Gitar Tua Ayah

Butiran tetesan air hujan perlahan bergerak menuruni kaca jendela bus yang aku tumpangi. Aku terhenyak, menatap pemandangan ke luar kaca. Pikiran ku melayang mengembara. Terkenang dengan apa yang dikatakan oleh Wulan. Aku turut larut dan tenggelam dalam balutan rinai turunnya butiran hujan yang perlahan menyapu kaca jendela di samping kiri ku itu.

Bus masih melaju dengan kecepatan sedang. Pemandangan malam kota Melbourne tidak terlalu terlihat indah malam itu. Hujan yang turun begitu deras menyelimuti indahnya pemandangan dan sorot lampu kota Melbourne.

Apa kamu tidak lagi memperdulikan ayah mu? Apa kau tak ingin lagi berjumpa dengannya? Apa kau tak lagi merindukannya? Bukankah Dia adalah orang yang sangat kau cintai? Mengapa kau kini berubah seratus delapan puluh derajat? Apa kota Melbourne telah mengubahmu menjadi anak laki-laki yang tak lagi memperdulikan sosok ayahnya?

Pernyataan-pernyataan yang dilontarkan oleh Wulan itu masih terngiang dalam benak ku. Sepertinya enggan untuk beranjak dari relung pikiran ini. Pikiran ku semakin jauh melayang. Teringat kenangan saat aku bersama dengan ayah ku. Teringat masa-masa indah itu. Masa-masa indah yang tak akan dapat terulang sama persis. Tanpa ku sadari mulai menetes air mata.

*******

                “Kamu itu anak laki-laki, dan anak laki-laki tak boleh cengeng hanya karena kau gagal dan tidak juara dalam lomba Band antar SMA. Bukankah tanpa melalui perlombaan band pun kamu bisa menjadi seorang pemain musik yang hebat nanti?” Kata Ayah ku sambil memeluk ku dengan penuh kehangatan dan kasih sayangnya.

Sejenak aku terdiam. Ku pandangi wajah Ayah ku yang semakin terlihat menua di makan usia itu. Wajahnya teduh memancarkan cahaya kasih sayang.

Dengan tangan kanannya yang terlihat menghitam legam itu ia membelai kepala ku perlahan. Kemudian Ia kembali berkata,” kamu tidak harus menjadi juara untuk bisa menjadi seorang pemain musik yang hebat. Asalkan kamu senantiasa berlatih dengan sungguh-sungguh dan juga bekerja keras, niscaya kamu pun suatu saat nanti akan dapat menjadi seorang pemain musik yang hebat. Teruslah berlatih.”

Aku mengangguk pelan. Perlahan aku menyeka air mata ku dengan tangan ku. Dengan gitar yang masih terselempang di punggung ku, aku memeluk erat tubuh ayah ku. Aku dapati kehangatan yang begitu mendalam dalam pelukan itu.

“Bagi Ayah, walaupun kamu tidak bisa menjadi juara dalam perlombaan ini, tapi bagi Ayah, kamu adalah juara sejati yang pernah Ayah lihat. Ayah akan selalu bangga dengan mu. Mari kita pulang dan berlatih lebih keras lagi.”

Aku hanya mengangguk. Rasa kecewa itu masih menyelimuti dalam diri ku. Kekecewaan karena tidak bisa menjadi juara dalam lomba band antar SMA yang sarat akan gengsi itu. Aku dan Ayah berjalan beriringan menyusuri jalan yang ada di hadapan Gedung Pertunjukan Opera Seni. Berjalan diantara barisan bunga yang berwarna-warni layaknya pelangi yang muncul setelah hujan reda itu.

“Ayah!” Seru ku memecah keheningan. “Meskipun aku tidak menjadi juara dalam perlombaan ini, apakah Ayah masih mau untuk mengajari aku bermain gitar?”

