Time Machine

“Kau pikir mewujudkan apa yang kau bayangkan itu merupakan hal yang mudah? Itu tidaklah semudah untuk membalikkan telapak tangan. Apa kau mengerti itu?”

Aku tetap tak memperdulikan hal itu. Aku terus berlalu. Membawa gulungan-gulungan kertas dan juga sekotak kapur tulis dalam kotak berwarna kecoklatan.  Meninggalkan Alissa yang tegak berdiri memandangku dengan penuh tanda tanya kebingungan. Aku terus berjalan. Memasuki rumah kecil yang aku beri nama sebagai Laboratorium.

Aku meletakkan gulungan demi gulungan kertas putih itu ke atas meja kayu berwarna kecoklatan yang telah mulai mengelupas catnya. Aku membiarkan gulungan-gulungan kertas saling berserak memenuhi luasan meja yang tak seberapa itu. Sejenak aku terhenyak. Memandang ke arah sekitar ku. Aku perhatikan ruangan kecil yang begitu familiar dengan ku itu.

Papan tulis berwarna hijau memanjang bergelantung memenuhi dinding tembok ruangan itu. Meja panjang berwarna kecoklatan tepat berada di tengah ruangan. Alat-alat mekanik berjajar dengan sangat tidak rapi di atas meja. Bau debu kapur cukup menyelimuti ruangan kecil itu.

“Apa aku bisa? Benar kata Alissa. Bahwa itu sangatlah tidak mungkin. Tapi…,’ gumamku pada diri sendiri yang mulai menjadi meragu.

Sejenak aku mengela napas. Panjang. Dalam. Dan lama. Mencoba untuk meningkatkan kadar hormon serotonin dalam tubuh agar pikiran ku menjadi lebih jernih. Perlahan aku membuka mata. Kembali menatap sekelilingku. Dan ternyata tak ada satupun yang berubah. Semua masih tetap sama. Seperti semula.

Pandangan ku kini beralih pada papan tulis yang penuh dengan tulisan, simbol, rumus persamaan dan juga angka-angka perhitungan. Aku masih saja belum mengerti. Bagaimana perhitungan itu akan dapat kuselesaikan? Apa yang salah? Apa memang tidak mungkin untuk diselesaikan? Gumamku dalam pikiran. Aku mengeleng pelan.

Tok. Tok. Tok.

Aku segera beranjak menuju ke pintu ruangan. Mencoba mengintip dari lubang lensa kecil yang aku pasang pada pintu itu. Sejenak aku menatap lekat sosok di luar ruangan itu. Aku tidak mengenalnya. Bahkan sedikit pun aku tidak mengenali sosok itu.

“Mr. Nelson!” seru perempuan itu dengan nada yang sangat halus.

Perlahan aku membuka pintu tua itu. Kuperhatikan wajah perempuan itu dengan cukup seksama. Cantik. Itulah kesan pertama yang muncul dalam pikiranku. Ramah. Itulah hal kedua yang tertanam dalam benakku setelah menatap senyum perempuan itu.

“Lucia!” serunya sembari mengulurkan tangan kanannya yang disertai dengan senyuman dibibirnya yang berwarna kemarahan.

Aku menyambut tangannya untuk berjabat tangan. “Darimana Anda mengenal ku? Kurasa semenjak aku pindah ke tempat ini tak banyak yang mengenalku?”

“Aku cukup mengenalmu Mr.nelson. Bukankah kau juga seorang Ilmuwan yang sangat terobsesi dengan yang namanya Mesin Waktu? Lalu kau mengurung dirimu untuk dapat mewujudkan ambisimu itu?”

Aku semakin mengernyitkan dahi tanda tak mengerti. Mengapa ia begitu detil mengenalku. Semnatara aku tidak sedikitpun mengenalnya. dunia macam aoa ini? Apa ia adalah seorang agen mata-mata internasional yag telah lama memaata-mataiku sehinga ia begitu tau dengan seluk beluk aktivitas ku?

“Anda tak perlu bingung Mr. Nelson. Aku mengenalmu dan apa yang menjadi ambisimu. Kau mencoba menghitung kemungkinan untuk mendapatkan sebuah Lubang Cacing dalam Dunia Kuantum lalu kemudian mencoba menghitung probabilitas energi yang diperlukan untuk membangkitkan Lubang Cacing itu sehingga akan membawamu mengarungi waktu menjadi seorang Time Traveller bukan?”

Aku masih terpaku. Berdiri tegak memandang ke arah gadis itu. Bagaiman ia begitu detil mengetahui apa yang menjadi ambisi ku? Aku masih terperangkap dalam rasa bingung yang berkepanjangan.

“Mengapa Anda  begitu terobsesi dengan Mesin Waktu Professor nelson? Sejarah apa yang ingin Anda ubah dalam hidup Anda? Apakah mengganti bayang masa lalumu? Atau mengenai ketakutan akan masa depan Anda?”

“Apa semua pertanyaan itu harus aku jawab?”

“Anda tidak harus menjawab setiap pertanyaan yang saya ajukan prof. cukup anda resapi dan cermati saja.”

“Apa maksud mu?”

“Kurasa Anda lebih paham mengenai masalah itu Prof, Anda lebih mengerti masalah ilmu fisika ketimbang saya.”

