengan perjalanan yang tidak perlu. Kau hanya akan menyiksa diri mu. Apa kau siap untuk hidup merana dengan perut kosong setiap hari di usia tua mu nanti? Sadarlah. Mengapa harus berbeda? Lihat anak-anak nelayan di sekitar mu ini? Setiap hari mereka berlayar, menangkap ikan, menjualnya kepada saudagar. Kemudian mereka mengisi perut-perut mereka dengan berbagai makanan yang enak-enak. Dengan berbagai jenis anggur yang enak dan terkenal. Mereka tidak perlu memperdulikan hal-hal yang lainnya.” Aku hanya melempar senyum kepadanya. Kurasa itu adalah jawaban terbaik yang dapat aku berikan atas semua nasihat dan pemikiran yang ia utarakan pada ku. “Aku ingin melihat Dunia yang sebenarnya. Aku ingin membuat peta Dunia,” gumam ku pada diri sendiri sembari terus memukuli paku-paku yang menancap pada dinding-dinding kapal yang sedang aku bangun. Satu hari telah berlalu. Dua hari telah berlalu. Satu minggu, dua minggu telah beranjak menjadi satu bulan. Bulan demi bulan telah berganti. Tak terasa tepat telah dua tahun. Dan saat itulah aku merasa bahwa kapal yang telah aku rancang dan ku bangun telah selesai. “Semoga Kau cukup kuat untuk menghadapi badai yang mungkin siap menelan kita berdua hidup-hidup.” Hari itu aku sangat sibuk dan bersemangat. Aku siapkan berbagai hal dan bermacam keperluan yang sekiranya akan aku butuhkan untuk menunjang pelayaran ku mengarungi setiap inchi permukaan samudra yang ada di permukaan Bumi. Mungkin aku terlalu bersemangat. Tanpa sadar aku pun tertidur di atas kapal ku karena kelelahan yang melanda. Rasanya setiap tulang-tulang ku ini seperti dilolosi dari setiap jerat otot yang mencengkramnya. “Siapa Kau?” tanya ku pada seorang tua yang berdiri di hadapan ku. Orang tua dengan jubah dan rambut yang telah mulai memutih itu hanya tersenyum sembari memandangi ku. “aku adalah dirimu,” jawabnya dengan nada yang ramah. “Aku tidak mengerti,” jawab ku. “Mengapa kau terlihat sangat tua?” tanya ku dengan nada keheranan. Kembali orang tua itu hanya tersenyum menatap ku. Senyuman itu tidak menjawab rasa penasaran yang ada dalam benak ku. Rasa penasaran itu masih saja menari-nari dalam setiap sudut ruang dalam pikiran ku. “Aku masih tidak mengerti,” gumam ku pelan. “Kau memang tidak akan mengerti sekarang ini. Namun suatu saat nanti kau akan mengerti dengan sendirinya. Aku hanya ingin mengingatkan kepada mu. Berhati-hatilah dalam perjalanan mu. Waspadalah dalam setiap pelayaran mu, karena berbagai badai siap menelan mu setiap waktu. Tetaplah bertahan. Apapun yang terjadi, bertahanlah dengan kapal dan pelayaran mu,” kata orang tua itu. “Bersenang-senanglah dengan mimpi dan pelayaran mu, jangan sampai tenggelam dalam samudra fatamorgana…” Aku tergagap. Terbangun setelah mendapat siraman seember air asin bekas untuk mencuci ikan hasil tangkapan para nelayang. “Bangun anak nelayang pemimpi konyol,” gerutu orang itu dengan nada yang ketus. Aku berdiri. Menatap terbitnya sang penguasa siang dan pemilik siang. Mentari telah tertib dan bercokol dengan gagah di singgasananya yang terlihat berwarna kuning keemasan. “Sudah tiba rupanya saat bagi ku untuk berlayar meninggalkan pesisir dan pulau kecil yang telah membesarkan ku ini. Sudah tiba waktu ku untuk berlayar, membawa semua mimpi dan harapan ku. Membawa mereka semua menuju ke Dunia Baru yang sebenarnya tidak aku ketahui dimana letaknya, seperti apa ujungnya dan bagaimana keadaannya.” Aku melenguh. Perlahan ku tarik sauh yang ada pada kapal ku. Ku kembangkan layar utama dan layar-layar lainnya pada kapal ku. Ku rasakan hembusan angin laut yang menerpa tubuh ku. “Aku siap,” gumam ku perlahan. Perlahan kapal ku menerjang setiap deburan ombak pesisir kecil itu. Perlahan pergi menjauh, meninggalkan pesisir dan segala kenangan yang ada pada pesisir dan pulau kecil itu. Aku berlayar. Berlayar menuju ke Dunia Baru. Berpetualang dengan dunia dan mimpi ku. Berpetualang untuk mencari jati diri ku sendiri. mencari makna dari kehidupan ku sendiri. Aku berlayar dengan kebanggan. HARAPAN DAN IMPIAN adalah nama yang aku sematkan pada Lambung Kapal dan Layar Utama Kapal kecil itu. “Mulai saat ini, perjalanan dan petualangan ku di mulai. The Journey Begin by now,” teriak ku pada hamparan laut berhias ombak dan burung-burung camar yang beterbangan kesana kemari.

Advertisements

Mari Berbagi Pemikiran :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s