Dengan lekat ayah memandang ke arah ku. Aku hanya tertunduk. Sesaat kemudian tangan kanan yang terlihat lebih legam karena setiap hari terpapar matahari itu merangkul ke pundak ku. “Juara ataupun tidak, selama kamu masih membutuhkan bantuan ayah,pasti ayah akan dengan senang hati untuk membantu. Dan suatu hari nanti, pasti kamu akan jauh lebih hebat dan tidak membutuhkan bantuan ayah lagi. Pada saat itu, umur ayah akan semakin tua, tangan dan jari-jari ayah tak lagi kuat untuk menekan senar gitar dan juga tak lagi lincah dalam berpindah chord.”

Aku hanya tersenyum mendengar apa yang dikatakan ayah ku itu. Dalam hati aku berpikir bahwa ayah ku adalah ayah terhebat di dunia ini, beruntung sekali aku memiliki ayah sepertinya. Terima kasih Tuhan telah mengirimkan aku seorang Ayah yang sangat luar biasa.

Detik demi detik telah berlalu dan berganti menjadi menit. Menit demi menit pun perlahan berjalan berganti menuju ke jam. Jam demi jam telah berlalu berganti menjadi hari. Hari ini berlalu dan berganti hari esok. Hari esok pun berlahan berganti menjadi bulan, dan bulan demi bulan telah terlewati dan musim pun telah berganti.

Seiring dengan berjalanya waktu, aku pun tumbuh dewasa. Dan kini aku telah menentukan pilihan jalan hidup yang akan aku lalui. Aku telah memutuskan untuk melanjutkan studi ku di kota Melbourne. Aku memilih untuk belajar di sekolah musik untuk memperdalam ilmu dan pengetahuan ku akan musik. Aku ingin mewujudkan mimpi ku yang telah lama terpendam, yakni menjadi seorang pemain musik terhebat sepanjang sejarah. Dan aku merasa bahwa jalan ku untuk itu semakin terbuka lebar. Bahkan aku pun tinggal selangkah lagi akan mendapatkan beasiswa penuh untuk kuliah di Universitas Musik Dan Seni itu. Aku hanya harus melaukan tes wawancara terakhir untuk mengetahui kondisi psikologis ku. Dan itu hanyalah tes formalitas semata.

Tepat semalam sebelum keberangkatan ku menuju ke Melbourne, ayah mengajak ku untuk mengunjungi kakek ku. Kami berdua menaiki sepeda motor ke rumah kakek yang jaraknya sekitar 60 mil dari rumah kami. Dengan sepeda motor tua ayah, kami menyusuri jalanan. Tepat di sepertiga perjalanan, hujan turun begitu lebat. Lebatnya hujan yang turun menghalangi pandangan kami.

Dan tepat di sebuah belokan mil ke-30  arah luar kota, Ayah ku kehilangan keseimbangan. Kami tergelincir karena jalan aspal yang begitu licin. Kami pun terperosok ke luar jalan. Ayah ku terhempas dari sepeda motor tuanya. Kepalanya terluka dan mulai mengucurkan darah. Tapi ia masih sanggup untuk berdiri dan melakukan panggilan darurat.

Sementara, aku terjatuh tepat di samping motor tua ayah ku. Aku tidak merasakan ada luka sedikit pun pada tubuh ku. Aku juga tidak melihat ada darah yang menetes dari setiap bagian tubuh ku. Sejenak aku berpikir lega bahwa aku tidak terluka. Aku pun mulai mengkhawatirkan keadaan ayah ku yang masih mengucurkan darah.

“Kau tenang saja, Ayah tidak apa-apa. Ini hanya luka robek saja, ayah pernah mengalami yang lebih parah dari ini. Jadi kamu tidak perlu khawatir,” kata ayah ku meyakinkan aku. “Bagaimana dengan mu? Apa kamu baik-baik saja? Tidak ada yang terluka kah?”

Setelah tegak berdiri aku hanya menggeleng. Ayah ku pun tersenyum lega.

