Senja Di Pelabuhan Matahari

Aku menyepi. Hatiku menangis. Jiwa ku meratap ketika menatap sekumpulan burung-burung camar beterbangan di atas hamparan ombak yang berdebur. Hatiku serasa teriris pilu ketika aku menatap langit senja yang berwarna jingga. Hati ku serasa membeku, ketika angin laut yang berhembus itu menusuk ku. Aku seolah mematung tatkala angin-angin laut menerobos dan menghujam setiap titik sendi-sendi dan tulang-tulang ku. Ah aku seolah sangatlah menderita.

            Ya, aku memanglah sedang menderita. Menderita mengenang segala kenangan di tempat ini. Pelabuhan Matahari orang-orang menyebutnya. Pelabuhan yang senantiasa dipenuhi oleh warna jingga ketika senja mulai tiba, dihiasi kawanan burung-burung camar yang beterbangan saling mengejar diantara deburan ombak pantai Matahari. Dan ditempat ini pulalah, Kapal Matahari yang berwarna putih dengan guratan hijau itu membawa mu pergi. Menjauh dari ku. Memisahkan jiwa-jiwa kita yang telah lama saling mencinta.

*****************

            “Mengapa Kau mengajak ku kemari?” Tanya ku pada Arlin.

Dia hanya terdiam. Sibuk tenggelam dalam lamunanya. Tatapan matanya tak henti menatap deburan ombak Pantai Matahari yang saling bekerjaran. Sesekali mendebur ke arah  sekawanan burung camar yang terbang rendah untuk sekedar menangkap ikan-ikan kecil.

“Lin!” Seru ku pelan sembari berjalan mendekat.

“Aku akan pergi,” jawabnya singkat.

“Pergi? Apa maksudmu? Pergi kemana?” Aku mencecar.

Ku lihat Ia menghela napas. Dalam dan lama.

“Aku akan pergi meninggalkan Kota ini. Aku akan mengejar mimpi ku,” jawab Arlin. “Kau tahu kan aku ingin menjadi seorang Dokter? Aku sudah berjanji pada almarhum Ibu ku untuk menjadi seorang dokter karena aku ingin menyelamatkan lebih banyak lagi orang-orang penderita kanker.”

“Lalu?” Aku memotong.

Dia menoleh ke arah ku. Menatap lekat ke arah ku.

“Aku akan menggapai mimpi itu. Aku akan pergi ke negeri seberang. Aku akan menuntut ilmu disana. Aku akan menjadi seorang dokter terbaik di negeri ini. Aku ingin menyelamatkan lebih banyak lagi orang-orang di sekitar ku…”

“Apa kau gila? Pergi menuntut ilmu di negeri seberang? Darimana kau punya uang begitu banyak untuk membiayai mu dalam menuntut ilmu dan hidup mu disana? Hidup di kota besar di negeri sebrang sungguh kejam Lin. Apa kau ingin membunuh ayah mu? Ayah mu bukan siapa-siapa Lin di kota ini, darimana Ia akan memiliki uang yang begitu banyak untuk memenuhi ego dan ambisi mu itu?”

“Ini bukan ego!” seru Arlin dengan nada yang mulai meninggi.

Ku lihat matanya mulai berubah lembab. Perlahan air mata mulai membasahi wajahnya.  Sesaat aku dan arlin saling terdiam. Sibuk menata hati.

“Aku tetap akan pergi. Aku akan memenuhi janji ku pada almarhum Ibuku, “ kata Arlin pelan.

Aku menoleh sembari mengernyitkan dahi.

“Aku mendapatkan sedikit beasiswa untuk menuntut ilmu. Tapi tidak sepenuhnya. Itu hanya akan membiayai sebagian dari biaya ku untuk menuntut ilmu…”

“Lalu bagaimana kau akan hidup?”

“Aku akan mencari pekerjaan sampingan disana.”

Aku terdiam. Menatap matahari senja yang mulai tenggelam dibalik deburan pantai matahari. Aku tahu, tidak mungkin untuk menahan Arlin agar tidak pergi. Aku tahu siapa Arlin. Dia adalah wonderwoman. Tidak mungkin untuk menghentikan apa yang telah Ia ingin kan. Dan aku pun tahu, ia begitu keras dalam memegang prinsip, seperti sosok Ibunya yang sangat Ia cinta.

