Deep Heart

                Dan Aku terbangun. Tersadar dari semua belenggu yang memasung jiwa dan juga ragaku. Mataku terbuka. Namun aku masih tak dapat mengenali dimana kini aku. Aku tidak tahu. Aku tidak bisa mengingat. Memori dalam simpul-simpul saraf ku hilang sebagian. Menyisakan secercah ruang kosong diantara simpul-simpul saraf yang saling berpilin mengikuti keteraturannya sendiri. Mengikuti pola-pola geometris tertentu yang sulit untuk diungkap. Mungkin mengikuti geometri fractal, atau entahlah.

                Aku masih terdiam. Menyelam ke dalam samudra kebisuan. Tenggelam dalam atom-atom sejuta Tanya yang saling berkaitan antara satu dan lainya, membentuk sistem berupa dinding kebingungan. Ah dimana ini? Gumam ku pelan. Dunia ini benar-benar asing bagiku. Apakah aku masih di Bumi Khatulistiwa? Tapi kenapa reremputan tak lagi menghijau? Atau aku memang telah berpindah ke dunia lain? Tapi bagaimana mungkin aku berpindah ke dunia lain? Aku tidak memiliki pesawat antariksa seperti dalam serial Star Wars yang mampu melaju dengan kelajuan melampaui cahaya. Aku juga tidak punya pintu “Kemana Saja “ milik Doraemon yang bisa mengantarkan aku ke berbagai belahan dunia yang aku inginkan. Pikiran dan pertanyaan itu masih terus mengalir dalam otak kecil ini. Mengalir seperti air. Tanpa mengalami sedikit pun turbulensi ataupun Chaos.

                Sejenak aku menengadahkan pandangan ku ke atas. ”Woow,” aku berseru dengan tercengang. “ Sejak kapan langit di Bumi ku berubah menjadi merah seperti ini? Apakah Amerika sudah memborbardir Iran dan juga Korea Utara dengan nuklir-nuklir rahasianya sehingga paparan radiasinya menjadikan langit di Bumi tak lagi berwarna biru cerah?” Berbagai pertanyaan masih beredar dalam benak ku. Tiap-tiap pertanyaan seolah memiliki garis edar sendiri, layaknya electron-elektron yang beredar mengelilingi atom dalam garis edarnya sendiri-sendiri.

                “Jaqueen?”

                Aku pun menoleh kea rah suara tersebut. Sejenak aku perhatikan. Sesosok perempuan nan cantik jelita tengah berdiri tegak. Rambutnya yang panjang sebahu terurai, berkibar akibat sentuhan angin. Tatapan matanya tajam namun meneduhkan. Di tangannya aku melihat sebuah kotak berwarna biru, berukiran motif geometris fractal berwana keemasan.

                “Jaqueen?” Tanya perempuan itu sekali lagi dengan senyum ramah namun tegas.

                “Ya,” jawab ku singkat sembari terus memperhatikan kotak yang ia bawadi tangannya. “apa itu kotak Pandora dalam mitos dewa-dewi Yunani Kuno?” Aku menceletuk pelan.

                Gadis itu kembali tersenyum ramah. “bukan! Ini bukan kotak Pandora. Nanti kau juga akan mengetahuinya.”

                Gadis itu membalikan tubuhnya. Kini ia memunggungi ku. “ kau bisa memangil ku Corona Austrina”, kata Gadis itu sembari berjalan menjauh. Menuju ke sebuah batu berwarna kecoklatan yang tegak berdiri sekitar sepuluh meter di hadapanya.

                “Corona Austrina?” seru ku pelan. “Mahkota selatan? Kau seperti nama sebuah Rasi Bintang yang teramati dari Belahan Bumi Langit Selatan .”

                “Ya, seperti itulah”, jawab Corona sambil tersenyum. Ia pun kemudian duduk di atas bongkan batu berwarna kecoklatan itu. Ia memandang ke arah ku dengan tatapan ramah. “Kemarilah Jaqueen!”