Sesaat kemudian, polisi dan ambulance telah datang. Kami pun segera dibawa menuju ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan medis. Terutama ayah ku yang harus segera mendapatkan jahitan pada dahinya yang masih mengucurkan darah itu.

Keesokan harinya aku berangkat menuju ke Melbourne. Tepat sampai di Universitas, aku langsung melakukan tes wawancara. Aku dapat melewatinya dengan sangat baik. Tak terduga, calon sponsor beasiswa tersebut meminta kepada para calon penerima beasiswa unuk memainkan musik sebagai ajang unjuk bakat. Dengan senag hati aku berjalan menuju ke hadapan mereka. Aku mengambil gitar akustik yang telah tersedia.

Perlahan aku memainkan gitar itu untuk memainkan sebuah lagu. Awal aku memainkan gitar berjalan cukup lancar. Ketika aku harus pindah ke chord yang melibatkan kunci tegak, aku merasakan sakit yang tak terperi di pergelangan tangan ku. Dan perpindahan ke chord-chord berikutnya tidak berlangsung dengan baik. Aku mulai tidak bisa memainkan chord gitar dengan baik dan tepat. Nada-nada sumbang terdengar menghiasi permainan gitar ku. Rasa sakit di pergelangan tangan ku pun semakin tak terperi.

Dan hari itu adalah hari yang cukup mengecewakan untuk ku. Aku dinyatakan gagal dan tidak bisa mendapatkan beasiswa penuh di universitas itu. Dengan lesu aku berjalan meninggalkan Universitas. Pikiran ku terus melayang, mencoba mencari tahu apa yang salah dengan tangan kiri ku. Penelusuran ku terhenti pada kejadian sebelum aku berangkat ke Melbourne.

“Mungkinkah kecelakaan itu yang membuat tangan kiri ku menjadi sakit seperti ini?” Gumam ku perlahan.

Kekecewaan ku tidak terhenti hingga di situ. Setelah aku konsultasi ke dokter, aku harus menerima sebuah kenyataan yang sangat memukul hati ku. Pergelangan tangan ku mengalami cedera. Bukan hanya cedera otot semata, tapi juga ada bagian saraf pada pergelangan ku yang cedera. Ketika dokter memvonis  bahwa aku tidak akan bisa lagi bermain gitar dengan baik, itu sangat menghancurkan hati ku. Aku merasa dunia ku telah runtuh. Aku merasa masa depan ku untuk menjadi seorang pemain musik hebat telah musnah. Semua telah hancur karena kecelakaan itu.

Dengan nada marah, menyesal dan kecewa, aku menghubungi ayah ku. Aku meluapkan semua amarah ku pada ayah. Aku berbicara dan membentak dengan nada tinggi. Dan akibat perbuatan ku itu, inilah kali pertama aku mendengar suara tangisan ayah ku itu. Ayah terhebat ku menangis tak berdaya. Dan semenjak saat itu aku tak lagi menghubungi ayah ku. Bahkan untuk menanyakan apa kabar pun tidak aku lakukan. Aku merasa sangat marah, dan aku merasa bahwa aku pantas untuk menumpahkan kesalahan itu pada ayah ku.

******

                Butiran hujan yang jatuh di kaca jendela bus itu perlahan berkurang. Hujan perlahan mulai reda. Samar-samar aku kembali dapat melihat pemandangan malam kota Melbourne yang penuh warna-warni lampu malam itu.

Tiiiit. Tiiiit. Tiiiit.

Aku melihat ada sebuah pesan yang masuk ke handphone ku. Aku melihat itu adalah pesan dari Wulan.

Maaf untuk tadi sore. Aku tidak bermaksud untuk menyudutkan dan juga membentak mu. Aku hanya ingin kau tahu bahwa, jangan sampai kau melupakan sesuatu yang sangat berharga dalam hidup mu. Mungkin ia yang membuat mu tidak bisa menjadi pemain musik terhebat, tapi dia adalah ayah terhebat mu. Jangan lupakan itu.