“Ini adalah mimpi ku dan juga janji ku pada almarhum Ibu ku. Aku harap kamu mengerti. Aku tidak bisa berbuat apa-apa ketika Ibu ku berjuang melawan kanker. Dan itu membuat ku sedih. Aku tidak ingin lebih banyak lagi orang-orang yang mederita seperti itu. Apapun yang terjadi, aku tetap akan pergi, “ kata Arlin dengan pipi yang semakin basah dengan air mata.

“Aku tidak bisa menahan mu. Pergilah. Kejarlah apa yang menjadi impian dan cita-cita. Kejarlah cita-cita mulia mu itu. Aku harap suatu hari nanti, kau akan….”

Arlin memeluk ku dengan erat, dengan diselingi isak tangisan.

“Setelah selesai, aku akan pulang. Aku akan menemui mu. Aku akan menjadi dokter terbaik di negeri ini, aku akan membantu lebih banyak lagi orang-orang yang menderita.”

“Aku akan tunggu. Aku akan menunggu mu. Aku akan menunggu semua cerita mu.”

Tepat minggu ketiga bulan September. Senja telah mulai menggelayut  manja di atas langit Pelabuhan Matahari. Ku lihat lalu lalang para kelasi dan para penumpang saling berjubal menuju ke kapal-kapal yang tengah bersandar di Pelabuhan terbesar di Negeri kami itu.

“Itu kapal yang akan membawa mu ke Negeri sebrang,” kata ku sembari menunjuk ke arah sebuah kapal yang tengah bersandar. Di badan kapal tertulis jelas Kapal Matahari. Seluruh badan kapal itu berwarna putih dengan guratan berwarna hijau.

Arlin hanya mengangguk sembari tersenyum. “Iya. Itu kapal yang akan membawa ku untuk menggapai mimpi ku. Dan kapal itu pula yang nanti akan membawa ku pulang ke negeri ini….”

“Dan menemuiku kembali,” potong ku.

Aku melepas Arlin di senja itu. Tepat di minggu ketiga bulan September. Perlahan Kapal Matahari mulai bergerak meninggalkan sandaran pada Pelabuhan Matahari. Aku terus menatap ke arah kapal yang sedang membawa Arlin. Perlahan Kapal Matahari semakin tenggelam di kejauhan, diselimuti warna kejinggan yang tengah menggantung manja.

Hati ku berdebar. Bergejolak. Aku melihat kapal-kapal rescue sedang memacu menuju ke arah lautan meninggalkan Pelabuhan Matahari. Hati ku semakin bergejolak, aku melihat warna jingga yang semakin berkobar diantara serpihan warna senja itu. Hati ku bertanya-tanya. Apa itu. Apa yang sedang terjadi. Kenapa kapal patrol banyak yang meninggalkan Pelabuhan Matahari?

Aku benar-benar kalut. Aku tidak percaya. Ini seperti mimpi buruk. Aku mendengar bahwa Kapal Matahari, kapal yang membawa Arlin dengan segala mimpi-mimpinya itu terbakar hebat di tengah lautan. Tidak ada satu pun yang tersisa. Seluruh penumpang dinyatakan telah tewas.

Aku tidak ingin bangun dari mimpi buruk ini. Tapi apa daya, ini bukanlah mimpi buruk. Ini adalah garis hidup yang harus aku jalani. Bukan hanya sekedar mimpi buruk ditengah tidur siang.

**************

Dan tepat hari ini adalah minggu ketiga di bulan September, dihari yang sama dengan lima tahun yang lalu. Hari dimana Kapal Matahari terbakar di tengah lautan, menghanguskan tubuh dan juga mimpi serta cita-cita mulia seorang anak manusia, Arlin calon dokter terbaik dari Pelabuhan Matahari.

“Aku masih menunggu mu Lin. Meskipun kau tak lagi mungkin untuk pulang kembali ke Kota ini. Menemui ku di Pelabuhan Matahari. Pelabuhan yang menjadi saksi perpisahan kita. Semoga kau selalu bahagia di sana, berjumpa dengan Ibu mu yang sangat kau cinta. Jangan pernah melupakan Pelabuhan Matahari. Pelabuhan terindah tempat kita menuliskan mimpi-mimpi kita.”

 

 

 

2013.

Advertisements

Mari Berbagi Pemikiran :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s