                Aku menggeleng. Banyak hal yang rupanya belum aku sadari. Sejak kapan Ia mengenalku sebagai Jaqueen? Bukankan nama Jaqueen hanya aku, ibuku dan Tuhan yang tahu? Selebihnya tidak ada yang mengeahui rahasia nama itu. Aneh sekali.

                “Kau tidak perlu bingung Jaqueen!” seru gadis itu membuyarkan lamunan. Aku mengetahui semuanya tentang mu. Bahkan setiapa detil potongan dan guratan urat saraf di kepalamu aku pun tahu. Pola-pola geometris yang dibentuk oleh simpul dan percabangan neuron mu pun aku tahu.”

                Aku menjadi semakin bingung. Semakin tenggelam dalam samudra kebingungan. Berenang diantara milyaran pertanyaan yang tak aku dapati jawabannya. Dan akhirnya, untuk mengobati rasa bingungku akan semua ini, aku beranjak mendekati Corona. Aku berjalan pelan. Kaki dan tubuhku sedikit bergetar. Entah ini hanya perasaan ku saja atau memang benar bahwa gravitasi ditempat aku berdiri ini lebih besar daripada Bumi. Karena aku merasakan tulang-tulang ku tak kuat menopang berat badan ku ini. “Darimana Kau mengetahui segala hal tentang ku? Bahkan sampai ke bentuk dan pola geometris simpul dan percabangan saraf-saraf ku? Apa kau adalah Tuhan?”

                Aku semakin mendekat dengan Corona. Kini aku dan Corona hanya terpaut dua jengkal saja. Aku dapat dengan jelas melihat wajahnya. Mengamati setiap guratan di lesung pipinya. Juga dapat semakin melihat tatapan matanya yang tajam dan meneduhkan. Sekilas aku melihat kea rah dahinya. Bentuk dahinya tidaklah biasa. Ia memiliki dahi yang sedikit lebih lebar daripada wanita biasanya. Samar-samar Nampak terlihat guratan kerut tergambar didahinya itu. Ah Aku kira dia bukanlah Gadis biasa. Dia pasti memiliki otak yang encer. Dan mungkin malah jauh lebih encer daripada otaknya sang Great Teacher fisika, si Albert Einstein. Buktinya dia mengenalku, bahkan sampai ke bentuk dan pola geometris dari setiap simpul dan cabang dari saraf ku. Lain halnya dengan ‘gila’ Einstein. Jangankan mengenali pola geometris sarafku. Tahu nama ku pun tidak.

                “Hei, kenapa kau melamun saja?”

                “hah!” seruku dengan nada kaget, tercengang yang bercampur menjadi satu seperti reaksi fusi antara dua buah atom hydrogen dalam kungkungan inersial laser berenergi tinggi.

                “kemarilah! Mendekatlah dengan ku. Apakah kmu tidak ingin mengetahui apa yang ada di dalam kotak ini?” Tanyanya sembari menunjuk ke arah kotak berukiran geometris itu.

                Perlahan aku semakin mendekati Corona. Rasa ingin tahu yang bersemayam dalam benak ku, mulai menarik ku untuk mendekati kotak itu. “Kotak apa ini? “ Tanya ku pelan.

                Corona tersenyum tipis. Lesung pipinya semakin jelas tergurat dalam bingkai senyuman itu. “ini adalah Deep Heart…”

                “Deep Heart?” selaku cepat.

                Ia hanya mengagguk. Tanpa memberikan sepatah kata pun untuk memuaskan dahaga rasa ingin tahu ku. “Apa itu Deep Heart?” Tanya ku yang semakin merasa kebingungan.

                Corona sejenak menghela napas. Panjang. Dan dalam. Memenuhi rongga-rongga parunya dengan udara. Menggelembungkan setiap alveolusnya dengan gelembung-gelembung oksigen. “Deep Heart adalah sebuah harta karun bagi manusia. Dan semua orang memilikinya. Namun mereka tidak menyadarinya….”