Jawaban itu semakin membuat ku bertanya. Siapa sebenarnya perempuan muda dihadapan ku ini?

“Maaf Prof. saya tidak ingin menggangu pekerjaan penting Anda. Saya  hanya ingin menyampaikan ini,” katanya sembari menyerahkan sebuah kotak berwarna kecoklatan. “saya permisi. semoga berhasil dengan apa yang Anda cita-citakan.”

Perempuan itu pun berlalu. Aku masih memegang kotak berwarna kecoklatam itu dengan bingung. Apa yang harus aku lakukan dengan kotak asing ini? Kembali pandangan ku menelusri setiap inchi kotak itu. Kuperhatikan dengan seksama. Ukiran pada kotak itu terasa sangat asing bagiku. Aku sangat tidak mengenalnya. Tidak seperti Lukisan Mandala dari Tibet yang aku kenal. Tidak pula berasal dari tanah peradaban Persia ataupun bangsa Sumeria.

“Itu rupanya. Mengapa perhitungan ku tidak pernah selesai hingga saat ini, aku tahu letak kesalahan itu,” teriakku dengan penuh semangat. Aku pun kembali menghadapkan diri pada papan tulis berwana hijau itu. Menanggalkan kotak berwanra kecoklatan itu di atas meja. Kembali menuliskan persamaan dan angka angka perhitungan yang berjajar.

“Impossible!” seru ku sembari membanting sebatang kapur yang aku pegang. “Ini sangat tidak mungkin. Bagaiman bisa terjadi? Logika yang aku gunakan telah benar. Perhitungan ku pun aku yakin sudah benar. Tapi….”

Aku bersandar pada meja didepan ku. Pandangan ku masih menunduk. Sesaat aku memandangi hasil perhitungan yang telah aku lakukan. Mencermati setiap baris dan setiap langkah logika yang aku gunakan. Tapi aku tetap saja tidak dapat menunjukkan letak kesalahan pada runtutan perhitungan itu.

“Apa memang tidak mungkin?” Gumamku pada diri sendiri.

Aku berbalik. Kini menyandarkan punggungku ke meja itu. Tiba-tiba kotak itu kembali mengalihkan perhatian ku. Perlahan aku melangkah mendekati kotak berwarna kecoklatan dengan ukiran aneh itu.  Dengan hati-hati aku membuka kotak itu. Di dalam kotak berwarna kecoklatan itu aku mendapati sebuah gulungan kertas yang juga berwarna coklat keemasan.

Professor Nelson. Mungkin Anda akan sangat terkejut mendapati segulung kertas berisi tulisan dari ku ini. Aku tahu Kau tidak akan mengenalku. Aku pun yakin bahwa kau juga tidak akan mengenal tipe ukiran yang ada di kotak ini. Memang benar bahwa ukiran ini bukan berasal dari Tibet. Bukan pula berasal dari Persia ataupun Sumeria kuno. Kau tahu darimana ukiran bertipe seperti itu Professor? Masa Depan! Ya masa depan professor. Mungkin kau tidak akan percaya. Tapi aku berkata jujur.

Bila boleh aku katakan, sebenarnya kau tidak akan pernah berhasil untuk melakukan perjalanan waktu kemasa depan ataupun masa lalu. Dan itu akan terjadi sepanjang hidupmu. Kau tidak perlu ragu dengan apa yang aku katakan. Aku mengetahuinya Prof. Aku juga berasal dari masa depan. Aku adalah cicit mu dari genaerasi yang ketujuh. Aku kembali ke masa mu ini bukan dengan menggunakan mesin waktu yang kau temukan. Karena takdirmu adalah tidak menemukan Mesin Waktu ataupun menjadi seorang Time traveller. Akan ada orang lain suatu saat nanti yang akan melakukannya.

Hasil perhitungan mu yang berupa peluang negative itu tidak salah. Dan hasil itulah yang akan selalu kau dapatkan sepanjang perhitungan mu. Tidak akan pernah berubah. Akan selalu sama dari waktu ke waktu. Karena memang bukan takdirmu untuk melakukan perjalanan waktu. Terimalah itu sebagai takdir yang harus kau jalani. Karena keu punya takdir lain yang harus kau jalani Proff.

Pikirkan! Akan ada suatu saat nanti yang akan meneruskan apa yang telah kau lakukan. Akan ada suatu saat nanti yang akan melakukan perhitungan terhadap peluang untuk menemukan sebuah Lubang Cacing dalam Dunia Kuantm yang hasil perhitungannya tidak bernilai negative. Dan itu bukanlah dirimu. Satuhal yang perlu kau cermati. Meskipun kau tidak ditakdirkan untuk dapat melakukan perjalanan waktu, tapi tetaplah berusaha dan melakukan perhitungan demi perhitungan itu. Mungkin kau berpikir bahwa itu hanya akan membuang waktu. Tapi percayalah, tidak ada yang sia-sia di dunia ini. Jalani takdirmu dengan baik dan kau akan mendapatkan sesuatu yang setimpal dengan apa yang kau usahakan.

 

 

Desember, 2131

Lucia Puscua Nelson

 

 

 

 

Advertisements

Mari Berbagi Pemikiran :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s