Aku kembali menatap ke luar kaca jendela. Menyelami kembali dunia ku.

Tak apa. Terima kasih telah mengingatkan kepada ku. Malam ini aku akan ke luar kota, aku akan mengunjungi Ayah ku. Esok hari aku akan bertemu dengan Ayah terhebat ku di rumah kecil kami.

Balasan itu aku kirim kepada Wulan. Tak lama kemudian, handphone ku kembali berbunyi. Ku lihat pesan masuk.

Baguslah kalau seperti itu. Itulah hal yang seharusnya kau lakukan. Good Luck. Sampaikan salam ku untuk Ayah terhebat mu di dunia .

Hari telah beranjak pagi. Ku lihat mentari menyambut kehadiran ku kembali di kota kecil ku ini. Kota tempat aku dilahirkan dan juga menghabiskan masa-masa indah ku bersama ayah terhebat ku di dunia.

Aku telah berdiri di depan sebuah rumah sederhana yang tidak terlalu besar. Cat biru di pagar depan rumah itu perlahan mulai mengelupas termakan usia. Perlahan aku melangkahkan kaki memasuki rumah kecil itu, rumah yang penuh dengan kenangan indah ku bersama orang terhebat di dunia, Ayah ku.

Tak terasa, mata ku mulai berair ketika aku melihat seorang pria dengan rambut yang telah berubah menjadi putih itu membuka pintu depan rumah mungil itu. Ku lihat raut lukisan kaget tergambar jelas di wajahnya. Perlahan, aku melihat matanya  berubah menjadi merah lalu menitikkkan air mata. Aku pun berlari menghampiri pria tua dengan rambut memutih itu. Memeluknya dengan sangat erat. Dan ini adalah kali kedua aku melihat Ayah terhebat ku menitikkan air mata di deoan ku.

“Maafkan aku, Ayah,” kata ku sembari menangis dalam pelukannya.

“Tidak ada yang perlu untuk di maafkan. Kau adalah putra ayah, sampai kapan pun akan menjadi putra ayah, dan ayah akan selalu memaafkan mu karena memang tidak ada yang perlu untuk di maafkan,” kata Ayah semabri memeluk ku dengan sangat erat.

Aku duduk bersandar pada kursi tua berwarna kecoklatan di sudut teras rumah keci itu. Dari dalam rumah, aku lihat Ayah ku berjalan sembari menenteng sebuah gitar berwarna kecoklatan. Aku memandang lekat ke arah ayah ku. Gitar itulah yang sering aku mainkan dahulu.

“Aku berikan gitar ini untuk mu. Main gitarlah kembali,” kata ayah ku dengan mata berbinar.

Aku menggeleng. “Aku tidak bisa bermain gitar dengan baik lagi Ayah.”

“Jangan terlalu percaya dengan apa yang dokter katakan padamu,” kata Ayah sembari tersenyum. “Ayah dulu pernah mengalami apa yang kamu alami. Pergelangan tangan kiri ayah juga pernah  cedera seperti mu. Tapi ayah terus berlatih dari awal dan dari  dasar. Perlahan ayah pun kembali dapat memainkan gitar dengan baik. Cobalah! Kamu pasti bisa. Perlahan pasti bisa. Jadilah apa yang kamu inginkan. Semoga gitar tua ayah ini akan dapat kembali membantu mewujudkan impian mu.”

Tangan ku bergetar menerima gitar yang ayah sodorkan padaku. Kembali aku pandangi wajah Ayahku yang teduh itu. Dan aku semakin merasa yakin bahwa ayah ku adalah ayah terhebat di dunia.

“Terima kasih Ayah!” Seru ku sembari berdiri dan memeluk ayah ku dengan erat. “Kau ajari aku hidup, Kau ajari aku cinta dan  Kau pun ajari aku tentang arti mimpi dan kerja keras. I Love You, Ayah.”

Advertisements

Mari Berbagi Pemikiran :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s