                “Lalu dimana Deep Heart ku?” Aku menyela omongan Corona.

                Dia hanya tersenyum. Kini matanya beralih memandang ke Kotak Berwarna Biru berukiran Pola Geometris  yang rumit, serumit Himpunan Mandelbrot. Ia mengangkat Kotak itu sedikit lebih tinggi kemudian berkata, “inilah Deep Heart mu Jaqueen!”

                Aku terbelalak. Sinar mataku memancar dengan Luminositas negatif. Sehingga Nampak terang melebihi teranganya Matahari. “That’s Impossible!” Seru ku. “ Kau tidak bisa menggengam Deep Heart ku. Darimana kau bisa melakukanya? Apa kau seorang pesulap yang bisa mengambil apapun dari orang lain dan menempatkanya di tangan mu?”

                “Tentu saja Aku bisa. Jangan kan hanya mengambil Deep Heart mu, mengenali setiap pola simpul dan percabangan geometris setiap urat saraf mu pun aku mampu!”

                Aku semakin tidak paham dengan apa yang terjadi. Bagiki ini semua seperti mimpi. Semua ini hanya ilusi. Bagaimana mungkin di dunia ini ada kotak Deep Heart? Bagaiman mungkin seseorang dapat mengetahui setiap simpul dan pola geometris percabangan urat saraf dari manusia yang lainya padahal Dia bukanlah Tuhan? Apakah dunia sudah berubah? Apakah otak manusia telah mengalami evolusi yang sedemikian cepat dan sedemikian dahsyat sehingga dapat mengenali setiap simpul dan pola percabangan dari setiap urat saraf manusia yang lainnya dengan tanpa harus membongkar otak manusia yang lain itu? Bukankah setiap manusia memiliki pola dan bentuk geometris percabangan urat saraf yang unik? Tidak sama antara satu manusia dengan manusia lainya? Ah entahlah. Semakin aku berpikir, semakin aku tenggelam dalam palung ketidakpahaman.

                “Kau tidak perlu bingung,” kata Corona membuyarkan lamunan ku. “Aku mendapatkan deep heart mu ini, karena kau sendiri lah yang telah mencampakkanya. Mengacuhkan dan  bahkan membuang apa yang sangat berharga ini.”

                Aku semakin bingung dengan perkataan itu. Membuang? Mencampakkan? Bagaimana aku membuangnya? Aku tidak pernah melihat kotak itu sebelumnya, jadi mana mungkin aku membuangnya. Ah apakah gadis cantik ini masih waras? Atau memang aku yang udah menjadi gila?

                “Lihatlah ini!” seru gadis itu sembari membuka Kotak Berwarna Biru itu.

                Aku pun melongok ke dalam kotak aneh itu. Aku semakin bingung dan juga tecengang. Aku benar-benar tidak percaya. Aku melihat diriku dan juga kehidupan ku di dalam kotak yang disebut Corona Austrina sebagai ‘Deep Heart’ itu. Kotak itu seperti rekaman rol film yang memutar film kehidupan ku. Aku melihat semua kehidupan ku selama ini. Aku melihat segalanya, peristiwa demi peristiwa. Kesedihan. Kesenangan. Kebimbangan dan lainnya beredar mengelilingi sebuah Bola berwarna biru di dalam Kotak itu. “Apakah semua kehidupan ku telah tercatat dalam kotak ini?”

                “Tentu saja. Lihat itu, bukankah itu masa kecilmu. Dan lihat itu, bukankah itu dirimu yang sekarang?”

                Aku semakin terpana. Bagaiman kotak kecil ini mampu menyimpan segala bentuk rekaman kehidupan ku?

                “Ini adalah Kotak Deep Heart mu. Maka kau lah yang berhak untuk menyimpannya. Jagalah Deep Heart mu ini, maka engkau tidak akan lagi menjadi seorang robot. Jika engkau senantiasa mengabaika Deep Heart ini, selama itulah Engkau kan menjadi Robot.”

                “Hah…”

                “Tak perlu kau banyak Tanya. Sekarang pergilah. Kembali ke Dunia mu yang biru. Bawa serta Deep Heart mu ini!”

                “Bagaiman Aku akan kembali? Aku tidak tahu sekarang aku dimana?”

                “Jaqueen, Kau tak perlu khawatir. Deep Heart mu akan senantiasa menuntun mu untuk kembali ke Dunia mu. Kau lihat bola berwarna biru di kotak itu? Sentuhlah bola itu. Maka Deep Heart mu ini akan membawa mu kembali ke Dunia mu.”

                “Kau pikir ini akan berhasil? Aku akan kembali setelah menyentuh bola berwarna biru itu?”

                “Tentu saja!” seru Corona. “Dunia mu dan juga Dunia Deep Heart adalah dua buah dunia parallel yang terhubung secara kuantum dengan Lubang Cacing. Kau bisa kembali dengan sekejap…”

                “Maksud mu aku akan melewati Lorong Kuantum yang berukuran sepersatu triyun meter agar aku sampai ke Dunia ku?”

                Corona hanya mengangguk pelan sembari tersenyum.

                “Ah lelucon macam apa ini? Bagaimana tubuh ku yang bertinggi 1,75 meter ini bisa masuk kedalam Lorong Kuantum yang seperti itu? Itu sangat tidak mungkin dilakukan. Kemungkinannya adalah nol atau bahkan negatif.”

                “Bukankan tidak ada yang tidak mungkin dalam dunia kuantum? Bahkan sebuah partikel pun dapat menembus potensial halang yang sehingga dapat melakukan peluruhan?”

                “tapi….”

                “cobalah!”

                Aku pun mencoba. Perlahan ke masukkan jari telunjuk ku ke dalam kotak itu. Perlahan ku gerakkan mendekati bola berwarna biru itu. Semakin dekat. Semakin dekat dan semakin dekat. Hingga akhirnya aku menyentuhnya. Tiba-tiba dunia serasa berputar. Aku melihat lorong-lorong terbuka di hadapan ku. Aku tak tahu ujungnya dimana. Perlahan demi perlahan, tarikan medan gravitasi dari lorong misterius itu menarik ku. Menarik dengan kuat hingga aku terjatuh kedalamnya dengan tak sadarkan diri.

                Aku terbangun. Di atas sebuah kasur kusut dan kumal yang tidak lagi empuk. Sorot mentari menerpaku. Memberi secercah kehangatan. Apakah Cuma mimpi saja? Mimpi yang sangat aneh. Apakah itu Deep Heart memang ada? Apakah hipotesis Dunia parallel itu memang terbuktu nyata? Apakah lorong Kuantum itu akan benar-benar menjadi nyata? Ah entahlah.

                Perlahan aku mulan beranjak. Namun ada sesuatu yang menarik perhatian ku. Tergeletak tak jauh di samping ku. Di atas kasur kumal tak jauh dari tempat ku sekarang. Aku terbelalk. Sebuah kotak berwarna biru dengan ukiran berbentuk pola geometris yang sangat rumit. “Deep Heart?” Gumamku setengah tak percaya.

                Apakah ini benar nyata? Apa deep heart benar nyata? Apa selama ini aku tidak melihatnya? Apakah aku memang telah banyak bertingkah layaknya robot karena mengabaikan Deep Heart.

                Aku ambil kotak itu. Perlahan ku beranikan membuka kotak itu. Kini aku tak lagi melihat bola biru atau rangkaian kejadian dalam hidupku. Aku hanya melihat ukiran yang terangkai membentuk sebuah tulisan dalam setiap sisi dinding kotak itu. DEEP HEART ADALAH KUNCI SEGALANYA. KUNCI KEBEBASAN DAN KEMERDEKAAN SETIAP MANUSIA. JANGAN PERNAH ACUHKAN KOTAK PANDORA DALAM DIRIMU, DEEP HEART.

 

Advertisements
Categories:

Mari Berbagi Pemikiran :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s